Episode Putcast kali ini kita kedatangan Prof. Al Makin, seorang intelektual otoritatif yang mengajak kita menyelam ke jagat batin peradaban Persia. Ia tidak melihat Persia sekadar sebagai negara modern, tetapi sebagai simpul peradaban tua yang berpengaruh besar dalam teologi, filsafat, dan kebudayaan dunia.
Dalam obrolan yang padat ini, Prof. Al Makin membongkar akar monoteisme yang sering dianggap muncul begitu saja. Padahal, dalam perspektif sejarah, ia memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi Zoroastrianisme. Ia juga menjelaskan bagaimana gagasan tentang Tuhan, cahaya, dan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan berkembang lintas peradaban.
Melampaui isu politik, Prof. Al Makin menunjukkan bahwa sejarah Islam tidak berdiri sendiri. Banyak aspek penting justru dipengaruhi tradisi Persia. Misalnya, penulisan Sirah Nabawiyah oleh Ibnu Ishaq. Lalu perkembangan tafsir oleh Al-Tabari. Termasuk juga pembentukan nahwu dan sharaf oleh para sarjana non-Arab.
Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Islam tumbuh dari interaksi panjang. Ia bukan muncul dari ruang kosong, melainkan dari tradisi yang lebih tua dan kompleks.
Diskusi ini juga menyinggung fenomena unik di Nusantara. Ada ratusan figur “nabi” lokal yang muncul dalam berbagai periode. Dalam perspektif sosiologis, ini bisa dibaca sebagai ekspresi keberanian spiritual. Sekaligus sebagai respons atas kegelisahan sosial masyarakat.
Fenomena “600 nabi” ini bukan sekadar kontroversi teologis. Ia juga mencerminkan cara masyarakat Indonesia membentuk makna dan otoritas. Sayangnya, fenomena ini sering tidak mendapat ruang. Bahkan kerap berujung pada represi.
Pada akhirnya, obrolan ini membawa kita pada kesadaran penting. Konflik di kawasan seperti Iran bukan hanya soal geopolitik atau ekonomi. Ada ancaman besar terhadap warisan intelektual dunia.
Sebab ketika peradaban setua Persia terguncang, yang hilang bukan hanya stabilitas kawasan. Dunia juga berisiko kehilangan jejak panjang pemikiran yang membantu manusia memahami Tuhan, dunia, dan dirinya sendiri.








