• 695
    Shares

MOJOK.CO – Viral video bakar isi Luwak White Koffie apinya bisa nyala, lalu dituduh kopinya mengandung mesiu. Ini pabrik kopi goblok mana yang jualan mesiu beli dua gratis satu?

Susah betul jadi rakyat Indonesia. Sudahlah sebagian politisinya kebanyakan ngomong daripada kerja, sebagian rakyatnya juga hobi mengumbar kelakuan yang mengindikasikan kalau program Wajib Belajar 12 Tahun ternyata gagal.

Yang terbaru, kita diperlihatkan serangkaian video yang memperlihatkan kelakuan orang-orang dengan kepintaran menembus Mars. Dalam video tersebut terlihat seseorang menyalakan korek, kemudian menuang sebungkus kopi sachet bermerek Luwak White Koffie lalu tiba-tiba api menyulut membesar membakar butiran kopi yang jatuh.

Kesimpulan yang lahir lantas bermacam-macam. Mulai dari Luwak White Koffie itu isinya mengandung gas, mengandung bahan berbahaya, mengandung kotoran luwak, sampai mengandung mesiu.

Ya. Mesiu. Me-si-u. Hedeh.

Emang pabrik kopi kurang kerjaan mana yang iseng naruh mesiu pada kopi sachet yang penjualannya didiskon mati-matian dengan beli dua gratis satu? Di toko daring, bubuk mesiu itu dijual Rp65.000 per 90 gram alias lebih dari Rp700 per gramnya. Sedangkan harga satu bungkus Luwak White Koffie satu sachet berapa coba? Buat ongkos modal juga nggak nutup itu. Kalau niatnya emang mau jualan mesiu ya mending dijual saja ke Kim Jong Un sana.

Saya memahami bahwa begitu banyaknya video soal terbakarnya isi Luwak White Koffie itu juga tidak lepas dari perekonomian rakyat. Ya sebagian di antara akun-akun yang menuai view dari video-video kurang akal itu saya temui pula di grup-grup Adsense. Orang-orang yang berpikir hanya menuai klik dan kemudian dolar, tanpa berpikir bahwa yang disebarkannya jelas-jelas tidak mencerdaskan bangsa dan berarti mereka nggak ada malu-malunya pada para pendiri bangsa.

Kasus ini mirip dengan kejadian 2,5 tahun silam saat ramai video biskuit mudah terbakar. BPOM, regulator produk obat dan makanan di Indonesia, telah mengeluarkan rilis bahwa produk pangan yang mengandung lemak/minyak dengan kadar air rendah, terutama yang berbentuk tipis atau berpori seperti kerupuk, krekers, serbuk, dan makanan ringan lainnya memang dapat terbakar atau menyala jika disulut dengan api.

Baca juga:  Perbandingan Standar Gaji 8 Juta Lulusan UI dengan Standar Hidup Mahasiswa UI Negeri

Gaes, itu rambut di sekitar kelamin juga kalau dikasih api ya terbakar juga, lho. Lantas apakah kita bisa menyimpulkan rambut yang itu mengandung bubuk mesiu juga? Buset dah.

Jadi begini. Dalam teori pemadaman kebakaran yang dipelajari oleh penanggung jawab keselamatan kerja disebutkan bahwa api itu hanya akan terbentuk jika ada tiga unsur: pengoksidasi—sederhananya sebut saja oksigen, bahan bakar, dan panas. Silakan sulut api ke bensin dalam ruang hampa udara, nggak akan ada api juga.

Atau misalnya kamu mendapati pacarmu ciuman klomoh sama teman akrabmu sendiri. Panas? Jelas. Bernapas lebih kencang karena emosi sehingga oksigen yang terambil lebih banyak? Jelas juga. Kok nggak terjadi kebakaran? Jawabnya: bahan bakarnya nggak ada.

Paling jelas adalah praktik segitiga api yang selalu dibawakan para pemadam ketika mengajarkan teori pemadaman. Mulut tangki bensin pada sepeda motor itu mereka sulut dengan korek api. Api menyala sejenak, namun kemudian mereka menutup mulut tangki dengan tangannya dan seketika api padam. Ya, mereka telah menghilangkan oksigen sebagai salah satu bagian dari segitiga api.

Dalam kasus Luwak White Koffie yang menyala itu, sesungguhnya bahan baku serbuk tersebut yang menyebabkan ada pembesaran nyala api. Bahan baku utama yang mengambil peran sebagai bahan bakar tentu saja krimer nabati.

Pada tahun 2016, seorang komika, Irvan Karta, dalam kapasitasnya sebagai akademisi, pernah membuat video dalam seri Kimiasutra yang intinya adalah sebuah jenis serbuk dari bahan alam yang kering jika dipaparkan pada api akan menyala juga.

Video tersebut untuk menyikapi pemberitaan soal krimer yang menyala saat dibakar. Artinya lagi, sebenarnya isu semacam ini sudah pernah terjadi 2 tahun lalu. Kalau sekarang masih heboh lagi, itu artinya kurang belajar, mudah lupa, mudah memaafkan, atau apa?

Lebih miris lagi ketika orang-orang tampak begitu bahagia kala sudah merekam video macam itu. Bapak-bapak dengan kecerdasan melebihi Einstein bernama Syahroni pernah melakukan hal yang mirip dalam kasus telur palsu. Sudahlah presentasi tentang telur bagus yang dia dakwa sebagai telur palsu di tengah pasar, bawa-bawa asing-aseng, eh tidak lama kemudian muncul ke publik dengan permintaan maaf dan mengaku kurang ilmu.

Baca juga:  Sekali Lagi, Susi Pudjiastuti

Ya sebenarnya sih yang dilakukan Syahroni masih lebih ksatria daripada orang-orang yang bikin video soal Luwak White Koffie mudah terbakar—yang sampai sekarang nggak ada satu biji pun yang nongol ke publik buat menjelaskan kelakuan konyol mereka.

Sudah cukup lama saya menggeluti isu obat dan makanan sebagai bahan tulisan. Uniknya isu ini adalah sebuah hoax bisa muncul secara periodik dan pada setiap periodenya menimbulkan kehebohan yang cukup masif.

Hoax-hoax seperti telur palsu atau 10 daftar obat yang dilarang beredar adalah beberapa di antaranya. Isu PKI masih mendingan karena memang secara sejarah sampai kini masih bisa terus didiskusikan. Sedangkan isu obat dan makanan itu sudah jelas betul faktanya. Sudah berkali-kali diklarifikasi, kok ya hebohnya terus-terusan?

Kalau begini ceritanya, kan saya jadi bisa nulis berkali-kali di Mojok untuk kemudian berkali-kali juga dikasih honor—bijimana, sih?

Sekali lagi, produk pangan yang punya rantai karbon (ikatan antar atom karbon) serta juga mengandung lemak atau minyak dengan kadar air rendah, terutama yang bentuknya tipis dan berpori, seperti kerupuk, krekers, serbuk, dan makanan ringan lainnya pasti akan terbakar/menyala jika disulut api.

Bahkan sebenarnya, kalau otak diambil lalu dikeringkan kemudian disodori api, ya bakal kebakar juga. Daripada begitu, akan lebih baik kiranya jika otak digunakan untuk berpikir sebelum merekam kelakuan yang pada akhirnya bikin malu sendiri. Seperti kata Konfucius, filsuf asal negeri Tiongkok: belajar tanpa berpikir adalah sia-sia, berpikir tanpa belajar berbahaya.

Lagian ya, namanya kopi itu dinikmatinya dengan diseduh, bukan dibakar. Kalau yang dibakar itu bukan ngopi, tapi rokok. Gitu aja kok repot?

  • 695
    Shares


Loading...



No more articles