Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

PSI, PBB, dan Politik “Percaya Diri”

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
8 Mei 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Over percaya diri yang diperagakan PSI dan PBB bukan tanpa alasan. Sejarah membuktikan, percaya diri itu salah satu modal terbesar dalam politik.

Sesaat setelah acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) yang digelar oleh Partai Bulan Bintang (PBB), sang ketua umum Yusril Ihza Mahendra ditanya oleh para wartawan, salah satu pertanyaan yang mendarat adalah apakah Yusril siap jika harus bersanding dengan Joko Widodo. Jawaban Yusril cukup ndlogok: “Ya Pak Jokowi harus jadi wakil presiden, saya yang calon presidennya.”

Walau semua orang paham bahwa jawaban Yusril tadi adalah kelakar, namun dari jawaban tersebut kita bisa meraba, dalam politik, percaya diri adalah salah satu modal terbesar.

Ini serius. Betapa tidak, sebagai sebuah partai yang tak punya kursi di parlemen dan bisa lolos sebagai peserta pemilu 2019 dengan langkah yang, meminjam istilah Ebiet G. Ade, terseret tertatih-tatih, PBB berani mengajukan ketua umumnya sebagai calon presiden atau calon wakil presiden.

Tak jauh berbeda dengan PBB, si partai baru PSI yang oleh banyak orang dianggap sebagai partai bau kencur bahkan berani membuat poling dan menawarkan usulan tentang calon wakil presiden dan nama-nama menteri bagi Jokowi.

PKS tak kalah pede, dengan modal suara yang hanya 6 persen, PKS berani menginisiasi gerakan #2019GantiPresiden. Ia bahkan dengan mantap menawarkan 9 tokoh terbaiknya untuk tampil menjadi calon wakil presiden.

Mau lihat contoh kepercayaan diri yang lebih ekstrem? Lihat sosok Muhaimin “Cak Imin” Iskandar. Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa ini berani mendeklarasikan diri sebagai cawapres tanpa harus tahu siapa capresnya. Ia bahkan sudah mendirikan Posko Join (Jokowi-Cak Imin), padahal Jokowi belum tentu memilihnya sebagai pendamping. Kurang pede apa itu?

Yang paling gila tentu saja Sam Aliano. Sosok yang “hanya” pernah tergabung dalam partai besutan Wak haji Oma Irama itu sudah sampai tahap menawarkan dirinya sebagai calon presiden. Janji kampanyenya dahsyat: melunasi utang Indonesia dan mengumrahkan seluruh muslim Indonesia.

Serangkaian bukti di atas tentu sudah sangat cukup untuk menunjukkan bahwa pede memang sebuah senjata yang begitu ampuh.

Toh, pada kenyataannya, kepercayaan diri dalam berpolitik ini beberapa kali memang terbukti mampu membawa si empunya tampil sebagai pahlawan. Ia mampu mengesampingkan banyak faktor politis, termasuk jumlah kursi di parlemen.

Di tahun 2004, sebagai sebuah partai baru, PKS tampil dengan mendapatkan 7,34% perolehan suara secara nasional, dan 24% di DKI Jakarta. Dengan modal itu, di pilgub DKI 2007, PKS berani tampil mengajukan Adang Daradjatun sebagai penantang Fauzi Bowo yang sebelumnya adalah petahana wakil gubernur.

Kala itu, PKS maju sendirian. Ia menjadi satu-satunya partai pengusung Adang Daradjatun yang berpasangan dengan Dani Anwar. Sedangkan Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto diusung oleh 20 partai.

Ya, 20 partai. PPP, PD, PDIP, Partai Golkar, PDS, PBR, PBB, PPNUI, PPDK, PKPB, PPDI, PBSD, PPIB, Partai Merdeka, PKB, PAN, PPD, Partai Patriot Pancasila, PKPI, dan Partai Pelopor.

Pertarungan pilgub pun kemudian tak ubahnya seperti pasukan Sparta melawan Persia. Dan memang hasilnya sama. Pada akhirnya, Adang Daradjatun-Dani Anwar memang kalah oleh Fauzi Bowo-Prijanto. Namun, perlu diingat, kemenangan Fauzi Bowo kala itu adalah 57,87% berbanding 42,13%.

Iklan

Bayangkan, satu partai, sendirian, melawan 20 partai, dan bisa mendapatkan hampir separuh suara.

Yang lebih nracak lagi tentu saja pilpres 2004.

Di pemilu 2004, Demokrat punya suara 7,45%. Dengan modal tersebut, Demokrat kemudian mengusung jagoan mereka, Susilo Bambang Yudhoyono, yang kala itu berpasangan dengan Jusuf Kalla. Walau didukung oleh dua partai lain, yakni PKPI dan PBB yang kemudian mendongkrak jumlah kursi mereka mencapai 12%, jumlah tersebut jelas masih kalah jauh bila dibandingkan dengan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi yang diusung PDI (19,8%) atau pasangan Wiranto-Salahudin Wahid yang diusung oleh Golkar (21,5%)

Namun kemudian, kita semua tahu, SBY menang dengan gemilang dan berhasil menjadi presiden, walau kelak ia justru lebih dikenal sebagai musisi ketimbang politisi.

Yah, sekali lagi, dalam berpolitik, kepercayaan diri adalah modal yang begitu besar. Yang penting percaya diri saja dulu, yang lain bisa diurus belakangan. Sebab, dalam politik, yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.

Kalau kata Nikita Khrushchev, “Politicians are the same all over. They promise to build bridges, even when there are no river.”

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2018 oleh

Tags: Cak IminCaprescawaprespbbpercaya diripilkadapilprespkbpolitikpsiYusril Ihza Mahendra
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
pajak, pemberontakan petani banten.MOJOK.CO
Ragam

Saat Petani Banten Dicekik Pajak, Mereka Melakukan Perlawanan Bersenjata Iman

2 September 2025
Kota Semarang tak naikkan PBB dan pajak masyarakat MOJOK.CO
Kilas

Pilihan Kota Semarang Berpihak pada Masyarakat: Tak Naikkan PBB dan Ringankan Beban Pajak

22 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.