MOJOK.COSingapura mengalami resesi ekonomi hingga 41,2 persen. Pandemi bikin keuangan negara kecil yang biasanya bersinar jadi redup. Apa kabar Indonesia?

Pertumbuhan ekonomi Singapura terjun bebas hingga 41,2% pada kuartal II jika dibandingan kuartal sebelumnya. Berdasarkan “prestasi” ini Singapura sendiri mencatat rekor kontraksi ekonomi terbesar. Berita ini mau nggak mau bikin kita ngeri-ngeri sedap sama nasib Indonesia.

Tapi sebelumnya, biar nggak pusing sendiri, kita pahami bareng-bareng dulu apa itu resesi ekonomi dan apa ngaruhnya buat Indonesia.

Apa itu resesi ekonomi dan bagaimana cara mengukurnya?

Ketika kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun mengalami penurunan signifikan, maka inilah yang disebut resesi. Biasanya pejabat di Indonesia pakai istilah ‘ekonomi lesu’ buat menggambarkan keadaan yang memang lagi nggak baik-baik saja. Jadi resesi ekonomi itu hal buruk ya, Mylov, masa perlu dijelasin juga.

Hitungan periodenya adalah dengan kuartal atau empat periode per tahun. Kalau sudah masuk bulan Juli tandanya sudah masuk kuartal III sehingga kuartal I dan kuartal II sudah bisa dihitung.

Resesi ekonomi benar-benar terjadi ketika PDB (Produk Domestik Bruto) nilai angkanya negatif, sementara angka pengangguran meningkat, penjualan ritel turun, dan adanya kontraksi ukuran pendapatan serta manufaktur dalam jangka waktu cukup panjang.

Akibat pandemi dan kebijakan lockdown, negara yang banyak mengandalkan supply chain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand tentu kelimpungan. Resesi ekonomi pasti terjadi, yang jadi masalah akan seberapa parah.

Sektor terdampak di Singapura

Sebenarnya berbagai restoran dan retail di Singapura sudah dibuka lagi sejak Juni 2020. Kegiatan perekonomian di sana juga sudah kembali aktif. Namun negara yang juga mengandalkan pariwisata ini tidak lagi dikunjungi banyak turis sejak pandemi. Keadaan ini berimbas pada nilai permintaan yang terus menurun sehingga banyak pengusaha yang menurunkan nilai produksi.

Baca juga:  Pahlawan Ekonomi Kita Bernama Hedonisme

Penurunan daya beli masyarakat membuat perkiraan resesi ekonomi di Singapura meleset, lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya. Sementara itu manufaktur yang bergerak di sektor farasi dan elektronik justru mengalami kenaikan eski belum cukup signifikan untuk menghambat angka resesi.

Berdasarkan data UNIDO, sektor yang paling melema dari berbagai negara adalah motor vehicle, perbaikan, dan furnitur. Sementara yang masih dibilang mendingan adalah bisnis farmasi, tembakau, dan soda.

Hingga artikel ini ditulis, Singapore mencatat total 46.630 kasus covid-19 dengan total kematian 27 jiwa. Angka ini sudah berangsur membaik dengan total kasus aktif yang ditangani tinggal 3.866 kasus lagi. Secara penanganan pandemi, Singapore boleh jadi hampir berhasil. Namun dampak ekonomi tetap nggak bisa dihindari.

Fakta ini jelas bikin kita semakin khawatir. Indonesia yang jumlah kasusnya terus meningkat, penanganan covid-19 yang belum maksimal. Keadaan ini jauh lebih buruk dari penanganan covid-19 di Singapura. Lalu apakah resesi ekonomi yang bakal terjadi di Indonesia juga bakal lebih buruk?

Emangnya ngaruh buat Indonesia?

Sejauh ini belum ada negara yang benar-benar menyatakan tidak terdampak secara ekonomi akibat pandemi. Resesi ekonomi di berbagai negara lain secara berkelindan juga ngaruh ke negara lain. Terutama negara yang mengandalkan ekspor dan tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dasar.

Sejauh ini negara-negara di Africa terhitung ‘aman’ perkara krisis ekonomi. Namun beberapa negara di Asia Tenggara mulai ancang-ancang untuk merumuskan berbagai kebijakan agar resesi ekonomi tidak terlalu buruk.

Baca juga:  Dunia Setelah Corona: Bakal Lebih Baik atau Lebih Buruk?

Belum banyak negara yang sudah melaporkan kondisi resesi ekonomi mereka pada kuartal II, namun pada kuartal I banyak negara yang sudah mendapat alarm resesi terlebih dahulu. Contohnya China yang terdampak pandemi lebih dulu, mereka mengaku mengalami resesi hingga 6,85% pada kuartal pertama. Meski menurut Bloomberg, data mingguan perekonomian China tampak mengalami pertumbuhan.

Menengok Vietnam, negara berkembang ini justru terbilang berhasil menyelamatkan keadaan. Vietnam telah melaporkan bahwa tidak ada lagi kematian akibat covid-19 sejak Juni. Mereka mulai fokus untuk menargetkan pertumbuhan PDB pada taun inidengan target 42%.

Sejauh ini Vietnam bisa dibilang selamat dari huru-hara resesi ekonomi karena PDB tumbuh 0,4% dilihat dari yoy (year on year) terhadap tahun 2019.

Kalau kamu pesimis Indonesia bakal selamat dari resesi ekonomi, saya juga. Rasanya nggak yakin. Resesi yang terjadi di negara tetangga juga bisa berdampak dengan PDB nasional. Pengelolaan ekspor impor sampai pemenuhan kebutuhan sulit dilakukan jika hampir semua negara di Asia sedang lesu.

Melemahnya sektor pariwisata dan retail di negara kita bisa jadi faktor. Belum lagi soal PHK dan lesunya sektor informal yang bikin angka resesi makin ngeri. Kalau sektor farmasi dan elektronik kita kelewat bagus, mungkin bisa membantu menstabilkan. Tapi kan… ah sudahlah.

BACA JUGA Tiga Saran Menghadapi Dilema Ekonomi karena Pandemi Virus Corona atau artikel lainnya di POJOKAN.