Sebat dulu kali ini bersama host Alit dan Patub, Mojok kedatangan Agus Mulyadi buat ngudarasa banyak hal—dari hal absurd sampai yang cukup bikin mikir.
Obrolan dimulai dari cerita kocak soal cara mengajari anak mengenal hewan, yang kadang justru lebih masuk lewat suara “kuluk-kuluk” daripada penjelasan serius.
Tak hanya itu obrolan berlanjut ke perdebatan receh soal toilet jongkok vs duduk, yang entah bagaimana bisa dibawa ke ranah identitas budaya dan “martabat bangsa”.
Dari situ, pembahasan melebar ke fenomena nama anak sampai cara orang tua memaknai hal-hal kecil dalam tumbuh kembang anak.
Obrolan kemudian bergeser ke dunia yang lebih dewasa, soal ekonomi kreator dan realita pahit jualan buku di era marketplace.
Agus Mulyadi cerita soal potongan platform yang makin mencekik, sampai akhirnya neu celah lewat konten receh dan affiliate barang-barang nyeleneh tag justru punya pasar sendiri.
Nggak berhenti di situ, obrolan juga nyemplung ke dunia perfilman—mulai dari pengalaman pertama casting yang serba canggung, sampai kesadaran baru bahwa bikin film itu ribet, capek, dan penuh kompromi.
Dari situ muncul “tobat” personal, seorang Agus Mulyadi jadi mikir dua kali sebelum ngece film Indonesia, karena sudah ngerasain sendiri proses di balik layar yang ternyata nggak sesederhana yang terlihat.
Semua pembicaraan di rangkai dalam obrolan ngalor ngidull khas Sebat Dulu yang kadang meloncat dari urusan parenting, identitas budaya, ekonomi kreatif sampai refleksi soal seni dan proses berkarya.
Jadi, pastikan nonton sampai habis, karena bisa jadi di tengah obrolan yang kelihatannya “wangun” itu, kamu justru nemu hal-hal yang relate banget sama kehidupan sehari-hari.









