MOJOK.COSepak bola, terutama sosok-sosok seperti Mesut Ozil, Kevin De Bruyne, dan David Silva rajin mengingatkan makna luhur Idul Adha di setiap akhir minggu.

Selamat menunaikan hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah. Semoga amal bakti berbagi menjadi berkah untuk semua manusia. Daging kurban bukan sembaran daging, tetap simbol niat luhur manusia untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Kata “berbagi” dan “kurban” adalah warna dominan hari raya Idul Adha.

Kata “kurban” di hari raya Idul Adha punya arti persembahan kepada Allah sebagai wujud ketaatan umat muslim kepada-Nya. Lantara berkaitan dengan aksi, kata “kurban” mengandung dua unsur penting, yaitu si pemberi dan si penerima. Tidak hanya hubungan dengan Allah, berkurban juga berkaitan dengan kebardaan sesama. Agama mengajarkan kita untuk lebih banyak memberi, daripada menerima.

Sebuah pengingat yang penting untuk kehidupan bermasyarakat. Tidak berbeda dengan sepak bola, di mana di dalamnya juga terdapat aksi “memberi” dan “menerima”. Aksi tersebut terjadi di dalam kejadian yang kita sebut sebagai gol. Sebuah aksi Idul Adha yang bisa kita jumpai setiap akhir minggu.

Konsep pemain yang memberi gol disebut asis (umpan dari rekan satu tim yang menjadi gol). Pemain yang rajin mencatatkan asis menempati posisi yang mulia di dalam timnya. Bisa jadi, ia tidak akan mendapat banyak sorotan. Semua applause dan standing ovation akan diberikan kepada pemain yang banyak mencetak gol. Namun, tanpa keberadaan si pemberi ini, para pencetak gol terbanyak tidak bakal bisa bekerja dengan mudah.

Si pemberi hidup dalam wawasan sebuah tim. Ia adalah bagian dari tim yang ia bela. Dirinya tidak menjadi tim itu sendiri, sangat jarang menonjol. Sama seperti pengertian berkurban di hari raya Idul Adha. Ia orang yang mulia dan tiga egois. Pemain (atau manusia) dengan pandangan hidup seperti ini disebut altruisme dan dalam konsep tindakan disebut atruistik.

Baca juga:  Mendukung Arsenal dengan Tangan Terkepal, Menggugat Stan Kroenke

Altruisme, yang dikonsep oleh Auguste Comte, adalah perhatikan terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memerhatikan diri sendiri. Manusia yang hidup dalam konteks altruisme atau altruistik mempunyai untuk menolong, berguna untuk sesama, dan meningkatkan kesejahteran tanpa pamrih atau mengharapkan imbalan. Moralitas altruistik tidak sekadar mengandung kemurahan hati atau belas kasihan. Nilai ini diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih.

Di Liga Inggris saat ini, setidaknya ada tiga pemain yang kental dengan simbol altruisme. Mereka adalah Mesut Ozil, Kevin De Bruyne, dan David Silva.  Pemain-pemain dengan semangat Idul Adha inilah yang hidup dalam konteks altruisme. Mereka lebih bahagia dan puas ketika sudah membantu rekannya mencetak angka ketimbang membuat gol untuk pribadi.

Bahkan pernah disebut pertandingan tahun 2015 yang lalu, Mesut Ozil mendapatkan ruang yang terbuka di sisi kanan gawang lawan untuk menembak bola. Pilihan sasaran tembak ada tiga, yaitu ke tiang dekat, tiang jauh bagian atas, dan sudut bawah tiang jauh. Bahkan, jika pemain asal Jerman itu ingin mengumpan ke mulut gawang, di sana sudah belari Olivier Giroud siap menyambut.

Namun, pilihan-pilihan yang terbayang oleh manusia biasa itu tidak diambil oleh Mesut Ozil. Ia lebih memilih mencungkil bola ke seberang kotak penalti di mana Theo Walcott mengangkat tangan tanda meminta bola. Tidak terjadi gol, memang, namun dari sikap itu kita tahu bahwa semangat memberi Mesut Ozil sangat besar.

Baca juga:  Memuji Sikap Manajemen MU yang Terus Percaya Ole Gunnar Solskjaer

jika Arsenal punya sosok Mesut Ozil, Manchester City punya dua sumur kreativitas dalam diri Kevin De Bruyne dan David Silva. Musim lalu di Liga Inggris, kedua pemain ini memuncaki daftar pemberi asis terbanyak. Penurunan performa tim dan personal membuat Mesut Ozil tidak masuk dalam daftar lima besar pemberi asis terbanyak.

Ketika Pep Guardiola menangangi Manchester City, baik Kevin De Bruyne dan David Silva mengalami evolusi. Terkadang, keduanya bermain lebih dalam, lebih ke tengah. Dahulu, dua pemain ini banyak berman di dekat striker. Namun, perubahan posisi dan peran tidak membatasi keduanya. Jumlah 16 asis dan 11 untuk David Silva sudah cukup menjadi gambaran.

Insting untuk “berkurban kesempatan” dan “membahagiakan” orang lain adalah pesan istimewa yang bisa kita sesapi dari Mesut Ozil, Kevin De Bruyne, dan David Silva. Sebagai produk sosial, terutama di tengah gencetan situasi global, manusia terkadang melupakan sisi humanisnya. Tingginya pasak egoisme dan mementingkan diri sendiri mengalahkan pijakan nurani untuk menengok kesulitan orang lain. Manusia menjadi “manusia terasing”, yang merasa kelak tidak membutuhkan sesama, bahkan jika sudah mati pun siap mengubur dirinya sendiri.

Mesut Ozil, Kevin De Bruyne, David Silva, dan sepak bola itu sendiri mengingatkan kita arti “bersedekah” dengan semangat Idul Adha. Tidak peduli agama yang kamu peluk, “berkurban” dan berani menyandang label altruisme seperti Mesut Ozil, Kevin De Bruyne, dan David Silva selalu dibenarkan dan insyaallah menjadi petunjuk pintu surga.

Selamat Idul Adha pembaca Mojok yang baik hati. Semoga niat berkurban demi sesama tidak menggelegak di kala hari raya Idul Adha saja.