Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Redaksi oleh Redaksi
6 Januari 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tamu Putcast kali ini adalah Mukti Entut, komika Jogja yang hidup di antara panggung tawa dan realitas yang kadang pahit—tapi selalu menemukan cara untuk tetap lucu saat diceritakan.

Obrolan dibuka dari hal sederhana yaitu soal perjalanan. Mukti memilih kereta, bukan pesawat, karena takut terbang. Pilihan itu pelan-pelan jadi metafora hidupnya. Saat banyak orang buru-buru naik kelas, Mukti justru nyaman berjalan pelan. Stasiun, jeda, dan pertemuan acak dengan orang asing memberinya cerita dan jarak untuk bernapas.

Hijrah dan Memaknai Profesi

Pertanyaan klasik pun muncul: kenapa tidak hijrah ke Jakarta saja? Mukti menjawab tanpa drama. Jakarta memberi peluang dan uang, tapi Jogja memberinya ruang. Ia bolak-balik Jakarta–Jogja sebagai strategi bertahan, bukan tanda ragu. Pulang baginya bukan kalah, tapi cara menjaga kewarasan.

Obrolan lalu mengeras. Mukti bercerita soal capek jadi figur publik. Disapa subuh di stasiun sambil dibilang “kurang lucu”, diminta foto saat saldo menipis, hingga dianggap selalu siap menghibur. Publik sering lupa: komedian juga manusia biasa—bisa lelah, bad mood, dan ingin diam.

Dari situ, Mukti memaknai ulang profesinya. Melucu kini ia anggap kewajiban dasar. Yang ia kejar justru pola pikir. Ia tetap menulis, tapi menolak terjebak hafalan. Stand up harus hidup, lahir dari kegelisahan nyata, bukan tekanan untuk selalu lucu.

Obrolan melompat ke sepak bola. Serie A, Juventus, Roma, hingga Como dibahas dengan antusias. Bagi Mukti, sepak bola Italia terasa lebih intim: sunyi, pahit, tapi jujur. Sepak bola mengajarinya menerima kalah, berharap waras, dan menertawakan nasib.

Percakapan lalu menepi ke Rembang. Ikan bakar, manyung, latoh, kopi lelet, dan tempe godhong jati hadir sebagai cerita. Rembang bukan sekadar kampung halaman, tapi sumber rasa. Di sana, hidup terasa pedas, pahit, dan apa adanya—seperti humor yang ia rawat.

Mimpi Mukti Entut

Mukti juga berbagi mimpi: show stand up bertema sepak bola dan menyapa kota-kota kecil di luar radar tur besar. Ia sadar risikonya. Tapi baginya, humor tak harus selalu lahir dari kota besar. Ia tumbuh justru dari pinggiran.

Soal film dan akting, Mukti bersikap realistis. Ia tahu batas dan posisi. Tak semua orang harus ke layar lebar. Ada yang cukup di panggung kecil, konten digital, atau cerita yang pelan tapi panjang umur.

Di akhir obrolan, satu hal jelas: Mukti nyaman jadi orang biasa yang kebetulan dikenal. Ia memilih berdiri di tengah, mengamati, lalu bercerita. Bahasa Jogja dan referensi lokal ia rawat sebagai identitas, bukan hambatan.

Putcast ini tak menjual motivasi kosong. Ia menawarkan hidup yang dijalani dengan sadar: memilih pulang, menerima capek, dan merawat humor. Karena tawa terbaik selalu lahir dari hidup yang benar-benar dijalani.

Tags: Komika IndoeKomika JogjaPutcaststand up comedy

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

7 Januari 2026
Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
AI. MOJOK.CO

Masa Depan AI yang Terasa Menyenangkan Dimanfaatkan Juga oleh Kelompok Kriminal di Dunia

3 Januari 2026

Video Terbaru

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa  MOJOK.CO

5 Video Mojok Terpopuler 2025: Manuskrip Jawa hingga yang Membuat Tawa 

1 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.