• 23
    Shares

MOJOK.CO Ketimbang ikut debat capres kedua, Pak Jokowi dan Pak Prabowo lebih baik ikuti saran Mojok Institute yang dibuat secara swasembada dan prasmanan ini.

Sepenuhnya saya setuju dengan tulisan sobat redaktur Mojok, Ahmad Khadahi hari ini. Blio menulis sebuah esai yang intinya berkata bahwa banyak dari kita menonton debat capres kedua bukan ingin memahami visi dan misi Jokowi dan Prabowo. Kita, nonton debat capres karena menantikan keduanya bikin kesalahan untuk disoraki bersama-sama.

Ahmad Khadafi menulis esai dengan judul “Hal yang Sebenarnya Kita Cari dari Debat Capres Jokowi vs Prabowo”. Buat yang belum membaca esai penuh pelajaran agama dan biologi tersebut bisa kamu baca di sini, di dalam hatiku yang sejuk menenteramkan ini.

Saya kutipkan beberapa kalimat blio yang sungguh menarik. Simak:

“Sebenarnya sih, keduanya tidak berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang menakjubkan saat debat nanti, mereka cuma berusaha “tidak salah”. Tidak mengeluarkan statement yang merugikan kubu sendiri saja udah cukup. Sebab tidak seperti mentalitas debat di dunia siber yang bisa langsung menghapus pernyataan, di dunia nyata kamu nggak bisa kembali. Hajar terus.”

Yang Ahmad Khadafi maksud tentu saja Jokowi dan Prabowo di debat capres kedua ini. Ia menggambarkan bahwa saking hati-hatinya, setiap debat capres, sejak zaman dahulu kala di Indonesia, tidak pernah bisa menggigit. Terasa dingin, hambar, seperti hubungan yang dipenuhi kecurigaan. Khadafi lalu menulis seperti ini:

“Datanya sih kadang nggak salah, tapi eksekusinya sering aneh dan menghasilkan konklusi yang tidak selayaknya diucapkan. Kayak, “mungkin korupsinya nggak seberapa.””

“Hm, saya sih yakin Prabowo tidak ada maksud bicara seperti itu. Lalu mendadak rakyat Indonesia heboh. Membahas kekurangan dan kesalahan ucap dari si capres. Masing-masing ketemu aja salahnya di mana. Dan kalau mau jujur, memang untuk inilah debat capres diadakan: untuk mencari kepleset lidahnya di mana.”

Itulah esensi debat capres kedua yang bakal ditonton jutaan pasang mata di Kecamatan Ngaglik, Sleman, nanti. Mencari, lalu menyoraki kesalahan Jokowi atau Prabowo adalah misi suci di balik sok-sokan retorita ndakik-ndakik warganet menyaru ahli politik. Ahmad Khadafi menulis lagi:

Baca juga:  Jokowi Tikung Prabowo, Rekrut Yusril Ihza Mahendra Sebagai Pengacara

“Kenyataannya, ketimbang membahas soal program-program atau klarifikasi saat debat, masyarakat kita lebih suka kipas-kipas adegan salah ucap dari kedua capres.”

“Oke, masyarakat kita memang malas berdebat di muka umum karena bisa memperlihatkan kekurangan diri sendiri dengan gamblang, namun ada alasan lain yang membuat debat capres tetap ditonton, yakni: kita suka melihat orang (terutama yang tidak disukai) melakukan kesalahan. Apalagi jika itu dipertontonkan di khalayak ramai. Nah, dalam debat capres, hal itu dipertontonkan. Diproduksi berulang-ulang.”

Nah, kalian sudah paham, bukan? Debat capres kedua ini bahkan sudah menjemukan dan membosankan sejak belum dimulai.

“Apa, kamu tanya kenapa banyak kutipan di sini?

“Ha ya biar tulisan ini panjang lah. Buat apa lagi coba? Jadi saya nggak perlu capek-capek nulis. Ngana itu susah memahami.”

Oleh sebab itu, saya menganjurkan Jokowi dan Prabowo tiga alternatif kegiatan ketimbang berangkat ke debar capres kedua.

1. Ketimbang ikut debat capres kedua, mending Pak Jokowi dan Prabowo senam Tai Chi.

Memimpin sebuah negara butuh stamina mumpuni. Bukan hanya fisik saja, melainkan juga psikis. Kalau nggak kuat fisik menghadapi kunjungan kerja, Jokowi dan Prabowo bakal rentan kena flu. Presiden itu diibaratkan superhero yang bisa mengatasi semua masalah. Sampai-sampai ada cacat sedikit saja langsung dihujat warganet mahafilsuf.

Maka, untuk permasalahan itu, solusinya tidak lain dan tidak bukan adalah khilafah. Ahh maaf, maksud saya olahraga. Betul, olahraga adalah obat mujarab untuk mendongkrak daya tahan tubuh, sekaligus memperbaiki mood.

Linda Pescatello dari Universiy of Connecticut mengatakan penelitian sebelumnya sudah membuktikan bahwa terlalu lama duduk dan diam membuat suasana hati menjadi jelek. Oleh karena itu, bergerak dan olahraga, meski sebentar, dapat berakibat baik bagi suasana hati.

Hasil penelitian pada 419 partisipan menyebut berjalan kaki selama 15-20 menit saja sudah dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia dan mengurangi perasaan depresi. Efek paling besar terlihat pada mereka yang setiap harinya lebih banyak duduk saat bekerja.

Baca juga:  Ibu Megawati yang Konsisten sampai Pikun

Buat Jokowi dan Prabowo, ketimbang ikut debat capres, mending senam ringan saja. Ramai-ramai sampai bikin flash mob seperti menarik. Atau jika ingin lebih ringan, praktik senam Tai Chi saja. Supaya tetap bugar di usia lanjut.

2. Ketimbang ikut debat capres kedua, mending piknik.

Piknik juga ampuh untuk memperbaiki mood. Jokowi bisa mengajak keluarga untuk wisata kuliner ke Kampung Ketandan, Yogyakarta. Sedang ada festival pecinan di sana.

selain makanan haram, ada banyak varian menu yang menarik untuk dicicip. Malamnya bisa foto-foto di Tugu Jogja, seperti kebanyakan milenial gebleg yang ketika foto-foto jadi ganggu jalan raya kalau diklakson malah menatap dengan sinis.

Bagi Pak Prabowo, bisa piknik ke Prancis, menengok anak semata wayang, Didit Hediprasetyo. Ketum Gerindra tersebut bisa ikut nonton Paris Fashion Week yang tersohor itu. Siapa tahu dapat inspirasi berpakaian. Masak mau pakai safari terus, Pak. Milenial itu cepat bosan, lho.

3. Ketimbang ikut debat capres kedua, mending jadi penonton.

Serius, Pak Jokowi, Pak Prabowo, di Indonesia ini lebih enak jadi penonton. Bisa sorak-sorak ketika capres atau cawapres bikin kesalahan. Wah, langsung jadi trending topic itu kalau ada yang selip lidah. Seperti yang ditulis sobat redaktur Mojok, Ahmad Khadafi, bahwa mencari-cari kesalahan orang lain lalu menertawakan mereka di depan publik itu sungguh nikmat.

Bergabung saja dengan para fans 01 dan 02 yang melambungkan tagar uninstall Bukalapak, uninstall Jokowi, install Prabowo, dan Jokowi Orang Baik. Seru lho Pak, ikut memaki di media sosial, dengan menyertakan tagar, dan pakai kalimat sakti seperti “Maaf, sekadar mengingatkan,” atau “Apa hanya gue bla bla bla,” yang nggak mashoook itu.

Nah itu tiga saran kegiatan saya buat yang tersayang Pakde Jokowi dan Pak Prabowo. Sehat selalu ya, Pak. Kalian berdua itu keren semua. Pendukungnya enggak.

  • 23
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles