Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Redaksi oleh Redaksi
11 Januari 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan spesies burung endemik Pulau Jawa yang menjadi kebanggaan nasional Indonesia. Burung berukuran sedang ini memiliki panjang tubuh sekitar 56–70 cm, dengan ciri khas jambul berwarna cokelat kemerahan yang membuatnya mudah dikenali.

Bagi Kang Zaini, Elang Jawa adalah spesies yang sangat menarik. Pertama, karena sebarannya yang terbatas hanya di Pulau Jawa. Kedua, karena statusnya sebagai salah satu satwa nasional akibat kelangkaannya, sekaligus kemiripannya dengan burung garuda yang menjadi lambang negara.

Sisi Menarik Elang Jawa

Di balik kelangkaannya, Elang Jawa juga memiliki sisi menarik dalam proses berkembang biak. Spesies ini bereproduksi setiap satu hingga dua tahun sekali.

“Reproduksi hanya satu butir telur, ada yang satu tahun sekali dan dua tahun sekali tergantung si induk merawat di anak. Setelah peneliti-penelitian kalau setiap setahun sekali biasanya anaknya itu betina, kalau 2 tahun sekali jantan” Ujar kang zainik

Saat ini, jumlah populasi Elang Jawa dilaporkan mengalami peningkatan hingga mencapai kurang lebih 1.000 ekor. Namun, di balik kabar baik tersebut, tersimpan ancaman yang tak bisa diabaikan. Perubahan hutan dan iklim membuat habitat Elang Jawa semakin tertekan dan berpotensi membahayakan keberlangsungan hidupnya.

Upaya Pelestarian

Meski demikian, Kang Zaini dan rekan-rekannya tidak pernah menyerah dalam upaya menjaga populasi Elang Jawa. Berbagai langkah terus dilakukan untuk melindungi spesies ini.

“Dalam beberapa dekade terakhir ini kami mencoba misalnya upaya untuk perlindungan habitat penting contohnya misalnya melibatkan masyarakat, pemerintah setempat untuk melindungi sarang itu, yang kedua misalnya dengan program penanam pada kawasan elang jawa” Ujarnya

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang terjebak dalam paradigma keliru: menganggap merawat sama dengan melestarikan. Padahal, merawat Elang Jawa membutuhkan teknik dan pengetahuan khusus. Jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat, upaya memelihara justru bisa mempercepat kepunahan spesies ini.

Karena itu, Kang Zaini berpesan agar masyarakat tidak pernah berpikir bahwa memelihara Elang Jawa adalah sesuatu yang membanggakan. Sebaliknya, tindakan tersebut justru dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat hilangnya Elang Jawa dari alam liar.

Tags: Gunung PangrangokalcersokPelepasan Elang Jawa

Terpopuler Sepekan

Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.