Tamu Putcast kali ini adalah Mukti Entut, komika Jogja yang hidup di antara panggung tawa dan realitas yang kadang pahit—tapi selalu menemukan cara untuk tetap lucu saat diceritakan.
Obrolan dibuka dari hal sederhana yaitu soal perjalanan. Mukti memilih kereta, bukan pesawat, karena takut terbang. Pilihan itu pelan-pelan jadi metafora hidupnya. Saat banyak orang buru-buru naik kelas, Mukti justru nyaman berjalan pelan. Stasiun, jeda, dan pertemuan acak dengan orang asing memberinya cerita dan jarak untuk bernapas.
Hijrah dan Memaknai Profesi
Pertanyaan klasik pun muncul: kenapa tidak hijrah ke Jakarta saja? Mukti menjawab tanpa drama. Jakarta memberi peluang dan uang, tapi Jogja memberinya ruang. Ia bolak-balik Jakarta–Jogja sebagai strategi bertahan, bukan tanda ragu. Pulang baginya bukan kalah, tapi cara menjaga kewarasan.
Obrolan lalu mengeras. Mukti bercerita soal capek jadi figur publik. Disapa subuh di stasiun sambil dibilang “kurang lucu”, diminta foto saat saldo menipis, hingga dianggap selalu siap menghibur. Publik sering lupa: komedian juga manusia biasa—bisa lelah, bad mood, dan ingin diam.
Dari situ, Mukti memaknai ulang profesinya. Melucu kini ia anggap kewajiban dasar. Yang ia kejar justru pola pikir. Ia tetap menulis, tapi menolak terjebak hafalan. Stand up harus hidup, lahir dari kegelisahan nyata, bukan tekanan untuk selalu lucu.
Obrolan melompat ke sepak bola. Serie A, Juventus, Roma, hingga Como dibahas dengan antusias. Bagi Mukti, sepak bola Italia terasa lebih intim: sunyi, pahit, tapi jujur. Sepak bola mengajarinya menerima kalah, berharap waras, dan menertawakan nasib.
Percakapan lalu menepi ke Rembang. Ikan bakar, manyung, latoh, kopi lelet, dan tempe godhong jati hadir sebagai cerita. Rembang bukan sekadar kampung halaman, tapi sumber rasa. Di sana, hidup terasa pedas, pahit, dan apa adanya—seperti humor yang ia rawat.
Mimpi Mukti Entut
Mukti juga berbagi mimpi: show stand up bertema sepak bola dan menyapa kota-kota kecil di luar radar tur besar. Ia sadar risikonya. Tapi baginya, humor tak harus selalu lahir dari kota besar. Ia tumbuh justru dari pinggiran.
Soal film dan akting, Mukti bersikap realistis. Ia tahu batas dan posisi. Tak semua orang harus ke layar lebar. Ada yang cukup di panggung kecil, konten digital, atau cerita yang pelan tapi panjang umur.
Di akhir obrolan, satu hal jelas: Mukti nyaman jadi orang biasa yang kebetulan dikenal. Ia memilih berdiri di tengah, mengamati, lalu bercerita. Bahasa Jogja dan referensi lokal ia rawat sebagai identitas, bukan hambatan.
Putcast ini tak menjual motivasi kosong. Ia menawarkan hidup yang dijalani dengan sadar: memilih pulang, menerima capek, dan merawat humor. Karena tawa terbaik selalu lahir dari hidup yang benar-benar dijalani.









