Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Melihat Peti Mati dan Mengenang Maut

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
3 Mei 2019
A A
peti mati
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mengingat mati itu baik. Itulah kenapa, kanjeng nabi sering mengingatkan umatnya agar rajin mengunjungi makam.

Maut adalah entitas yang kuat dan lemah dalam waktu bersamaan. Ia tak perlu ditantang. Kalau sudah waktunya, tanpa perlu pertarungan pun, dia pasti menang.

Iklan

Saya manusia yang tak tahu diri dan sangat enggan untuk mengingat mati. Namun, setiap hari sabtu, saya justru selalu dipertemukan dengan tempat-tempat yang membuat saya untuk mengingat mati.

Setiap malam minggu, saya hampir selalu nongkrong di sebuah bar yang menyajikan live music. rock. Sebuah bar di bilangan Jalan Mantrijeron dekat Jalan Parang Tritis.

Saya biasanya menghabiskan waktu malam minggu di sana. Kadang bersama kawan, kadang bersama kekasih.

Bagi banyak orang yang memegang teguh agamanya, rutinitas yang saya lakukan itu tentu adalah aktivitas yang buruk. Nongkrong sembari mendengarkan musik sambil berkumpul dengan orang-orang menari dan menenggak bir. 

Musiknya haram, dansa-dansinya haram, minum bir-nya haram. Pokoknya haram. Tapi mau bagaimana lagi. Itu hiburan saya tiap malam minggu. 

Saya biasanya baru pulang saat tengah malam. Saat live music sudah selesai.

Nah, perjalanan pulang itulah yang kerap menjadi semacam perjalanan spiritual.

Untuk pulang ke tempat kos saya di Jalan Kaliurang atas, saya harus selalu lewat Jalan Brigjen Katamso Gondomanan. Dan melewati jalan tersebut tengah malam sehabis ngebis bareng kawan-kawan di tempat yang penuh dengan hura-hura dan dansa-dansi adalah pengalaman spiritual tersendiri.

Alasannya jelas. Sebab di sepanjang jalan Brigjen Katamso, saya bisa dengan menemukan kios-kios penjual peti mati dan keranda lengkap dengan payung-payungnya.

Kios-kios itu memang sudah tutup saat tengah malam, namun pemiliknya selalu membiarkan peti mati dan keranda-kerandanya di halaman kios. Membuat semua orang bisa melihatnya. ia tentu tak pernah khawatir petinya hilang diambil orang. Siapa pula yang mau mencuri peti mati. 

Peti-peti mati yang diletakkan begitu saja di depan kios itu seakan ada untuk menyambut orang-orang seperti saya. Orang-orang yang baru pulang selepas menghabiskan waktu yang mubazir dan mungkin penuh dengan kemaksiatan. Mengingatkan saya untuk mengenang kematian.

Sabtu minggu kemarin, saya kembali melewati jalan itu. Tengah malam. Di salah satu kios, ibu-ibu yang saya duga adalah pemilik kios duduk di sebuah kursi rendah sambil membersihkan kain putih yang biasa digunakan sebagai alas peti mati bagian dalam.

Iklan

Adegan itu saya lihat hanya sekejap sebab saya melihatnya sambil melaju di atas motor sambil lalu. Namun, adegan itu kemudian terus membayang-bayangi saya sepanjang perjalanan pulang.

Saya jadi ingat pepatah lama arab yang saya lupa siapa penulisnya: “Orang-orang menari dan bersenang-senang, tanpa pernah sadar, bahwa di sebuah tempat, kain kafannya sedang ditenun.”

Maut ternyata bukan hanya berbakat menjadi pemenang. Ia juga sangat berbakat untuk dikenang. 

Terakhir diperbarui pada 18 November 2020 oleh

Tags: kematianKerandapeti mati
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Wanita Rembang Menanti Suami yang Tenggelam di Laut MOJOK.CO
Catatan

Pilunya Wanita Rembang, Tetap Menanti Suami Pulang Meski Telah Tenggelam di Laut dan Tak Pernah Ditemukan

29 Februari 2024
Penjual Peti Mati Cerita Tanda-tanda di Luar Nalar Sebelum Dagangannya Laku MOJOK.CO
Liputan

Penjual Peti Mati Cerita Tanda-tanda di Luar Nalar Sebelum Dagangannya Laku

31 Agustus 2023
Kok Ada Ayat Jangan Mati kecuali dalam Keadaan Muslim? Lah Kan Mati Bukan Kita yang Ngatur?
Khotbah

Kok Ada Ayat Jangan Mati kecuali dalam Keadaan Muslim? Lah Kan Mati Bukan Kita yang Ngatur?

5 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.