Episode Putcast kali ini kedatangan Prof. Zainal Arifin Mochtar, atau yang lebih akrab disapa Uceng.
Sosok akademisi hukum tata negara yang kerap muncul di ruang Publik—entah lewat kritik . komentar hukum atau roasting yang belakangan viral dan memantik beragam reaksi publik.
Dalam episode Putcast kali ini, Zainal Arifin Mochtar tidak hanya memberi klarifikasi atas roastingan-roastingan yang sempat ramai di media sosial, tetapi juga membuka pandangan baru terhadap cara berpikir, kegelisahan dan etika dalam berpendapat.
Dari Roasting ke Klarifikasi:
Obrolan dimulai dibuka dengan obrolan ringan: bagaimana sebuah kritik bisa berubah menjadi sensasi ketika dipotong dari konteks.
Zainal Arifin Mochtar menjelaskan bahwa kritik yang disampaikan dengan humor dan satir bukan lah serangan personal melainkan pertarungan wacana. Masalah muncul ketika publik yang hanya mengonsumsi setengah konten tanpa melihat utuh.
Dari situ obrolan bergeser ke isu yang lebih dalam lagi. Zainal Arifin Mochtar secara terang-terangan menyebut bahwa politik di Indonesia kerap tidak memberi ruang bagi pilihan ideal. Yang tersedia sering kali hanyalah pilihan-pilihan yang sama-sama bermasalah.
Pandangan Zainal Arifin Mochtar tentang Koalisi dan Kabinet
Zainal Arifin Mochtar juga mengulas bagaimana koalisi dałam sistem presidensial Indonesia. Ia juga menyodorkan posisi normatif yang tegas, ketua umum dan fungsionaris partai seharusnya tidak berada di kabinet. Kalaupun menjadi menteri, harus mengakhiri hubungan dengan partai.
Karena pilihannya sederhana kabinet hanya akan menjadi ruang kerja untuk kepentingan publik bukan menjadi arena konsolidasi politik.
Obrolan kemudian masuk ke wilayah yang lebih ringan, di sela-sela topik berat suasana mencair lewat cerita-cerita personal Uceng, mulai dari persahabatan dengan tokoh-tokoh hukum nasional, hingga hobi bermain domino. Detail-detail ini menjelaskan satu hal penting, di balik kritik yang pedas, ada sosok manusia biasa yang tertawa lepas menjalani hidup sehari-hari tanpa pretensi berlebihan.
Pada akhirnya, episode Putcast ini tidak hanya omong kosong belaka. Selama masih ada yang berfikir jernih berbicara dengan etika dan bekerja dengan hati, maka ruang perbaikan selalu ada dan bahkan tidak pernah sepenuhnya tertutup.









