• 543
    Shares

MOJOK.CO – Perayaan Imlek adalah perayaan doa. Doa tentang kesejahteraan dan kebahagiaan. Gus Dur, orang Samaria yang baik hati, memberi kita satu lagi tanggal merah di kalender.

Ethnic cleansing adalah kejahatan kemanusiaan. Salah satu kejahatan yang paling buruk di muka bumi ini. Namun, ada satu peristiwa yang mendampingi ethnic cleansing, yang sebetulnya sama buruknya. Yang saya maksud adalah ketika manusia kehilangan budaya dan identitasnya.

Ethnic cleansing membunuh manusia secara fisik. Menghilangkan budaya dan identitas artinya memangkas warisan manusia, yaitu tali darah. Kamu kehilangan jati diri. Kehilangan sebuah tali penghubung dengan nenek moyangmu sendiri. Bukan diri kamu lagi yang seutuhnya. Orang Tionghoa mengalaminya ketika masa Orde Baru berkuasa.

Adalah Inpres No.14/1967 yang membuat orang Tionghoa tidak bisa merayakan Imlek. Jangankan Imlek, seni liongsamsi, penggunaan aksara Cina, bahkan lagu-lagu Mandarin yang biasanya terdengar di radio, kehilangan pesonannya. Sebuah beleid rasis yang membuat orang Tionghoa seperti dipaksa untuk “melebur” dengan lingkungannya.

Jangan salah, membaur dengan lingkungan sekitar itu sesuatu yang baik. Bertetangga, bersosialisasi adalah bagian dari kehidupan sosial manusia. Jangan sampai kamu enggak berangkat kerja bakti atau pergi melayat ketika hidup di tengah lingkungan yang cair. Di acara-acara seperti itulah keberadaanmu diakui.

Namun, membaur tidak berarti melebur. Sedangkan Inpres ala Orde Baru itu memaksa orang Tionghoa untuk melupakan identitasnya dan berubah jati diri menjadi “pribumi”. Orang Tionghoa masih bisa merayakan Imlek. Namun, mereka harus melakukannya di lingkungan keluarga saja.

Sebuah keadaan yang membuat orang Tionghoa dipandang menarik diri dari lingkungan. Perayaan hari besar mereka seperti terlihat eksklusif, di lingkaran sendiri sementara Lebaran, Natal, atau Paskah dirayakan seluruh Indonesia. Ehh, benar begitu, kan? Natal dan Paskah dirayakan semua orang Indonesia, bukan?

“Tak pelak, komunitas Cina seakan terpisah dari kelompok masyarakat lainnya. Agaknya juga, gara-gara beleid inilah selama bertahun-tahun kemudian tumbuh stigma komunitas Cina yang eksklusif dan enggan berbaur.” Tulis Fadrik Aziz Firdausi di Tirto (5/2).

Situasi berubah ketika Gus Dur menjad presiden. Gus Dur memandang tidak ada yang namanya pribumi. Toh “orang Indonesia” itu terdiri dari tiga ras, yaitu Cina, Melayu, dan Astro-Melanesia. Bahkan Gus Dur sendiri keturunan Cina-Arab. Bagi cucu Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU, dikotomi ini adalah sebuah kesalahan.

Gus Dur tidak hanya beretorika. Beliau menerbitkan Inpres No.6/2000 yang membatalkan Inpres No.14/1967. Sejak saat itu, orang Tionghoa bisa merayakan Imlek secara terbuka. Bahkan, hari raya Imlek menjadi hari libur nasional. Satu lagi tanggal merah di kalender. Siapa yang tidak suka dengan hari libur? Ada sih. Mereka yang anti dengan yang namanya “bukan golongan kami”. Tetap liburan, meski dengan menggerundel. Tapi agak plong hatinya ketika dapat angpao.

Gus Dur yang mengizinkan liburan Imlek, bagi kami orang Katolik, seperti orang Samaria yang baik hati. Kira-kira begini ceritanya.

Yesus ditanya oleh para ahli Taurat. “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Yesus malah balik bertanya. Khas Netizen sekarang. Ditanya apa, malah balik nanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

Para ahli Taurat menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

“Jawabmu itu benar. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup,” jawab Yesus.

Tetapi untuk membenarkan dirinya, ahli Taurat itu tanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

Nah, di sinilah ketika Yesus bercerita. Ini diambil dari Injil Lukas Bab 10, Ayat 25-37:

  1. Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
  2. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
  3. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
  4. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
  5. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
  6. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
  7. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
  8. Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Orang Samaria adalah orang yang dibenci orang Yahudi. Ia yang terluka, adalah orang Yahudi. Jadi, ia tidak mengharapkan pertolongan orang Samaria, melainkan dari seorang Imam dan Lewi yang kok ya kebetulan lewat tapi malah cuek. Dasar nggak peka.

Orang Samaria, yang tidak dinginkan itu malah memberikan pertolongan. Mengobati luka, bahkan mengantarnya ke penginapan untuk diurus. Orang Samaria ini baik hati. Be like orang Samaria, ya.

Pada titik tertentu, Gus Dur yang mengizinkan orang Tionghoa beribadah secara terbuka dan memberi kita libur Imlek adalah orang Samaria yang baik hati itu. Memang, Gus Dur mengakui bahwa dirinya adalah keturunan Cina-Arab. Namun tetap, Gus Dur itu representasi Islam ketimbang orang Tionghoa dan perayaan Imlek.

Namun untungnya, Gus Dur punya kedekatan batin dengan semua umat manusia. Sebagai orang yang pluralis, Gus Dur menghormati dan sayang dengan segala jenis manusia. Ia tidak membeda-bedakan mana yang perlu ditolong, mana yang nggak usah. Orang Tionghoa, yang ditekan oleh rezim dan stigma lingkungan, ia dekati sedemikian rupa.

Penyebutan Bapak Tionghoa itu bukan main-main. Ketika kamu, “orang luar”, diakui sebagai “bapak” sebuah kaum, sudah menggambarkan betapa kamu itu sangat dihormati dan disayangi. Diterima oleh orang lain, adalah salah satu anugerah dalam hidup ini. Penolakan, adalah sebuah rasa sakit, apa pun bentuknya.

Tahukah kamu, frasa “orang Tionghoa” itu digunakan oleh Gus Dur? Beliau enggan menggunakan istilah “suku”. Bagi beliau, semuanya adalah orang Indonesia.

Imlek adalah soal perayaan doa. Doa akan kesuksesan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Saya rasa semua orang mau ketiga-tiganya. Dan, ketiganya, bisa didapat kalau ada kedamaian di Indonesia ini. Kedamaian yang bakal ada kalau mereka yang minoritas bisa beribadah tanpa dikawal polisi atau TNI.

Orang Samaria yang baik hati? Gus Dur dan Imlek yang beliau kasihi.

  • 543
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles