Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Siklus Menjalani Hari Saat Ditinggal Pergi Agak Lama oleh Pasangan: Sedih – Bahagia – Sedih Lagi

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
26 Februari 2021
A A
pasangan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ditinggal pergi jauh oleh pasangan bukanlah hal yang mudah, ada kesedihan yang siap merambat di dalam dada. 

Beberapa hari yang lalu, Kalis istri saya sibuk mengisi form aplikasi fellowship dari salah satu lembaga Internasional Amerika. Sejak lama, dia memang sudah mempersiapkan diri untuk ikut seleksi fellowship tersebut.

“Kalau fellowship ini tembus, aku punya kesempatan untuk belajar ke India,” kata istri saya.

Melihat wajahnya yang begitu sumringah itu, tentu saja saya ikut bahagia. Gaya hidup menonton film-film India memang membuat istri saya menjadi tergila-gila dengan India. Kepada saya, ia kerap menceritakan tentang keindahan alam India yang sering ia lihat di scene-scene film India yang ia tonton itu.

“Seandainya kamu lolos, kamu bakal ke India berapa lama?”

“Ini sebenarnya program fellowship tahunan, kayak ada rentang waktunya gitu, Mas. Jadi ke India-nya ya nggak nggak lama sebenarnya, paling dua atau tiga minggu.”

Mendapatkan jawaban tersebut, tentu saja muncul sedikit ketakutan kecil dalam diri saya.

Sejak pacaran, saya hampir tak pernah jauh dengan kekasih saya itu. Kami kos di tempat yang tak jauh, jarak kos kami tak sampai satu kilo, semata agar mudah bagi kami untuk bertemu setiap hari.

Setelah menikah, kebersamaan kami tentu saja semakin lekat. Selayaknya suami-istri pada umumnya. Kebersamaan yang sudah terlalu lekat itulah yang kemudian membuat kami merasa berat jika salah satu dari kami harus pergi ke luar daerah selama berhari-hari.

Jika ditinggal ke luar daerah saja rasanya sudah sangat aneh dan berat, apalagi ditinggal ke luar negeri. Pastilah rasanya jauh lebih berat.

Saya pernah merasakan tiga kali momen berat itu. Pertama saat saya ditinggal ke Malaysia saat Kalis mengikuti semacam kelas kesetaraan gender internasional di sana. Dua minggu saya ditinggal ke negeri jiran. Saya berasa seperti lelaki-lelaki desa yang istrinya harus kerja sebagai TKW ke Malaysia.

Yang kedua saat saya ditinggal Kalis ke Jepang karena ia harus mengikuti semacam program pertukaran pemuda-pemudi yang entah apa namanya.

Yang ketiga, yang paling nyesek, saya ditinggal Kalis ke Israel agak lama sebab ia mendapat semacam undangan dari salah satu lembaga internasional Israel yang lagi-lagi saya juga tak tahu apa namanya.

Nah, jika aplikasi program fellowship yang diisi oleh istri saya beberapa hari lalu itu tembus, maka saya akan ditinggal ke luar negeri untuk keempat kalinya.

Iklan

Pengalaman ditinggal ke luar negeri ini memang membuat saya sedikit banyak tahu pola kesedihan yang saya rasakan.

Begitu saya ditinggal, maka yang terjadi pada saya saat menjalani hari-hari awal tanpa pasangan tentu saja adalah sedih tak terkira. Duduk di rumah, sendirian, bingung mau memeluk siapa. Menonton acara yang lucu pun jadi tak terasa lucu. Ada senyap yang begitu getir. Hidup menjadi terasa sangat tak sempurna. Orang yang biasanya berbaring di sebelah kini tak ada.

Namun, Tuhan tampaknya memang baik hati. Perasaan sedih itu pada kenyataannya hanya muncul lima atau enam hari pertama. Setelah itu, entah kenapa, justru perasaan bebas dan bahagia yang muncul. Saya berasa menjadi remaja lagi. Menjadi bujangan lagi. Bisa tidur di mana saja, di kantor, di tongkrongan, atau di mana pun. Bisa pulang kapan saja, bisa main selarut yang saya suka. Hal yang tentu tak bisa saya lakukan saat istri ada di rumah.

Nah, fase bahagia ini kelak akan berakhir setelah minggu kedua. Setelah dua minggu, kebahagiaan yang sempat membuncah itu akan kembali menjadi kesedihan karena perasaan rindu yang menyala-nyala.

Dari sedih, bahagia, menjadi sedih lagi. Sialnya, kesedihan yang terakhir ini tidak akan berubah menjadi bahagia. Ia akan terus bertahan menjadi kesedihan sampai akhirnya pasangan kita benar-benar pulang.

Saya tak tahu apakah hal ini hanya berlaku pada diri saya atau juga berlaku pada banyak orang, namun yang jelas, saya punya beberapa kawan yang merasakan hal yang serupa.

Iqbal Aji Daryono, penulis kondang asal Bantul itu pernah saya tanya tentang perasaannya saat dirinya harus ditinggal istri tercintanya ke Norwegia untuk sekolah S2.

“Asal kowe ngerti, Gus, biyen pas aku ditinggal bojoku sekolah neng Norwegia, seminggu pertama ki aku isone mung nangis, nangis, karo nangis,” ujarnya.

Kawan saya yang lain, sebut saja Alvianto juga demikian. Di hari-hari pertama ia ditinggal istrinya ke Tunisia untuk mengajar, ia mengaku sangat berat dan sedih.

Bedanya, setelah beberapa hari, ia mengaku bahwa kesedihannya tak berkurang.

“Tetep abot, Gus,” ujarnya sambil melahap mie ayam kesukaannya.

Saya ingin mempercayai apa yang ia katakan, namun melihat tampangnya yang tampak amat rakus saat mengunyah mie ayam sambil sesekali prengas-prenges itu, saya tak yakin dengan apa yang ia katakan.

“Kowe jarene sedih, lha kok iso mangan mie ayam telap-telep ndemenake ngono kuwi?”

“Hati itu satu hal, Gus. Dan lidah adalah hal yang lain.”

Mashoooooook.

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2021 oleh

Tags: istripacarpasangan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Istri Super Jadi Budak Suami Pengangguran Kelas Premium MOJOK.CO
Esai

Derita Istri Jadi “Budak” Kasta Tertinggi Suami Pengangguran yang Lebih Mementingkan Burung Peliharaan ketimbang Anak dan Istri

28 Oktober 2025
Tupperware.MOJOK.CO
Ragam

Krisis Tupperware Membuat Emak-emak Khawatir, Stok Botol Baru Masih Banyak di Gudang

10 Januari 2024
pilot selingkuh.MOJOK.CO
Ragam

Memilih Selingkuh dengan Orang yang Lebih “Jelek” dari Pasangan Aslinya, Penyebabnya Impulsif hingga Butuh Variasi

8 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.