Saat Mojok perlu menurunkan lima artikel beruntun mengenai siapa paling lucu dan nggak lucu di antara NU-MU di minggu-minggu terakhir menjelang kukutnya situs fenomenal ini, saya yakin debat panjang itu pertanda akan datangnya persatuan NU-MU yang melampaui semangat zaman. Faktanya, dugaan saya benar. Sebagai seorang junior, saya merasa perlu mempuk-puk Mas Iqbal dan Cak Mahfud karena tulisan gayeng mereka mengenai kedua ormas di atas sudah basi!

Terlebih, saya teringat Cak Mahfud pernah menulis novel yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 dengan latar belakang semangat persatuan NU-MU dalam cinta kasih. Halaman persembahan novel Kambing dan Hujan tersebut berbunyi:

“Untuk para orangtua, orang-orang tua, dan orang-orang yang ceritanya aku curi dan kacaukan ….”

Tentu, Cak Mahfud berhasil mengacaukan cerita yang ia curi dengan selera humornya yang terkadang njelehi (saya susah mendeskripsikan njelehi alias menyebalkan dalam konteks ini, kalian harus ngobrol langsung sama orangnya). Beberapa kali saya terkikik membaca kisah cinta Mif dan Fauzia yang merupakan dua anak tokoh NU-MU yang mengalami perang dingin berkepanjangan di Kampung Centong.

Tapi, setelah saya dapat suatu kabar viral di medsos, Mif dan Fauzia terasa jauh tertinggal dari kebaruan romansa khas milenial. Membaca Kambing dan Hujan bagaikan membaca Sitti Nurbaya. Makhfud Ikhwan bagaikan Marah Roesli. Sayembara Novel DKJ 2014 bagaikan dewan syura yang melahirkan kitab klasik.

Sebab, ada kisah romansa NU-MU yang sekarang lebih kekinian dan ndak ndeso, yakni kisah yang dialami oleh Dedek Selmadena dan Mamas Haqy. Dek Selma seorang gadis rupawan yang cerdas. Selain parasnya yang subhanallah kiyut, rambut panjangnya yang tergerai mirip kualitas rambut Nia Ramadhani. Dedek Selma tahun lalu menerima lamaran Mas Haqy, putra cendekiawan besar Muhammadiyah Amien Rais. Wanita bening yang aktif merintis karir di dunia public speaking dan menjadi duta pariwisata Yogyakarta ini kuliah di Fakultas Hukum. Dengan semangat membangun rumah tangga samara, ia bersedia nikah siri terlebih dahulu dan Maret ini diresmikan dengan pesta pernikahan ala-ala Walt Disney.

Baca juga:  Cinta dalam Semangkuk Bakso

Di akun IG Dek Selma yang mengandung estetika surgawi terdapat salah satu kepsyen begini (saya sengaja curi agar dibaca senior saya yang semoga terinspirasi untuk segera menulis sekuel Kambing dan Hujan daripada menjadi utopis berusaha melawan dunia bersama film india):

“Pernikahan NU dan Muhammadiyah

“… Saya merupakan cucu pertama dari K.H. Saiful Mujab, dulu beliau merupakan anggota MPR-RI, politikus Golkar dan PPP, Ketua PWNU, pemuka agama dan pengusaha. Kakek saya, di video ini duduk di atas kursi roda di belakang saksi, terkenal NU ‘banget’.

“Sedangkan mertua saya, yang seumuran dengan kakek saya, siapa sih yang tidak kenal dengan sosok mengagumkan ini? Ya, Prof. HM Amien Rais, merupakan tokoh utama di Muhammadiyah (plus titel lainnya).

“Dulu, orang tua saya pernah bilang: ‘Mbak, kamu kalau punya suami harus yang sholat subuh pakai doa qunut ya. Mbak, kalau punya suami harus 23 rakaat ya tarawihnya…

“Hingga suatu hari, Kun Fa Ya Kun.. terjadilah kejadian akad nikah ini. Dengan saksi nikah bapak Zulkifli Hasan dan Sholahudin Wahid (adik Gus Dur) dan khutbah nikah yang diisi oleh KH Malik Madaniy dari Pondok Pesantren NU di Krapyak, Jogja.

“Unik kan? Ternyata NU dan Muhammadiyah bisa bersatu kan?”

Keunikan kisah Dedek Selma ini membuyarkan segala kelucuan yang susah payah dibingkai redaksi Mojok dan para kontributor. Karena sesungguhnya, di zaman seperti ini ada jenis kelucuan yang unik, yakni lucu karena susah dicerna akal. Saking susahnya dinalar, jadi lucu deh. Romansa Dek Selma dan Mas Haqy viral bukan karena semangat media menyambut persatuan NU-MU (karena memang tidak ada konflik keluarga yang nostalgis ala Mif-Fauzia di dalamnya), tapi terlebih karena …

Baca juga:  Indonesia, Surganya Bakul Hijab

… Dedek Selma punya pacar …

… yang ndilalah LDR, pacarnya masih sekolah di Akpol. Lalu Dek Selma nggak sengaja ketemu sama Mas Haqy di jalan raya. Terus mereka ada syuting buat acara TV. Trus Mas Haqy PDKT, gercep gitu deh, bawain piza, ngajak ngopi, telepon-telepon, terus bilang, “Mau nggak dilamar?”

Dek Selma yang masih cinta dengan Mas Patjar jadi galau. Ini ujian yang berat bagi siapa pun untuk memilih. Tapi karena Dedek Selma target nikahnya udah dekat, Mas Haqy-nya juga langsung nantang bawa orang tua buat lamaran, yah … gimana ya, perempuan itu REALISTIS, lelaki sejati itu ya beri KEPASTIAN. Akhirnya Dek Selma jujur, mutusin pacar karena sudah dilamar orang. Lebih lengkapnya Dek Selma jelasin di beberapa kepsyen IG, tidak dengan maksud riya lho, tapi karena membawa misi agar bisa menginspirasi.

Terlepas dari kelucuan NU-MU yang tidak lagi lucu ini, saya renungkan bahwasanya romansa Dek Selma dan Mas Haqy melampaui semangat zaman. Karena siapa yang tak semringah keturunan tokoh NU dan MU bersatu dan melahirkan generasi hibrid Islam tradisional-modern? Siapa ukhti dan akhi yang tak termotivasi dengan jiwa radikal Mas Haqy dalam berhubungan di jalan yang halal? Siapa kaum liberal yang tak bahagia melihat Dek Selma otonomnya selevel dengan Puteri Ameera Arab Saudi yang modis tanpa hijab? Semua kubu terwadahi dalam simbol cinta dua anak manusia.

Dan … mmm, halo Mas Mantan! Sejatinya sampean adalah pahlawan yang gugur di medan perang demi tegaknya ukhuwah islamiyah.

Tabique!

N.B.: Tayangnya tulisan ini bersamaan dengan datangnya berita bahwa mantan ketua PBNU K.H. Hasyim Muzadi telah berpulang ke rahmatullah pagi ini, pukul 06.15. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (Redaksi)

Komentar
Kirim Artikel
No more articles