MOJOK.COValverde keluar di saat yang dirasa “tidak tepat”, tetapi Barcelona mendapatkan pelatih yang “berada di saat yang pas”. Dia bernama Quique Setien.

Setelah 145 laga dengan 97 kemenangan, 32 imbang, dan 16 kekalahan, Barcelona akhirnya berpisah jalan dengan Ernesto Valverde. Sebuah keputusan yang dipandang terlambat oleh banyak pengamat. Namun, bukankah kisah cinta selalu begitu? Terkadang, kisah cinta memang tidak pernah tepat waktu.

Jurnalis dengan nama besar di Eropa ramai-ramai menulis kalau seharusnya Barcelona sudah memecat Valverde setelah “malam kebangkitan Roma dari reruntuhannya”. Mereka mengulanginya lagi ketika Barcelona membuang keunggulan tiga gol di Anfield. Kini, pemilihan Quique Setien dianggap terlambat.

Barcelona tidak mudah pecat Valverde

Yang justru tidak mereka tulis adalah sesuatu yang penting. Valverde memang clueless di atas lapangan ketika magis Lionel Messi dan Luis Suarez luntur. Namun, di luar lapangan, dua pemain penting itu, ditambah beberaapa legenda seperti Xavi dan Iniesta begitu menghormati Valverde.

Messi tahu betul kebijakan Valverde di atas lapangan membuatnya bisa terus bermain di usia yang semakin senja. Tidak ada pemain yang lebih bahagia selain pemain yang bisa menendang bola secara rutin sampai tirai kariernya paripurna kelak. Manajemen Barcelona memang buruk sekali, tetapi mereka tidak bisa memecat Valverde begitu saja.

Satu hal penting itu perlu kita pahami. Memang sebaiknya, dalam memandang banyak hal kita juga mempertimbangkan sudut pandang yang lain. Sepak bola, pada intinya, bukan melulu soal menang dan kalah. Ada rasa manusia di dalamnya dan Valverde memang berhasil memeluk hati beberapa pemain penting Barcelona.

Barcelona membutuhkan waktu lama untuk mencari pengganti. Mengapa? Karena, mungkin, manajemen sadar tidak mudah mencari pelatih dengan identitas yang kuat. November 2019, dikabarkan nama Thierry Henry menjadi calon pengganti Valverde. Januari 2020, giliran Maurico Pochettino dan Xavi Hernandez. Ketiganya menolak untuk menggantikan Valverde.

Setelah menyeleksi banyak nama, manajemen menjatuhkan pilihan kepada Quique Setien, pelatih Real Betis. Setien, pelatih berusia 60 tahun itu bersedia menjaga kemudi Barcelona di pertengahan musim.

Bagi saya, semuanya tidak ada yang terlambat. Sekali lagi, cinta memang tidak pernah tepat waktu dan kita perlu memakluminya. Well, saya yakin fans Barcelona yang membaca kalimat ini akan mengernyitkan dahi. Bahkan marah di dalam hatinya karena seharusnya, Setien sudah datang sejak lama.

Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, kinerja buruk manajemen membuat banyak pelatih bakal susah payah menyeimbangkan kemudi. Kedua, apakah Henry dan Pochettino yang gagal di klub masing-masing punya gaya dan mental untuk memeluk hati para pemain senior? Ketiga, apakah Xavi, atau pelatih muda lainnya, punya kualitas teknis yang cukup?

Baca juga:  Komparasi dengan Real Madrid dan Ancaman Barcelona Jika Sukses Tenggelamkan Chelsea

Saya ingin fokus di poin pertama saja. Pertama, fans Barcelona perlu berterima kasih kepada Setien karena mau menggantikan Valverde. Kedua, Setien, mungkin, sosok yang tepat untuk datang di waktu yang “tidak pas ini”.

Sepak bola puritan Setien

Setien ditinggali skuat senja oleh Valverde. Banyak pemain senior yang dianggap sudah tidak kompatibel dengan zaman. Gerard Pique kehilangan akselerasi di kakinya, Sergio Busquets yang jenius itu kehilangan konsentrasinya, Lionel Messi dan Suarez sudah tidak mampu lagi bermain di sepak bola intensitas tinggi, dan “putusnya” generasi La Masia di tangan Valverde.

Bisa kamu bayangkan jika Pochettino yang terpilih. Dia akan melakukan perombakan skuat, yang mana membutuhkan dana besar. Padahal, di Januari 2020, tidak mudah membeli pemain. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatih yang bisa bekerja dengan skuat yang ada. Setien, dengan sepak bola puritannya, menjadi kandidat yang ideal.

Setien memegang teguh dua prinsip. Pertama, tidak ada yang namanya “tidak bisa melatih dengan skuat yang ada”. Kedua, Setien adalah sosok yang teguh mempertahankan sepak bola ekspansif dan ekspresif.

Miguel Delaney, chief football writer di Independent menyebut Setien sebagai pelatih puritan, gabungan keteguhan ide Pep Guardiola dan seorang petualang seperti Maurizo Sarri. Setien akan mempertahankan identitas dirinya, di mana pun dia melatih.

Setien pernah diingatkan kalau dirinya tidak akan bisa menerapkan sepak bola penuh kontrol di Real Betis. Saat itu, Betis ada di Divisi Dua dan cuma dianggap klub kelas dua di Kota Sevilla. Namun, Setien menolak anggapan itu dengan tegas.

“Ketika saya datang di Lugo, dunia berkata kalau saya tidak bisa bermain sesuai sepak bola saya sendiri di Segunda B. Saya bilang kami bisa…kami berhasil promosi dan bermain seperti sekarang ini. Saya punya semboyan: bahwa saya tidak akan pernah mengubah cara saya bermain sepak bola,” kata Setien, pelatih baru Barcelona itu.

“Terkadang, yang saya rasakan terhadap sepak bola, tidak masalah kamu menang atau kalah. Yang membuat saya tertarik adalah apakah tim itu bermain baik atau tidak, bahwa ada pesepak bola yang bekerja di sana, dan hal itu jauh melebihi diskusi soal hasil saja. Saya pria yang romantis. Saya suka sepak bola,” tambahnya.

Baca juga:  Arsenal, Barcelona, dan Manchester United Menderita Dalam Transisi

Setien begitu teguh mempertahankan identitasnya. Secara gamblang, dia menegaskan akan bermain sepak bola dari belakang, built from the back, dan memetakkan struktur sehingga pemain tidak terkspose.

“Jika kamu mengirim pesepak bola untuk menghadapi “singa” lalu tidak melindungi mereka ketika situasi memburuk, mereka tidak akan bisa memberimu kemenangan. Hal ini harus jelas sejak awal,” tegas Setien.

“Jadi, kami akan bermain sepak bola dari bawah. Kami akan meletakkan struktur untuk menyokongnya, menjelaskannya ke pemain, menonton video untuk menganalisis lawan. kemudian, setelah kami menyempurnakan fase pertama, kamu bisa memulai proses kreasi di lini depan. Kamu akan punya mekanisme untuk ini, koordinasi, dan koneksi di antara pemain akan terbangun,” jelasnya lagi.

Real Betis di tangan Setien bermain “indah di mata”, membuatmu tidak bisa memalingkan wajah sejak sepak mula. Bukankah identitas itu cocok dengan Barcelona? Bermain dari belakang, menguasai bola, dominan, terstruktur seperti Johan Cruyff dan disempurnakan oleh Guardiola, dan tentu saja bermain menghibur.

Setien, dengan kepercayaan diri yang memancar, tahu betul kalau dia perlu menginjeksikan kemenangan di dalam sepak bola indah itu. Karena pada akhirnya, bermain indah saja tidak cukup bagi fans Barcelona, bukan?

Selain identitas yang jelas dan teguh dipegang, Setien juga bukan pelatih yang harus dibelikan pemain. Dia bisa beradaptasi dengan peman yang ada. Kariernya di Real Betis kembali menjadi rujukan. Bagaimana dia membangkitkan lagi karier William Carvalho, bagaimana dia memaksimalkan Marc Bartra–bek yang dulu dibuang Barcelona–dan memaksimalkan Joaquin Sanchez yang kini sudah berusia 38 tahun.

Manajemen mungkin tahu kalau Januari bukan saat tepat untuk meremajakan skuat. Maka, dibutuhkan pelatih yang bisa bekerja dengan pemain yang ada. Barcelona membutuhkan identitas dan pelatih yang tahu memaksimalkan potensi pemain. Ketika melepas Valverde di Januari, “cinta yang tidak pernah tepat waktu” itu tersedia.

Semuanya seperti berjalan di atas jalurnya. Valverde keluar di saat yang dirasa “tidak tepat”, tetapi Barcelona mendapatkan pelatih yang “berada di saat yang pas”. Pada akhirnya, memang cinta itu, tidak pernah tepat waktu. Ia mengalir bersama waktu dan terbukti kelak juga bersama waktu.

BACA JUGA Bayern Pecat Pelatih, Mana yang Nyusul Kemudian: Arsenal, Barcelona, Mu? atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.