Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jangan Pernah Berkecil Hati Ya, Pak Wiranto…

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
8 Desember 2015
A A
Jangan Pernah Berkecil Hati Ya, Pak Wiranto...

Jangan Pernah Berkecil Hati Ya, Pak Wiranto...

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Halo, Bapak Wiranto.

Perkenalkan, saya Agus Mulyadi.

Pak Wir, langsung saja ya. Sebelumnya saya hendak mengucapkan terima kasih karena Bapak masih begitu cinta dan peduli terhadap bangsa ini (walaupun tahun kemarin njenengan terpaksa gagal nyapres). Buktinya, njenengan masih sudi dan mau menyempatkan diri untuk menulis opini tentang kebangsaan di Koran Kompas edisi kemarin, Senin, 7 Desember 2015, yang berjudul, “Negeri yang Terbelah”. Sungguh, Pak, tulisan tersebut begitu menggugah setiap insan untuk bisa lebih peduli kondisi negara ini.

Saya yakin, tujuan njenengan menulis opini kebangsaan di Kompas itu tentu murni karena rasa cinta kepada bangsa Indonesia, dan bukan karena mengharap honor dari Kompas. Tujuan yang sangat mulia, tentunya. Sangat berbanding terbalik dengan para penulis Mojok yang cuma mengharapkan honor tanpa mempedulikan konteks kebangsaan dalam setiap tulisannya.

Tapi sayang, ya, Pak Wir, tulisan njenengan di Kompas kemarin harus tercoreng oleh blunder yang amat fatal, karena njenengan menyebut sila keempat Pancasila adalah “Persatuan Indonesia”.

Sebagai penulis buku “Jomblo Tapi Hafal Pancasila”, tentu saya merasa begitu sedih dan terpukul (oke, ini mungkin terlalu dramatis, tapi percayalah, Pak, saya memang benar-benar terpukul) saat mengetahui njenengan salah menyebutkan “Persatuan Indonesia” sebagai sila keempat Pancasila. Padahal njenengan tidak jomblo, lho. Aduuuh… Pucing pala Harry Panca!!!

Kalau yang nulis Vicky Prasetyo, sih, mungkin orang-orang akan maklum dan tidak mempersalahkan (karena memang dia sudah punya branding yang kuat di bidang kesalahkaprahan, malah jatuhnya bakal mengherankan kalau Vicky Prasetyo bisa menyebutkan dengan benar sila-sila Pancasila). Lha tapi ini yang nulis njenengan je, seorang Jenderal lulusan Akademi militer, yang dulu setiap jam empat pagi sudah harus bangun karena dicekoki dengan lagu-lagu nasional yang heroik lagi melodius itu. Mantan Panglima TNI yang tentu sudah nglothok perkara bela negara. Kok ya bisa-bisanya njenengan ndak hafal urutan Pancasila.

Saya sempat jengkel dan gregetan lho, Pak, hingga kemudian saya sadar bahwa saya adalah penulis Mojok yang selalu dituntut untuk menjunjung tinggi asas husnuzhonisme. Akhirnya, setelah berkontemplasi cukup lama, saya pun berkesimpulan, bahwa kesalahan fatal di dalam tulisan njenengan itu bisa jadi memang sengaja njenengan buat, tujuannya adalah semata untuk memancing rakyat Indonesia agar bisa bersikap lebih kritis dan empiris dalam menangapi informasi. Atau bisa jadi, njenengan sengaja menyebut “Persatuan Indonesia” itu sebagai sila ke-empat semata untuk memancing kinerja para redaktur media massa agar bisa lebih teliti (yang sialnya, umpan yang njenengan berikan tidak disaut dengan benar oleh redaktur Kompas).

Hal ini mungkin sama seperti yang dilakukan oleh Pak Jokowi (kompatriot njenengan sesama KIH, Koalisi Indonesia Hebring, eh, Hebat), yang beberapa waktu lalu sempat salah menyebut Blitar sebagai tempat kelahiran Bung Karno. Saya kira, tujuan beliau waktu itu juga sangatlah mulia, yaitu membuat masyarakat agar bisa lebih “Jas Merah”. Dan, toh, hasilnya brilian. Kini banyak masyakarat yang jadi tahu, bahwa kota kelahiran Bung Karno adalah Surabaya, bukan Blitar. Bayangkan, Pak Jokowi rela dibuli demi mencerdaskan pengetahuan sejarah masyarakat Indonesia. Sangat patriotik sekali, luar biasa.

Tapi walaupun begitu, Pak, saya tetap merasa ndak rela kalau njenengan harus dibuli sama netizen. Please, Pak, jangan ikuti cara pak Jokowi deh. Sebab bagaimanapun, tidak banyak masyarakat di luar sana yang punya pandangan bijak dan husnuzhon seperti saya. Ehem. Saya sungguh ndak rela njenengan dianggap sebagai Jenderal yang ndak hafal Pancasila. Keterlaluan betul kalau hal tersebut sampai terjadi.

Tolong jangan bikin blunder seperti ini lagi, Pak, jaga citra njenengan. Ingat, masih ada tahun 2019 lho. Cukup insiden kali ini jadi yang terakhir ya, Pak.

Tapi, walau bagaimanapun, semua itu kan kembali kepada njenengan. Saya ini apa sih, cuma bisa memberi saran, semata sebagai wujud perhatian saya kepada njenengan yang lulusan Akademi Militer, yang kebetulan lokasi kampusnya bersebelahan persis dengan kampung saya di Magelang. Sebab itulah saya jadi merasa punya beban moral untuk saling mengingatkan.

Nah, pesan saya yang terakhir, pokoknya Bapak jangan pernah berkecil hati ya. Jangan patah semangat hanya karena dianggap sebagai warga negara yang tidak hafal Pancasila. Entah salah itu disengaja atau tidak, bagi saya, njenengan masih tetap lebih baik kok, kan salahnya cuma beda tipis. Yah, setidaknya njenengan menyebut sila ke-empat Pancasila itu “Persatuan Indonesia”, bukan “Naik Haji Bila Mampu”. Bisa ambyar, Pak.

Sudah, begitu saja, Pak. Maaf apabila saya terlalu lancang.

Iklan

Salam sayang selalu.

Eh, eh, maaf, ketinggalan satu pertanyaan, Pak. Waktu menulis opini tersebut, njenengan tidak sedang menyamar, kan?

 

Terakhir diperbarui pada 28 Juni 2017 oleh

Tags: jokowiPancasilaVicky PrasetyoWiranto
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.