Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pilpres itu Cuma Dalih, Kita Aja yang Emang Doyan Ribut

Aditia Purnomo oleh Aditia Purnomo
21 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sok nyalahin Pilpres 2019 atau keberadaan Jokowi dan Prabowo itu cuma dalih aja. Kita sebagai bangsa emang dasarnya doyan ribut.

Ketika berita tabrakan dua kereta pada uji coba MRT di laman Facebook saya muncul beberapa waktu lalu, saya merasa bingung harus menanggapi kesuraman bangsa ini dengan cara bagaimana lagi.

Ya, mohon maklum, saya adalah warga yang mengharapkan negara ini bubar saja karena hampir pasti tidak punya masa depan kalau masyarakatnya benar-benar wagu todemax dalam memamah segala macam informasi.

Hedeh, perpecahan antar golongan/kelompok di negara ini sudah masuk dalam taraf yang amat memuakkan, dan menurut saya hampir mustahil untuk diselamatkan. Ibarat ada batasan tolol, nah yang beginian ini tololnya sudah sampai makrifat.

Iblis yang godain Nabi Adam pasti malu ternyata kita jauh lebih jago ketimbang dia. Udah lah, Blis, mending segera ajuin surat pensiun dini aja elu.

Jika tak percaya, coba saja lihat pada berita di soal kecelakaan MRT itu. Pada publikasi berita di lamannya, tertulis kepsyen yang menunjukkan bahwa kecelakaan tersebut terjadi di Hongkong. Sementara di preview image, dituliskan dengan provokatif: “Duh, Dua Kereta MRT Tabrakan Saat Uji Coba.”

Lalu seperti yang sudah diduga, pada kolom komentar, bakal dengan mudah kita temukan tanggapan model begini: “Wah, ini mah jelas salah Jokowi terlalu memaksakan kehendak buat pencitraan, makan tuh infrastruktur bodong.”

Omaigaaat.

Membaca komen model begitu kok saya mendadak jadi pengen segera nyemplung ke Kawah Candradimuka biar jadi Gatotkaca lalu mengacak-acak khayangan biar jadi muridnya Biksu Tong. Habis itu dapat kitab suci di Barat, bikin agama penyembah ubur-ubur, terus kiamat. Kelar deh Galaksi Bima Sakti.

Lha gimana saya nggak gemes-gemes tai ayam? Pada level kayak begini, saya sebenarnya bingung siapa yang patut dipersalahkan. Media yang bikin judul klikbet, netizen yang malas baca, politik yang bangsat, masyarakat yang sok benar, atau yang nulis ini?

Halah, embuh.

Memang semua punya porsi untuk disalahkan. Media yang memberitakan kejadian itu memiliki peran cukup besar untuk mengecoh publik dengan tidak menampilkan lokasi kecelakaan hingga membuat orang-orang mengira hal tersebut terjadi pada uji coba MRT di Jakarta.

Hal ini kemudian tersinkronasi dengan sangat manis, sehingga menjadikan ketololan yang harmonis karena bersetubuh dengan kemalasan membaca para inlander-inlander gagap teknologi. Lalu terpercik lah reaksi kimia yang menciptakan bahan bakar keributan. Terbakar, terbakar, lalu yang tadinya hangat lama-lama jadi panas.

Uniknya, ketika keadaan udah panas gitu, ada saja orang-orang jahat yang doyan dengan keributan. Mencari area-area panas di media sosial. Lalu bersolek mempertontokan Kegoblokan 4.0-nya di sana tanpa malu-malu. Seperti menikmati adanya perpecahan, perkelahian, maki-makian, lalu merayakan terbelahnya kehidupan masyarakat.

Iklan

Sama kayak efek Pilpres 2019 hari ini yang benar-benar membelah kehidupan masyarakat jadi tiga. Kalau bukan cebong, kampret, ya faksi golput. Hal ini diperburuk dengan keyakinan setiap kubu bahwa pilihan mereka paling benar yang di level tertentu menjadi amat menyebalkan. Jangan salah, ini termasuk yang golput loh ya?

Dulu sih saya punya keyakinan bahwa politik identitas yang diciptakan oleh media dan elite adalah biang keladi dari semua kesuraman ini. Apalagi belakangan Pilpres 2019 ini makin kelihatan bangsatnya karena atmosfer yang tercipta bikin perih di mata.

Walau kemudian, keyakinan itu makin terkikis dengan kesadaran bahwa… Halah! Memang kita saja yang masih menikmati segala macam konflik.

Hingga akhirnya, diri ini menemukan sumber permasalahan yang memang tidak bisa diselesaikan: kita saja yang senang ribut dan menikmati kalau ada musuh.

Konon sejarah sih manusia memang begitu akrab dengan keributan. Di zamannya Gajah Mada, masing-masing kerajaan yang ada fokus membangun kekuatan militer untuk merebut wilayah kerajaan lainnya.

Pakai cara apa? Ribut dong. Perang.

Di masanya penjajahan, ketamakkan Portugis, Belanda, Jepang, dan teman-temannya membangkitkan perlawanan masyarakat Nusantara. Ya, kesatuan dan persatuan yang dulu pernah kita punya memang hanya untuk bertarung bersama melawan kelompok yang lebih kuat.

Pakai cara apa? Ribut lagi dong. Masa iya merdeka gara-gara menang turnamen karambol? Kan nggak.

Makanya, di zaman yang katanya damai dan tenteram ini, opsi keributan yang bisa kita ciptakan hanyalah melalui politik (kadang juga bisa lewat bola dan agama sih) yang kebetulan sedang ada hajatannya dalam bentuk Pilpres 2019 ini.

Kesenangan untuk menyalah-nyalahkan orang lain, melihat orang lain tertindas dan kalah, seolah dapat area bermainnya. Seolah kita disediakan Colosseum untuk jadi gladiator-gladiator keributan yang semakin memanaskan negeri ini.

Pada akhirnya menyalahkan politik dan hajatan Pilpres 2019 atau keberadaan Jokowi dan Prabowo itu cuma alasan aja. Kesuraman bangsa ini lahir ya karena kita emang gemar dan doyan ribut. Kalau nggak ribut rasanya bisa sakaw gitu. Macam udah jadi kebutuhan primer.

Sandang, pangan, dan keributan.

Papan mah nggak penting. Lagian buat apaan sih rumah yang bisa menaungi panas dan hujan kalau nggak ada keributan? Ya nggak?

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2019 oleh

Tags: jokowikecelakaan MRTpilprespolitikpraboworibut
Aditia Purnomo

Aditia Purnomo

Asli Tangerang, tinggal di Jogja. Tukang review hape baru. Pernah ganti hape 50 kali dalam 3 tahun.

Artikel Terkait

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menegakkan Aturan Menghentikan Operasi Jagal Anjing

9 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.