MOJOK.CO Orang yang fast respons balas chat selalu kena stigma negatif. Mulai dari gabut keseringan pegang hp sampai dibilang terlalu ngebet. Ngawur ah!

Secara logika, orang yang kalau dichat balasnya lama itu menjengkelkan. Bikin kita kepikiran dan lama-lama nggak tahan buat ngebom chat atau miscall sampai dibalas. Lha gimana, ditungguin kok malah mengilang.

Banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang jadi slow respons. Pertama, dia mungkin tipe orang sibuk yang nggak sempat buka WhatsApp atau pegang ponsel seharian. Orang demikian perlu kita maklumi. Kecuali di saat-saat genting, kita mungkin perlu meneleponna agar cepat tersambung.

Kedua, dia mungkin malas dan nggak pengin dihubungi dulu. Biasanya penyakit-penyakit ini muncul pas pandemi nih. Jadi mager buat berkontak dengan orang lain saking depresifnya keadaan. Menjengkelkan memang, tapi mau gimana lagi. Nah, tipe ketiga ini yang paling ngehek. Sengaja slow respons karena gengsi kalau balas pesan terlalu cepat. Takut dikira ngebet banget. Hadeeeh, hidup kok dibuat rumit.

Sebelumnya saya benar-benar nggak peduli dengan budaya fast respons atau slow respons karena gengsi. Sampai teman saya tiba-tiba kasih nasihat waktu saya lagi PDKT sama gebetan.

“Trik pertama kalau chat-chatan, kamu harus bikin dia menunggu balasanmu.”
“Hah, trus ngaruhnya apa?”
“Ya biar kelihatan dia yang paling ngebet lah….”

Beneran, saya nggak kepikiran sampai sana. Antaara teman saya yang revolusioner, atau memang gengsinya yang terlalu besar. Saya sendiri kalau emang ngebet ya ngebet aja. Kalau ditanya suka atau nggak ya saya jawab suka. Sejak kapan sih segala sesuatu jadi super ribet begini.

Baca juga:  Trik Pancingan agar Chat WhatsApp Cepat Dibalas

Kepada kawan-kawan yang biasa chat sama saya, kalau saya balas cepat ya emang saya lagi pengin balas cepat. Kalau saya balasnya lama berarti saya nggak pegang ponsel. Udah gitu aja. Masalah mau dibilang terlalu fast respons dan ketahuan hapean terus sih saya nggak peduli. Meski ternyata nggak semua orang punya pemikiran sesimpel ini. Banyak kaum-kaum fast respons yang merasa terhina.

Beberapa orang merasa tertekan hanya karena mereka fast respons. Istilahnya berasa murah banget gitu ya, Wak…. Padahal jadi orang fast respons itu nggak hina kok.

Orang yang mau balas pesan dengan cepat adalah orang-orang yang sangat menghargai waktu. Mereka tahu betul kalau lawan bicaranya di chat sedang menunggu jawaban dan balasan mereka. Mereka menghargai waktu orang lain sebagaimana mereka menghargai diri sendiri. Semakin fast respons, maka semakin cepat urusannya kelar. Semakin slow respons semakin ruwet dan kelihatan nggak profesional.

Jadilah makhluk fast respons yang tulus dan bahagia. Kalian adalah orang-orang yang sungguh layak diapresiasi karena sudah demikian menghargai orang lain. Kalian bukanlah orang gabut, terlalu ngebet, atau murahan. Pemikiran macam itu harusnya dimusnahkan karena udah bau-bau orba. Alias penuh kepalsuan.

Baca juga:  Dia Mau Saya Jawab Fast Response, Emangnya Saya Online Shop?

Saya yakin betul, orang-orang yang punya OCD (Obsessive Compulsive Disorder) juga nggak kuat lihat notification tab penuh dan menumpuk. Rasanya gemes banget pengin dibuka satu per satu. Meskipun kita tahu notifikasi itu hanya surel yang isinya promosi atau pemberitahuan dengan fitur no-reply, tapi serasa ada yang mengganjal kalau nggak dibuka. Tenanglah, yang kalian lakukan bukan sebuah kriminalitas. Kalian cuma solutif aja.

Beberapa kemudian salah paham dan mengartikan tindakan fast respons sebagai sebuah perilaku terang-terangan ketika menyukai orang. Padahal nggak selamanya gitu. Kalau saya balesin WhatsApp cepat banget ke teman cowok saya, bukan berarti saya naksir dan nunggu-nungguin balesan darinya setiap saat. Mohon jangan gampang ge-er, itu hati yang mudah baper tolong dikontrol sedikit. Mana ada asmara ditentukan dari cepat tidaknya si doi balas pesan. Kalau gebetannya pilot gimana? Jelas jarang rebahan sambil mantengin DM Instagram.

Berbanggalah jadi kaum fast respons dan jangan pernah merasa bodoh terhadapnya. Orang-orang yang slow respons karena gengsi mungkin emang jaim dan insecure. Lantas biarkanlah mereka terjebak dalam jurang anggapan kocak yang mereka bikin sendiri.

BACA JUGA Fitur-fitur ‘Rahasia’ di WhatsApp yang Bahkan Pengembangnya Sendiri Tidak Tahu atau artikel lainnya di POJOKAN.