MOJOK.CO – Kenalan sama cowok atau cewek yang cuakepnya nggak ketulungan. Begitu PDKT, ternyata sama-sama Batak dan marganya satu lingkaran. Hadeh.

Urusan mencari jodoh atau pasangan di Indonesia merupakan urusan yang kompleks, apalagi kalau kamu terlahir sebagai suku Batak kayak saya. Misalnya, ketemu cowok atau cewek yang cakep nih. Lalu kenalan, lantas jalan bareng, terus sudah nyaman, sudah mengutarakan perasaan, eh tahu-tahunya ito.

Yaaah, batal deh semua.

Bingung?

Oke, oke saya jelasin.

Buat yang belum tahu, kalau ada cowok atau cewek yang marganya sama dengan kita atau dalam rumpun marga yang sama, maka mereka disebut ito. Dan itu cilaka dua belas namanya.

Sampai-sampai kadang membatin, “Ah, andaikan marga saya bukan ini.” Namun apa boleh buat, marga Batak melekat dari lahir, sekolah, kuliah, drop out, nganggur, mati. Nempel terus. Dan identitas marga kayak gini lah yang tak jarang bikin orang Batak jadi kesulitan untuk menemukan jodoh—entah pacar atau calon suami maupun istri.

Kayak datang ke acara gereja misalnya, lantas kamu ketemu cowok atau cewek kesepian yang cuakepnya nggak ketulungan. Sudah kenalan, sudah ngopi-ngopi bareng, udah ke gereja bareng, udah mengutarakan perasaan, eh tahu-tahunya bere (ponakan) atau tulang (paman).

Buat yang belum tahu, bere itu kalau si marga ibunya si cewek sama dengan marga si cowok. Nah kalau kayak gitu, otomatis si cewek manggil tulang dan si cowok manggil bere. Dapat pacar kagak, dapat saudara iya. Hadeh.

Saking banyaknya ikatan saudara, saya pribadi suka segan sama cewek yang baru kenal dan tiba-tiba manggil saya dengan sebutan tulang gara-gara ibunya semarga dengan saya. Bahkan, saking banyak dan ruwetnya, saya punya ponakan yang seumuran dengan saya. Meski ya kadang seru juga sih, keponakan sama paman jadi teman main karena seumuran.

Baca juga:  5 Kode Ampuh ke Pacar Agar Kalian Cepat Nikah

Itulah kenapa, misalnya kamu orang Batak, hal pertama yang baiknya dilakukan saat kenalan sama orang Batak yang jomblo, lebih baik langsung tanya dulu boru atau marganya apa. Lalu tanya amang (bapak) dan inang (ibu)-nya marga apa.

Kalau ternyata si cewek tidak semarga denganmu atau ibunya si cewek tidak sama marganya denganmu, waaah selamat. Tahap pertama sudah lulus, tinggal tahap berikutnya, ia mau nggak sama kamu? Kalo masih mau juga, waaah selamat lagi! Tahap kedua lolos!

Yah, kalau masih nggak mau dukun bertindak ikhlaskan saja.

Tahap berikutnya tinggal martandang ke rumah cewekmu itu dan berkenalan dengan keluarganya. Kalau keluarganya seneng dan menerima kehadiranmu, selamat tahap ketiga lolos!

Dan tinggal gimana kamu berkomunikasi dengan natorasmu (baca: bapak dan ibumu).

Nah, ini nanti jadi pertaruhan terakhir. Soalnya, kalau ternyata si cewek semarga atau ibunya semarga denganmu, yaaa udah jangan ngarep banyak-banyak. Dukun sejago apapun bertindak nggak bakal mempan.

Yang bisa dilakukan kemudian, ya mundur teratur secara perlahan tapi tetap jaga hubungan baik. Yaaah, kali aja siapa tahu si cewek yang tiba-tiba jadi saudara itu bisa comblangin ke temen ceweknya yang sama cantiknya. Atau bisa jadi rekan kerja, rekan bisnis, atau teman plus saudara “baru” yang baik.

Paling istimewa kalau ketemu pariban apalagi kalau ia kebetulan lagi jomblo.

Buat yang nggak tahu pariban, pariban itu adalah cewek yang marganya sama atau dalam satu lingkaran marga dengan marga ibu si cowok. Nah, jadi kalau sudah begini, biasanya yang ada malah diharapkan berpacaran, bahkan kalau perlu sampai menikah.

Oleh karena itu, kenalan sama orang cakep yang semula biasa-biasa aja akan jadi sedikit beda kalau kamu tahu, orang cakep itu ternyata adalah paribanmu. Panggilannya pun berubah dari yang tadinya anjeng, coek, atau woy (karena saking akrabnya) tiba-tiba jadi manggil iban. Yah, meski ya nggak semua orang Batak manggil pariban-nya dengan sebutan “iban” juga sih.

Baca juga:  Melihat Pacar Selingkuh dan Nggak Bisa Ngapa-ngapain

Lantas gimana kalau mau mempersunting marga Batak?

Wah, harus siap siap dengan sinamot.

Nah, sinamot itu sejenis mahar yang dibayarkan kepada pihak keluarga perempuan. Beberapa orang bilang sih sinamot ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan, tingkat karier, atau kemapanan keluarga si perempuan. Meski kebanyakan sih jumlah sinamot ditentukan berdasarkan kesepakatan antara dua keluarga.

Tapi itu baru sinamot. Belum dengan catering, sewa jas, prewedding, sewa pemusik, pawang hujan, buzzer untuk sebar undangan, dan berbagai prosesi adat lainnya. Sudah kerja lembur bagai quda pun pasti sulit, apalagi kalo gaji UMR.

Gimana kalo kamu sebagai orang batak udah di umur 30 ke atas dan belum juga punya pacar?

Wah, itu tambah pusing lagi.

Apalagi kalo orang tua tanya, “Didia haletmu anakku/boruku? Baen jo ibana tu jabu.” (Di mana pacarmu? Bawa lah dia ke rumah).

Tambah pusing lagi kalau di acara nikahan kalau ada yang nanya, “Andigan do ho menyusul?” (kapan kau menyusul?)

Padahal, yang nanya juga tahu, mencari pacar orang Batak itu nggak gampang juga sulit. Itulah kenapa mencari pacar di luar Batak merupakan salah satu solusi. Masalah itu akan jadi sulit kalau orang tua kukuh minta harus sesama dengan Batak dan—plus—harus seiman.

Akhirnya yang terjadi, bukannya nambah daftar calon jodoh untuk membangun rumah tangga, yang ada malah jadi menambah jumlah anggota keluarga. Hadeh, gini amat ya jadi orang Batak kayak saya gini, acara cari jodoh malah kebanting mendadak jadi acara Tali Kasih.

BACA JUGA Rasanya Jadi Batak-Jawa yang Kena Stereotipe Etnis atau tulisan rubrik ESAI lainnya.