Setiap kali saya diminta mewakili Mojok untuk menjadi pemateri kelas menulis di kampus, saya selalu merasa ada perasaan getir yang terselip dalam batin saya. Ada semacam pergolakan batin yang sangat dahsyat.

Alasannya sederhana, Mojok sejatinya adalah media yang sangat tidak mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bayangkan, lha wong bangsa saja tidak pernah kami cerdaskan, apalagi cuma mahasiswa.

Herannya, selalu saja ada kampus yang terjerumus mengundang Mojok untuk menjadi pembicara. Betapa ini adalah sebuah bukti bahwa dunia ini sejatinya memang, mengutip apa kata biksu Tong, kosong adalah isi, isi adalah kosong.

Benar bahwa ada banyak penulis cerdas yang menulis di Mojok kayak Nezar Patria, Ariel Heryanto, Eka Kurniawan, Hairus Salim, dan sederet nama-nama menggetarkan lainnya. Tapi itu sebenarnya juga murni karena mereka sedang apes saja. Kebetulan redakturnya kenal sama mereka, trus meminta mereka nulis, dan mereka mau karena nggak enak buat nolak.

Sebagai ilustrasi betapa tidak mencerdaskannya Mojok sebagai sebuah media, saya beberkan sedikit tulisan-tulisan yang ada di sana.

Ketika isu banjir Jakarta mengemuka tahun lalu, media lain membahas tentang mitigasi kebencanaan, langkah-langkah Anies Baswedan, sampai inovasi-inovasi baru yang sedang dikembangkan oleh para ahli untuk mengurangi banjir Jakarta. Mojok? Justru membahas tentang apa saja yang harus kalian lakukan jika bertemu dengan genangan air.

Sama-sama bahas air, tapi kelihatan mana yang cerdas dan mana tidak.

Ketika media lain menulis tentang bagaimana trik dan intrik pelarian Setya Novanto sampai bisa menabrak tiang listrik dan benjol itu, Mojok justru membikin tulisan berisi wawancara fiktif dengan narasumber utamanya adalah tiang listrik yang ditabrak Setya Novanto.

Sekilas terlihat jenius dan out of the box, padahal itu adalah pelarian karena kami nggak tahu gimana lagi cara mengemas isu tersebut menjadi sebuah artikel.

Ketika media lain membahas tentang bagaimana strategi politik Khofifah dan Gus Ipul di Pilgub Jawa Timur, Mojok justru membahas tentang bagaimana Khofifah merekrut Anang Ashanti sekeluarga dan Gus Ipul merekrut Via Vallen serta Nella Kharisma.

Tampak sangat entertaint dan punya point of view yang unik, padahal itu murni karena kru Mojok lebih banyak yang paham soal dangdut ketimbang soal politik.

Gimana? Sudah bisa melihat di mana letak tidak mencerdaskannya?

Intinya, media lain banyak mendapatkan informasi dari sumber yang layak dipercaya, sedangkan Mojok banyak mendapatkan informasi dari sumber yang layak ditempeleng. Dari sini saja sudah kelihatan bedanya.

Nah, bukan hanya sering diminta untuk mengisi kelas menulis, Mojok juga sering mendapatkan kunjungan dari mahasiswa-mahasiswa LPM atau organisasi kemahasiswaan lainnya.

Ketika kami tanya, apa alasan mereka berkunjung ke kantor Mojok, jawabannya sungguh membikin kami meneteskan air mata.

“Kami ingin belajar tentang kaidah-kaidah jurnalistik dari Mojok!”

(((belajar))) – (((jurnalistik)))

Sungguh alasan yang sangat-sangat ndlogok. Bagaimana mungkin mereka bisa belajar kaidah-kaidah jurnalistik pada media yang kru-nya bahkan tidak banyak yang tahu apa itu jurnalistik. Kalau belajat othak-athik gathuk, itu masih masuk akal.

Tapi belakangan, baru saya sadari, bahwa ternyata, Mojok dibaca oleh banyak orang. Setiap kali rapat redaksi, laporan analitik menunjukkan setidaknya ada puluhan ribu (sesekali ratusan ribu) pembaca baru yang membaca artikel Mojok.

Ketidakcerdasan kami rupanya punya penggemar, dan jumlahnya tidak sedikit.

Mojok tumbuh bukan hanya sebagai sebuah media yang punya basis pembaca, lebih dari itu, Mojok tumbuh menjadi semacam tempat curhat bagi banyak orang untuk menyalurkan ide-ide dan sudut pandang gila mereka.

Mojok pernah menayangkan artikel yang isinya pro LGBT. Tapi di sisi yang lain, Mojok pernah juga menayangkan artikel yang isinya kontra LGBT.

Mojok pernah menulis artikel tentang kenapa suami selingkuh, tapi Mojok juga pernah menayangkan artikel kenapa istri selingkuh.

Dulu, saya berpikir, bahwa bekerja di media adalah tentang hal-hal yang penuh dengan ilmu, penuh dengan filosofi, penuh dengan hal-hal yang intelek dan berbobot. Kelak, semua pikiran saya itu mentah ketika saya bekerja di Mojok.

Media ini sangat tidak intelek. Tapi anehnya, saya menyukainya. Dan mungkin, itu pula yang dirasakan oleh banyak pembaca setia Mojok.

Ya, Mojok sampai kapan pun akan tetap menjadi media yang tidak mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun kita perlu ingat, bahwa dalam hidup ini, kita tak melulu butuh yang cerdas-cerdas bukan?

Lagipula ini Mojok.co, bukan RPUL.co