peti mati

Melihat Peti Mati dan Mengenang Maut

Mengingat mati itu baik. Itulah kenapa, kanjeng nabi sering mengingatkan umatnya agar rajin mengunjungi makam.

Maut adalah entitas yang kuat dan lemah dalam waktu bersamaan. Ia tak perlu ditantang. Kalau sudah waktunya, tanpa perlu pertarungan pun, dia pasti menang.

Saya manusia yang tak tahu diri dan sangat enggan untuk mengingat mati. Namun, setiap hari sabtu, saya justru selalu dipertemukan dengan tempat-tempat yang membuat saya untuk mengingat mati.

Setiap malam minggu, saya hampir selalu nongkrong di sebuah bar yang menyajikan live music. rock. Sebuah bar di bilangan Jalan Mantrijeron dekat Jalan Parang Tritis.


Saya biasanya menghabiskan waktu malam minggu di sana. Kadang bersama kawan, kadang bersama kekasih.

Bagi banyak orang yang memegang teguh agamanya, rutinitas yang saya lakukan itu tentu adalah aktivitas yang buruk. Nongkrong sembari mendengarkan musik sambil berkumpul dengan orang-orang menari dan menenggak bir. 

Musiknya haram, dansa-dansinya haram, minum bir-nya haram. Pokoknya haram. Tapi mau bagaimana lagi. Itu hiburan saya tiap malam minggu. 

Saya biasanya baru pulang saat tengah malam. Saat live music sudah selesai.

Nah, perjalanan pulang itulah yang kerap menjadi semacam perjalanan spiritual.

Untuk pulang ke tempat kos saya di Jalan Kaliurang atas, saya harus selalu lewat Jalan Brigjen Katamso Gondomanan. Dan melewati jalan tersebut tengah malam sehabis ngebis bareng kawan-kawan di tempat yang penuh dengan hura-hura dan dansa-dansi adalah pengalaman spiritual tersendiri.

Alasannya jelas. Sebab di sepanjang jalan Brigjen Katamso, saya bisa dengan menemukan kios-kios penjual peti mati dan keranda lengkap dengan payung-payungnya.

Kios-kios itu memang sudah tutup saat tengah malam, namun pemiliknya selalu membiarkan peti mati dan keranda-kerandanya di halaman kios. Membuat semua orang bisa melihatnya. ia tentu tak pernah khawatir petinya hilang diambil orang. Siapa pula yang mau mencuri peti mati. 

Peti-peti mati yang diletakkan begitu saja di depan kios itu seakan ada untuk menyambut orang-orang seperti saya. Orang-orang yang baru pulang selepas menghabiskan waktu yang mubazir dan mungkin penuh dengan kemaksiatan. Mengingatkan saya untuk mengenang kematian.

Sabtu minggu kemarin, saya kembali melewati jalan itu. Tengah malam. Di salah satu kios, ibu-ibu yang saya duga adalah pemilik kios duduk di sebuah kursi rendah sambil membersihkan kain putih yang biasa digunakan sebagai alas peti mati bagian dalam.

Adegan itu saya lihat hanya sekejap sebab saya melihatnya sambil melaju di atas motor sambil lalu. Namun, adegan itu kemudian terus membayang-bayangi saya sepanjang perjalanan pulang.

Saya jadi ingat pepatah lama arab yang saya lupa siapa penulisnya: “Orang-orang menari dan bersenang-senang, tanpa pernah sadar, bahwa di sebuah tempat, kain kafannya sedang ditenun.”

Maut ternyata bukan hanya berbakat menjadi pemenang. Ia juga sangat berbakat untuk dikenang.