Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Alexis dalam Perspektif Cinta Diam-Diam

Alexander Arie oleh Alexander Arie
17 Januari 2017
A A
Alexis dalam Perspektif Cinta Diam-Diam

Alexis dalam Perspektif Cinta Diam-Diam

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jumat malam, dalam pagelaran lokal yang secara keji menjelma menjadi isu nasional, khalayak ramai dikenalkan dengan sebuah istilah yang menjadi urban legend ibukota: Alexis. Seketika nama legendaris itu terangkat lagi, semakin menghangat kala ditambahi embel-embel PKI dalam koridor cocoklogi nasional.

Ngomong-ngomong dalam rangka menjaga masa depan bangsa, saya langsung bertanya kepada adik saya yang adalah mahasiswa di Jogja. Ini penting, karena Alexis itu terletak di Jakarta, semestinya mahasiswa di Kota Pelajar yang ora didol itu tidak mengetahuinya.

Rupanya tidak. Adik saya yang jomblo itu tahu tentang Alexis, dan tanpa diduga dia mengenal urban legend itu dari lawakan seorang komika yang secara terbuka dan terang benderang terafiliasi dengan orang yang mengenalkan Alexis secara terbuka kepada masyarakat Indonesia.

Perihal adik saya mengenal Alexis sungguh saya kaget. Ah, rupanya hegemoni tempat itu telah melintas Selat Sunda, jalur Pantura, Tol Cipali, hingga Selat Karimata. Walau begitu, sejatinya saya tiada heran jika yang memperkenalkan Alexis adalah mantan pejabat tingkat nasional. Bagaimanapun, bangunan hitam bernuansa oranye dan kuning itu begitu dekat dan begitu nyata dalam perjalanan dari dan ke bandara Soekarno-Hatta.

Mengingat perjalanan dinas adalah bagian integral birokrasi, saya meyakini bahwa level pejabat hingga tataran tukang fotokopi dan antar surat belaka yang berkutat di Kementerian/Lembaga pasti pernah melihat megahnya gedung Alexis. Kalaulah ingin membebaskan mata dari kemegahan gedung hitam ini, rute via Gambir dapat dipilih. Kalau perlu sekalian sambil rapat dan diakhiri plesir ke Angkringan Mojok. Ciamik, toh?

Mencermati Alexis sesungguhnya tidak perlu ilmu yang terlalu tinggi. Khalayak cukup meresapi tragedi cinta diam-diam untuk mengeksplorasi fenomena Alexis. Ilmu ini berlaku pada penganut bumi datar dan bumi bulat.

Pencinta diam-diam dengan mudah dideteksi oleh hati masing-masing dengan indikator yang teramat jelas, yakni mencinta sepenuh hati dan diam juga dengan sepenuh jiwa. Cinta yang tidak diikuti tindakan ini bisa terjadi karena yang dicintai adalah emak orang atau anak orang, maupun sekadar ketidakmampuan untuk mendekati karena terlalu miskin atau terlalu jelek.

Tenang, itu tadi saya sedang menista diri sendiri, karena saya pernah tenggelam menjadi pencinta diam-diam nan paripurna semata-mata karena kegantengan saya setara dengan paras mantannya sang gebetan, sesudah diulek tujuh hari tujuh malam.

Pencinta diam-diam adalah ciptaan Tuhan yang mempunyai perencanaan, eh, fantasi yang begitu lengkap dan menyeluruh. Penganut paham tersebut punya imajinasi yang sungguh-sungguh nyata terkait makan malam bersama, nonton film bersama, bertukar pikiran, hingga bertukar keringat dan liur. Komplit dan sepenuhnya dalam angan. Fantasi dibentuk sembari terlelap di kamar kos, terkadang sembari ngebul sejenak dan diakhiri dengan menyantap semangkok indomie rebus yang dimasak sendirian.

Kalau ingin diperas lagi, para pencinta diam-diam itu sebenarnya terlalu banyak berkhayal. Sebuah hal yang sebenarnya tidak ada lantas menjelma jadi liar melebihi tindak tanduk kucing kebelet kawin. Maka jangan salahkan jika ada manusia di dunia ini yang tidak pernah melihat gedung Alexis sama sekali namun begitu mudah menemukan simbol PKI pada ornamen gedung Alexis. Dan sebagai bagian dari pemikiran yang kadung liar, maka buah pikiran para pencinta diam-diam juga bergulir sedemikian bubrah. Tidak heran jika kemudian satu orang menemukan simbol PKI yang tersembunyi, maka manusia lain dengan kecerdasan super bisa menemukan aneka makna lain yang tersirat, seperti “skripsi”, “revisi”, “om telolet om”, hingga “sedot WC”.

Suatu kali ketika masih mencoba mendalami makna cinta diam-diam, saya bisa-bisanya patah hati ketika menerima SMS balasan dari sang gebetan dengan nomor handphone yang hanya berbeda satu angka di belakang dengan nomor dia. Anak kekinian mungkin kurang paham, namun pada zaman dahulu adalah hal lumrah jika dua orang yang berkasih-kasihan dalam hubungan percintaan memiliki nomor handphone yang urut. Keuntungannya, selain memperlihatkan romantisme, juga untuk pengiritan dalam ber-SMS-an untuk mengirimkan rayuan gombal karena kesamaan provider. Jadi orang dulu itu susah, mau mbribik saja butuh 350 rupiah, itupun hanya untuk 160 karakter.

Sudahlah zaman sekarang begitu dipermudah oleh WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Instagram, kok ya hari gini masih saja ada jomblo di muka bumi? Sungguh, saya prihatin.

Oke, kembali ke urusan cinta diam-diam, rupanya patah hati saya tidak beralasan karena setelah diselidiki nomor itu adalah nomor mbok-nya. Namun saya sempat guling-guling dan mogok makan kala itu, namanya juga combo antara patah hati dan sedang kere.

Maka tampaklah bahwa pencinta diam-diam itu punya kecenderungan lain yakni terlalu curiga, bahkan pada hal yang sebenarnya tidak perlu dicurigai. Mengaitkan Alexis dengan macam-macam konspirasi mungkin adalah contohnya. Melihat foto gubernur sang duta air mata ibu kota dicium Miley Cyrus dan Megan Fox sekaligus langsung curiga. Pilihannya hanya dua, curiga dan lantas benci, atau memang saking pekok-nya sampai-sampai Miley Cyrus saja tiada kenal.

Iklan

Duh, dek.

Dalam urusan cinta diam-diam, sesungguhnya banyak yang melakukan hal gila tetapi tidak mengena, ibarat sekadar retorika tanpa makna. Sebut saja memberi bunga secara anonim dengan menaruh di depan kos-kosan yang kemudian hanya berakhir menjadi keset kucing hingga mengirimkan buku kesukaan gebetan secara anonim pula.  Mau sampai nenek berubah menjadi muda kembali, namanya anonim tidak akan menjadi perwujudan langkah dalam mencintai.

Begitulah, hal paling mendasar dari penganut aliran cinta diam-diam sejatinya adalah terlalu takut untuk bertindak. Maka, wajar kiranya jika dalam urusan share meme Alexis, rekan-rekan saya yang beberapa kali menghabiskan uang di tempat tersebut tenang-tenang saja di linimasa. Mereka sudah berada dalam tataran lanjutan, bertindak.

Dalam kehidupan mereka, Alexis tidak lagi diimajinasikan, tetapi didatangi. Alexis tidak lagi dicurigai ini-itu-anu karena toh telah melihat muatan yang terkandung di dalamnya. Kalangan dengan lakon serupa pencinta diam-diam tentunya samar-samar jika diperdengarkan istilah FJ, BJ, FR, DC, hingga GFE. Begitulah, ketidakberanian untuk bertindak kadang menjebak orang untuk benci begitu saja berdasar imajinasi dan kecurigaan. Maka tidak heran sudah terbukti begitu banyak kebencian berlebihan di negeri ini dan hal itupun sebagian didasarkan pada imajinasi dan kecurigaan belaka.

Jadi, wahai para jomblo karatan yang penuh curiga, kalau memang kalian terlalu berimajinasi pada Alexis, daripada ngomyang sebaiknya datangi saja. Enyahkan mentalitas cinta diam-diam yang tidak membangun itu. Cocokkan imajinasi dan kecurigaan itu dengan realita.

Namun saya sarankan sebelumnya cocokkan terlebih dahulu isi kantong dan jangan sekali-kali mengajak saya.  Lha wong guling saja saya masih kredit.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2021 oleh

Tags: ahokalexisfeaturedFPIkhayalanlogo PKImiley cyruspilkada jakartaPKI
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah
Video

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah MOJOK.CO
Esai

Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah

30 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.