MOJOK.COSelamat Rabu Abu, pembaca Mojok. Damai dunia selalu bersamamu. Menurut saya, makna luhur Rabu Abu seharusnya dirayakan setiap hari. Kenapa begitu?

Selamat hari Rabu Abu. Sudah punya rencana puasa masa prapaskah tahun ini?

Bagi saya, ini saya saja ya, Rabu Abu dan Jumat Agung punya kesan yang sangat dalam, ketimbang Kamis Putih atau Sabtu Malam Paskah. Alfa dan Omega. Awal dan akhir. Rabu Abu menjadi pertanda awal masa pertobatan umat Katolik. Sementara itu, Jumat Agung adalah puncak terbaik seorang manusia.

Menjalani dua hari suci ini, masih menurut saya, memberi saya banyak perspektif. Salah satunya, makna Rabu Abu dan Jumat agung sebetulnya universal. Sedikit banyak seperti makna kata “katolik” itu sendiri.

Kata “katolik” itu berasal dari Bahasa Yunani yang berarti ‘universal’. Kata “katolik” memang lekat dengan sebuah agama dan gereja sebagai tempat ibadahnya. Namun, tahukah kamu makna “katolik” di tengah masyarakat yang majemuk?

Makna “katolik” di tengah masyarakat majemuk dirangkum ke dalam tujuh tugas gereja untuk masyarakat. Saya cuplikkan tiga saja yang paling cocok dengan hidup di tengah masyarakat heterogen.

Pertama, pelayanan. Contoh nyata, misalnya, membantu korban bencana alam hingga membantu semua umat manusia yang miskin, cacat, dan butuh kasih sayang–para jomblo nggak usah senyam-senyum sendiri gitu. Tugas pelayanan gereja harus dilandasi rasa empati, peduli, dan paling utama: iklas.

Kedua, persekutuan. Sebagai orang Katolik, kamu harus mau terlibat dalam kehidupan sosial di sekitarmu. Menjaga tali persaudaraan, bukan hanya dengan saudara seiman, wajib dilakukan. Misalnya dengan ikut arisan RT/RW, berangkat kerja bakti, melayat tetangga, dan lain sebagainya. Jangan sampai tetanggamu ada yang sakit, tapi kamu tidak tahu.

Baca juga:  Maaf ... Situ Siapanya Tuhan, Ya?

Ketiga, pengungkapan iman. Pengungkapan iman bisa dilakukan dalam bentuk yang khusus, misalnya pelayanan dan perayaan ibadah ekaristi di gereja. Nah, kalau di tengah masyarakat, sebagai umat beriman, iman diungkapkan dengan cara-cara yang nyata, namun tidak kentara alias unjuk diri bahwa kamu itu orang yang punya “iman”.

Gampangnya begini. Kalau kamu berbuat baik kepada sesama, dari semua golongan, semua agama, dan ras, maka kamu sudah menunjukkan secara tidak langsung bahwa imanmu sehat. Iman, tanpa tindakan nyata, seperti tubuh tanpa roh; mati. Karena ada tertulis di Alkitab:

“…iman bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman…Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yakobus 2:22,24,26).

Sekarang saya tanya, tiga dari tujuh peran gereja (Katolik) di tengah masyarakat tersebut juga kalian amalkan sebagai umat dunia, bukan? Dan untuk membantu menjawab, mari kita memahami makna tobat yang diantarkan oleh Rabu Abu.

Kenapa abu? Ketika kamu menerima abu, imam akan berkata: “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu.” Tobat yang diwujudkan ke dalam abu menggambarkan kesadaran kalau semua manusia adalah sama. Mau kamu kaya, miskin atau rupawan, buruk rupa atau rohaniwan, begal jalanan semuanya sama saja di mata Tuhan.

Tobat adalah kesadaran akan kesalahan dalam diri. Bagaimana mau memperbaiki kesalahan kalau tidak sadar sudah berbuat salah, bukan? Dari tobat ini lahir pembaharuan hidup dan hidup dalam rasa saling mengasihi yang tulus. Jangan salah, terminologi ini berlaku universal, bukan untuk umat Katolik saja. Umat Katolik kan ya hidup di tengah masyarakat yang majemuk, nggak di tengah hutan dan hidup dari berburu dan meramu.

Baca juga:  Tolong Dicatat, yang Ingin Merobohkan Patung Kong Cho Itu Bukan Orang Tuban

Jadi, jika disederhanakan, Rabu Abu adalah wujud pernyataan diri untuk selalu hidup dalam kasih. Ujungnya adalah hukum tertinggi di dalam Katolik, yaitu Hukum Cinta Kasih. Bunyinya: “Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi diri sendiri.” Itu.

Lantas, apa hubungannya antara Rabu Abu dan Jumat Agung? Yesus menebus dosa manusia dengan menyerahkan dirinya kepada maut di Jumat Agung. Kematian yang Dia lakukan adalah bentuk tertinggi seorang manusia: berkorban untuk orang lain. Bukankah itu kompatibel di semua agama? Saya yakin, kok. Semua agama mengajarkan hukum cinta kasih dengan caranya sendiri.

Jika Rabu Abu menjadi pertanda bahwa kita siap berbuat baik untuk sesama, Jumat Agung menegaskannya menjadi hal yang konkret: berkorban. Alfa dan Omega. Awal dan akhir.

Bagi saya, ini makna yang luar biasa dan relate dengan kebutuhan bangsa akhir-akhir ini. Terutama ketika toleransi perlahan terkikis dan kalah oleh ego manusia. Oleh sebab itu, bukankah indah kalau makna yang begitu luhur ini kita rasakan setiap hari?

Berbuat baik tidak memandang musim, hari, atau jam. Berbuat baik harus kapan saja. Setiap hari. Sejak kamu membuka mata sampai kelak ketika alam baka sudah tersedia. Selamat Rabu Abu, pembaca Mojok. Damai dunia selalu bersamamu.

BACA JUGA Paus Fransiskus Mengajarimu Cara Mengolah Kebaikan Lewat Tampolan Tangan atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.