Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mengagumi Jalan Pedang PKS untuk Menjadi Oposisi Sendirian

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
19 Oktober 2019
A A
buzzer, pks, oposisi, omnibus law, eko kuntadhi mojok.co

buzzer, pks, oposisi, omnibus law, eko kuntadhi mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kini tersisa dua partai yang belum merapat ke koalisi pemerintah, yakni PAN dan PKS. Ketika PAN tampaknya mulai goyah, PKS terlihat yakin pada pendirian oposisi mereka.

“Iya lah (siap jadi oposisi sendiri). Kita kan sudah berpengalaman juga. Karena kita kemarin oposisi juga nggak ada apa-apa kan. Justru itu, karena udah berpengalaman, masak yang periode kedua malah menjadi mengkeret, nggak mungkin kan,” begitu kata Presiden PKS Sohibul Iman beberapa waktu yang lewat saat ditanya tentang kesiapan PKS menjadi partai oposisi.

Jawaban tersebut bukan kali pertama bagi para tokoh PKS. Jauh sebelum itu, PKS, melalui para elit-elitnya, memang sudah berkali-kali menyatakan siap menjadi oposisi sendirian. Bahkan setelah kabar Gerindra dan Demokrat yang bakal merapat ke pemerintah, PKS tetap pada pendiriannya. 

Saya pikir ini heroisme yg mungkin terlihat lebay, namun layak diapresiasi. 

Pemerintahan demokrasi yang sehat memang seharusnya mensyaratkan adanya oposisi yang bertindak sebagai pengawas dan juga pengritik. Dan PKS, dengan segala pertimbangannya, dengan jelas dan gamblang mengambil jalan tersebut.

Banyak yang nyinyir dengan langkah PKS. Salah satu nyinyiran yang datang adalah yang menyebut bahwa langkah PKS menjadi oposisi bukan semata karena faktor ideologi, melainkan karena memang nggak pihak pemerintah yang mau mengajak.

“Ah, itu sih bukan karena PKS-nya yang sok mau jadi oposisi, tapi karena memang tidak diajak saja!” begitu kira-kira.

Nyinyiran tersebut tak sepenuhnya salah memang, namun juga nggak bener-bener amat. 

Pihak Jokowi diketahui pernah mencoba mendekati PKS walau kemudian kandas di tengah jalan. Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Usman Kansong mengakui langkahnya untuk menjalin hubungan lebih jauh dengan PKS memang terhenti sebab PKS menunjukkan gelagat ketidaktertarikan.

“Kami lihat PKS itu konsisten untuk bersikap oposan, dan saya lihat mereka juga enggak memberikan sinyal,” terang Usman. 

Sikap tersebut berbeda dengan Demokrat, PAN, dan juga Gerindra, yang menurut Usman memang lebih cair dan punya sinyal-sinyal yang kuat untuk mau bergabung dengan pemerintah. 

Saat diundang ke istana oleh Jokowi beberapa waktu yang lalu pun, PKS menolak. Mereka bersedia bertemu nanti jika Jokowi sudah dilantik dan sudah mengumumkan komposisi kabinet pemerintahannya. Keputusan tersebut sebagai penegas bahwa PKS tetap berada di luar pemerintahan.

Pada titik tertentu, mau ideologi atau tidak, namun pilihan menjadi oposisi pada dasarnya adalah langkah yang berani. Menjadi oposisi artinya siap miskin, siap tidak mendapat kue. Dan tak banyak partai yang mau. Gerindra yang selama ini dianggap begitu kontra dengan pemerintah pun pada akhirnya mulai melunak. 

Sedari awal, PKS tampaknya memang ingin menjadi penantang pemerintah. Baik sendirian, maupun ada temennya.

Iklan

Lagipula, langkah PKS untuk berani menyatakan diri menjadi partai oposisi tunggal sebenarnya adalah juga langkah yang cukup strategis. 

Selama ini, partai yang menjadi poros kontra terhadap pemerintah hanyalah Gerindra dan PKS, maka jika Gerindra ternyata merapat ke pemerintah, maka PKS bakal menjadi satu-satunya partai yang bakal menerima limpahan suara dari para pemilih “Anti Jokowi”. 

Urusan menjadi pemain single, PKS pun nggak buruk-buruk amat, bahkan boleh dibilang, cukup gemilang. Ia partai yang, walau pada titik tertentu menyebalkan, namun solid dan pemberani. Mesin partainya militan, utamanya di akar rumput.

Urusan bertarung sendirian dengan banyak partai pun PKS punya rekam jejak yang mengerikan. Yang paling tampak kolosal tentu saja Pilgub DKI 2007.

Saat itu, PKS mengusung pasangan Adang Daradjatun dan Dani Anwar. Mereka bertarung melawan Fauzi Bowo dan Prijanto yang diusung oleh 20 partai. Ya, 20 partai (PPP, Partai Demokrat, PDIP, Golkar, PDS, PBR, PBB, PPNUI, PPDK, PKPB, PPDI, PBSD, PPIB, Partai Merdeka, PKB, PAN, PPD, Partai Patriot Pancasila, PKPI, dan Partai Pelopor).

Pasangan yang diusung oleh PKS pada akhirnya memang kalah, namun suara yang berhasil mereka dapatkan sungguh bikin kita bergidik ngeri: 42,13 persen.

Bayangkan, 1 partai melawan 20, dan berhasil mendapatkan hampir setengah suara.

Hasil seperti itu tentu hanya bisa didapatkan oleh partai yang memang punya ketangguhan luar biasa. Dan PKS adalah contoh yang senyata-nyatanya.

PKS memang partai yang menyebalkan, apalagi saat ia menjadi partai yang begitu keras menolak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), namun untuk urusan keputusan menjadi oposisi, saya terpaksa angkat topi.

BACA JUGA PKS dan Usahanya Membumikan Politik atau artikel Agus Mulyadi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2019 oleh

Tags: oposisiPKS
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

kabinet 100 menteri fesmo talkshow zainal arifin mochtar
Video

Zainal Arifin Mochtar: Kekuasaan Harus Dibatasi dengan Adanya Oposisi

6 November 2024
Motif di Balik Film Dirty Vote Sampai Pentingnya Hak Angket dan Peran Oposisi dalam Demokrasi
Video

Zainal Arifin Mochtar Bicara Motif di Balik Film Dirty Vote, Hak Angket, dan Peran Oposisi dalam Demokrasi

28 Februari 2024
Wacana Koalisi PDIP dan PKS di Putaran Kedua Pilpres, Siapkah Lawan Kubu Prabowo?
Video

Wacana Koalisi PDIP dan PKS di Putaran Kedua Pilpres, Siapkah Lawan Kubu Prabowo?

20 Januari 2024
kasus kdrt mojok.co
Kotak Suara

Anggota DPR dari PKS Terseret Kasus KDRT, Sudah Mundur, Gimana Kelanjutan Kasusnya?

26 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi bapak kerja habis-habisan 60 jam agar anak tak susah finansial. Tapi peran sebagai ayah dipertanyakan karena anak mengaku fatherless MOJOK.CO

Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

26 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.