Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menahan Kencing Adalah Salah Satu Siksaan Hidup Terberat

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
9 September 2020
A A
kencing
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selain menahan kangen, menahan kencing juga merupakan salah satu usaha bertahan yang paling berat.

Pada abad ke-15, Tycho Brahe boleh dibilang merupakan astronom terbaik di dunia. Ia, di masa pra-teleskop, merupakan astronom dengan akurasi pengamatan bintang dan planet yang tak ada tandingannya. Sebagai ilustrasi betapa dahsyat dan hebatnya Tycho Brahe itu, manusia brilian sekelas Johannes Kepler itu pun “cuma” jadi asisten bagi Brahe.

Sayang, kelak, di masa depan, orang-orang mengenal Tycho Brahe bukan hanya karena disiplin ilmunya di bidang astronomi, namun juga karena sebab kematiannya yang cukup tragis.

Tycho Brahe memang meninggal karena sebab yang sangat-sangat konyol: menahan kencing. Ya, menahan kencing.

Dalam sebuah acara perjamuan, Brahe yang kebelet setengah mampus itu sengaja menahan selama mungkin agar ia tidak kencing. Ia menganggap bahwa pergi ke belakang saat menghadiri perjamuan adalah sebuah pelanggaran etiket.

Ketika sampai di rumah, saat akan menuntaskan dendamnya, barulah Brahe sadar kalau ia ternyata justru tak bisa kencing. Usut punya usut, kandung kemihnya ternyata pecah karena ia terlalu lama menahan kencing. Tak berselang lama, Brahe pun pingsan dan pada akhirnya meninggal. 

Betapa tragisnya, seseorang yang amat sangat peduli dengan pergerakan “bola-bola” di angkasa, ternyata justru mengabaikan geliat dua bola di bawah penisnya. 

Kisah tentang kematian Brahe itu terus saya ingat. Tentu saja saya tak ingin mengikuti nasib Brahe. Itulah kenapa saya tak pernah segan untuk izin ke belakang saat mengikuti acara sepenting apa pun. 

Namun, acara kali itu memang sungguh berbeda. Saya diminta mewakili kantor saya untuk menjadi salah satu pemateri acara Bulaksumur National Conference di auditorium gedung Fisipol UGM membahas tentang kultur ekonomi kreatif dan literasi digital.

Saya sudah berkali-kali mengisi acara di auditorium Fisipol, namun entah kenapa, khusus saat itu, suhu ruangannya terasa sangat dingin. Pokoknya tidak sedingin saat saya mengisi acara di tempat yang sama di waktu-waktu sebelumnya.

Dinginnya ruangan mau tak mau membuat tubuh saya yang memang jarang disentuh oleh angin AC ini menjadi sangat kaget. Ada semacam gegar budaya yang menjalar ke seluruh tubuh. Dinginnya terasa sangat membacok tulang. Saya mendadak jadi sangat sering kebelet kencing. 

Seperti yang saya tulis di atas, saya tak pernah segan meminta izin kepada panitia untuk pergi ke toilet demi menuntaskan hajat saya. Bagi saya, urusan seprinsipil itu tak bisa dikesampingkan.

Namun menjadi lain ceritanya jika ia terjadi berulang-ulang. Saya sudah izin ke toilet dua kali dalam rentang waktu yang tidak lama, dan keparat, burung saya ternyata masih tetap ingin kencing. Ia tampaknya punya pasokan cairan yang melimpah untuk ia keluarkan kapan pun ia mau.

Untuk izin yang pertama dan kedua, saya masih punya nyali. Namun untuk izin-izin berikutnya, saya harus mulai pikir-pikir. Ada gengsi dan harga diri yang harus saya jaga. Saya tentu saja tak ingin tampak sangat “udik” karena nggak tahan dengan dinginnya AC ruangan walau saat itu saya merasa bahwa kadar dingin di auditorium memang tidak masuk akal dan bahkan cenderung zalim.

Iklan

Selain itu, saya juga harus menjaga perasaan pemateri lainnya. Tentu menjadi preseden yang tak menyenangkan jika saya harus bolak-balik ke belakang saat pemateri lain menjelaskan pemaparannya. Saya takut dianggap tak tertarik dengan presentasi yang sedang mereka bawakan.

Namun apa boleh bikin, saya benar-benar tak kuat. Maka, pertahanan saya pun jebol. Saya akhirnya mengorbankan gengsi dan rasa malu saya untuk kembali meminta izin untuk ke toilet. 

Panitia acara, dengan tetap pasang tampang senyum, toh tetap mempersilakan saya. Nggak mungkin juga mereka menolak dan menahan saya. 

Setelah buang air yang ketiga, ternyata burung saya masih tetap tak mau diajak bekerja sama. Ia masih terus kebelet seperti selayaknya burung orang yang sedang anyang-anyangan. 

Kali ini, persetan saya bakal dianggap udik atau sekadar dibatin oleh peserta dan panitia. Saya sudah nggak peduli. Saya tak segan lagi untuk izin ke toilet berkali-kali.

Setelah keluar dari toilet, saya pun memutuskan untuk duduk di belakang dekat pintu keluar auditorium. Panitia memaksa saya agar kembali duduk ke depan di kursi yang memang disediakan untuk para pejabat kampus para pemateri. Saya menolak. Saya menyampaikan alasan saya. Saya terpaksa menceritakan kondisi saya yang saat itu terus-terusan kebelet karena hawa dingin ruangan. Butuh waktu agak lama untuk meyakinkan panitia sampai akhirnya mereka memperbolehkan saya untuk duduk di belakang saja.

Dasar nasib, sudahlah ruangannya dingin, ternyata saya masih harus menerima kenyataan bahwa saya harus mengisi di sesi paling akhir bersama politisi PDIP sekaligus mantan anggota DPR Budiman Sudjatmiko. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang saat itu dijadwalkan menjadi pemateri di sesi akhir ternyata justru meminta agar bisa mengisi di sesi awal karena ia harus segera bertolak ke tempat lain untuk menghadiri acara lainnya.

Alhasil, saya masih harus bertahan berjam-jam lagi sebelum akhirnya tiba sesi saya menyampaikan materi. Saya masih tetap bolak-balik ke toilet, walau kali ini, bolak-baliknya jauh lebih ringan karena saya duduk di belakang, sehingga tak banyak peserta yang melihat saya saat keluar-masuk ruangan auditorium.

Saya tak ingat saat itu sudah buang air yang ke berapa. Mungkin yang ketujuh, atau malah kedelapan. 

Saat berjalan menuju toilet itu, saya melihat Budiman Sudjatmiko juga sedang menuju ke arah yang sama.

“Dingin banget, Mas, di dalam. Ini saya sudah berkali-kali kencing,” kata saya singkat. Yah, sekadar melontarkan basa-basi karena kami sama-sama sedang berjalan menuju ke toilet.

Tak disangka, jawaban dia ternyata sangat menyenangkan hati saya. “Lho, sama,” jawabnya, “Ini saya juga sudah berkali-kali ke toilet. Memang dingin betul di dalam.”

Jawaban Budiman benar-benar memunculkan kelegaan yang luar biasa di dalam hati saya. Ternyata bukan saya saja yang merasa bahwa ruangan auditorium Fisipol itu dinginnya setengah mampus. Mantan anggota DPR yang tentu sudah sangat sering berada di ruangan ber-AC dan bahkan pernah tinggal agak lama di Inggris kayak Budiman Sudjatmiko saja bisa kebelet kencing berkali-kali, apalagi saya.

Maka, persis setelah Budiman menjawab basa-basi saya itu, langkah saya ke toilet langsung berubah menjadi sangat ringan.

Saya memelankan langkah saya dan membiarkan Budiman berjalan mendahului saya.

Dari belakang, saya memandangi sosok politisi yang saat itu memakai kemeja warna putih itu.

“Dasar udik,” batin saya. 

BACA JUGA: Kesuksesan Tak Ada Hubungannya dengan Bangun Pagi, dan Saya Berharap Itu Benar atau tulisan Agus Mulyadi lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 30 September 2020 oleh

Tags: Budiman Sudjatmikokencing
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

BUDIMAN SUDJATMIKO DAPAT APA DARI PRABOWO?
Video

Budiman Sudjatmiko Dapat Apa dari Prabowo?

1 September 2023
Kisah Perempuan Menikah dengan Bapak Kosnya Sendiri, Usia terpaut 20 tahun
Video

Kisah Perempuan Menikah dengan Bapak Kosnya Sendiri, Usia terpaut 20 tahun

30 Agustus 2023
Budiman Sudjatmiko, Alumni SMA Muhi Jogja yang Kontroversial
Pendidikan

Budiman Sudjatmiko, Alumni SMA Muhi Jogja yang Kontroversial

29 Agustus 2023
polemik dukungan budiman sudjatmiko dan meritokrasi kandidasi kepemimpinan mojok.co
Podium

Belajar dari Polemik Budiman Sudjatmiko: Pentingnya Meritokrasi Kandidasi Kepemimpinan

29 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Senyum Palsu Anak Pertama Saat Adik Lolos PTN Impiannya, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Penuh Derita dan Pusing Mikir Biaya

10 Maret 2026
Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan.MOJOK.CO

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.