“Oh, begini susahnya jadi John Lennon!”

Kabarnya, kalimat itu dikatakan pada tahun 2005, ketika Ahmad Dhani terlibat seteru dengan Front Pembela Islam (FPI). Saat itu, mereka berpolemik soal penggunaan simbol agama dalam album Laskar Cinta. Pendek cerita, kedua pihak sepakat menyudahi perkara tersebut. Dewa bersedia merevisi logo dan mencetak ulang sampul albumnya.

Saya tak ingin mengungkitnya terlampau jauh. Toh, Ahmad Dhani sekarang sudah mau berbagi panggung dengan FPI. Hanya saja ada sedikit rasa penasaran, khususnya tentang hal-hal yang bikin Ahmad Dhani memikirkan posisi John Lennon.

Kedua musisi ini memang memiliki kemiripan. Soal popularitas, jangan ditanya. Penghargaan selalu memburu mereka, baik secara personal maupun grup band masing-masing.

Jika majalah Rolling Stone, dalam “100 Greatest Artists”, menempatkan The Beatles di peringkat 1, maka  John Lennon sendiri berada pada urutan 38. Nama John Lennon, oleh majalah yang sama, juga ditempatkan di urutan 5 dalam “100 Greatest Singers of All Time”.

Kategori sebagai musisi berpengaruh juga diterima oleh Ahmad Dhani dan Dewa 19. Pada November 2013, majalah Rolling Stone Indonesia merilis “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa”. Dalam daftar tersebut, nama Ahmad Dhani berada pada peringkat 24. Sedangkan, Dewa 19 di peringkat 23.

Kita bisa sepakati, kedua musisi ini adalah legenda: John Lennon milik dunia, Ahmad Dhani milik Indonesia. Gimana?

John Lennon dan Polemik Agama

Selain kemiripan prestasi, antara Ahmad Dhani dan John Lennon, ada juga kemiripan kontroversi. Jika Dhani dituduh menyalahgunakan simbol agama, maka John diprotes karena mengucapkan kalimat yang dianggap melecehkan agama.

Pada Maret 1966, London Evening Standard  mempublikasi pernyataan John Lennon yang menyebut, “Aku tidak tahu yang mana yang akan musnah lebih dulu, Rock n Roll atau ajaran Kristen. Tapi, yang jelas kami sekarang lebih terkenal dibanding Yesus.”

Pada Juli 1966, pernyataan itu kembali dicetak Datebook di Amerika Serikat. Publik meresponnya dengan protes. Beberapa stasiun radio dilarang memutar musik the Beatles. Piringan hitam dan memorabilia band tersebut juga dibakar.

Aksi massa kemudian membuat keangkuhan John Lennon melembek. Seperti kucing yang disiram air panas. Pada 11 Agustus 1966, the Beatles menggelar konferensi pers di Amerika, yang juga menjadi hari permintaan maaf John Lennon.

Setelah itu, mereka melanjutkan tur dan, gilanya, tetap meraih sukses besar. Namun, kontroversi akibat pernyataan John Lennon melahirkan keputusan bahwa tur itu adalah konser terakhir di Amerika sebagai the Beatles.

BACA JUGA:  Walau Habib Rizieq Gagal Mudik Lagi, Kita Tetap Kudu Siap-Siap

Belum cukup. John Lennon masih punya kontroversi yang beda-beda tipis dengan pernyataan tadi. Begitu keluar dari the Beatles, John memutuskan solo karir. Dia juga terlibat aktif dalam gerakan anti perang. Pada tahun 1971, ia merilis sebuah karya monumental yang dikenang hingga hari ini: Imagine.

Sejumlah pihak memujinya sebagai lagu anti perang universal. Jimmy Carter, mantan Presiden AS, sempat membuktikan secara langsung. Ketika mengunjungi 125 negara, dia mengaku selalu mendengar Imagine diputar. Benar-benar universal bukan?

Namun, selain pujian, tak sedikit juga kecaman terhadap lagu ini. Sebagian pihak menilainya bernuansa antichrist atau freemason. Alasannya, karena dalam lagu Imagine, John membayangkan terciptanya sebuah perdamaian di dunia tanpa agama dan negara.

Merespon tuduhan itu,dalam sebuah wawancara John menyatakan, jika tiap manusia bisa membayangkan dunia dalam keadaan damai, tanpa pembedaan agama dan tidak membanding-bandingkan Tuhan, maka konsep perdamaian dalam Imagine bisa terwujud.

Di situ saya mengingat Gus Dur, John!

John Lennon, Ahmad Dhani, dan Politik

Imagine memang tidak bisa ditafsir secara dangkal. Kita perlu menelusuri latar historis dan ideologis ketika John Lennon menciptakannya. Kita memang boleh melakukan kritik. Tapi, kalau melempar tuduhan tanpa dasar, itu namanya: me-mode-pesawat-otak.

Pada 1971, ketika Imagine dipublikasi, Amerika Serikat masih berperang melawan Viet cong. Sejak mengirim pasukan pada tahun 1957 untuk melatih pasukan Vietnam Selatan, AS belum berhasil menaklukkan Vietnam Utara.

Sebagai bayaran untuk menguasai Vietnam, pemerintah AS harus menerjunkan lebih dari 2,6 juta tentaranya. Belum cukup, sepanjang tahun 1961 hingga 1971, militer AS menyemprotkan sekitar 11-12 juta gallon senjata kimia di hampir 10 persen wilayah Vietnam Utara.

Tak seperti kehebatan yang diceritakan dalam film Rambo, perang Vietnam memberi kerugian yang sangat besar bagi Amerika Serikat. Dalam perang tersebut, diperkirakan lebih dari 50 ribu personil militer AS tewas, serta ratusan ribu menderita cacat dan trauma.

Biaya perang ini juga nyaris membuat pemerintah AS bangkrut. Total pengeluaran untuk perang itu sekitar 173 miliar US dolar, atau setara dengan nilai 730 miliar US dolar di tahun 2013.

Nah, di masa-masa suramnya kemanusiaan itu, ada orang macam John Lennon. Dia jadi salah satu simbol gerakan pemuda, sekaligus salah satu orang yang paling diawasi pemerintah AS.

Apakah John Lennon menerima konsekuensi tadi hanya karena menyanyi? Tidak. Itu hanya salah satu cara kampanye saja. Selain nyanyi, John Lennon terlibat dalam demonstrasi, serta diskusi-diskusi politik.

BACA JUGA:  Wawancara Ahok di Hari Toilet Internasional

Pada tahun 1969, dia dan Yoko Ono, istrinya, pernah menyewa billboard di berbagai kota. Tujuannya, untuk mengkampanyekan perdamaian. Jika hari ini kita mengenal sebuah kalimat “War is Over (if you want it)”, ingatlah pada pasangan suami-istri ini.

Pemerintah yang hobi perang dan dikuasai kebencian, sampai kapanpun, akan terusik dengan ide-ide perdamaian. John dan Yoko kemudian dideportasi. Sanksi politik itu tidak bikin kapok. Kampanye anti perang terus mereka suarakan. Pada tahun 1969 pula, John dan Yoko melakukan aksi Bed-In for Peace di hotel Hilton, Amsterdam.

Di Indonesia tahun 2016, dalam ruang dan waktu berbeda, kita menyaksikan sosok Ahmad Dhani.

Ia jadi salah satu seniman yang menceburkan diri dalam dunia politik. Seperti halnya John Lennon, kini negara dan masyarakat begitu memperhatikannya. Saya tak mempermasalahkan keputusannya terjun dalam dunia politik. Siapapun warga negara Indonesia, termasuk juga seniman, berhak untuk itu.

Ahmad Dhani masih juga bersinggungan dengan polemik seputar agama. Bedanya, kini dia tidak hadir sebagai tertuduh. Sekarang, dia justru tampil sebagai seorang yang lantang membela agama. Malahan dalam aksi 4 November lalu, ia dapat giliran orasi di panggung yang sama dengan panggung FPI.

Belakangan, ramai beredar video orasi Ahmad Dhani yang diduga menyinggung simbol negara. Kita belum tahu keasliannya. Cuma, dalam video tersebut, dia menyesalkan sikap Presiden yang tidak menghargai habib dan ulama. Kemudian disusul kata-kata semacam ba *sensor* bi atau an *sensor* jing.

Dalam suasana itu, saya mengingat sesuatu yang kritis sekaligus puitis. Jika John Lennon membayangkan ketiadaan agama, maka Ahmad Dhani menyampaikan dengan cara yang lebih lembut. Lagu “Atas Nama Cinta”, yang dia ciptakan, memuat bait-bait seperti di bawah ini:

… Begitu mudah mulutmu berkata
Atas namakan Tuhan
Demi kepentinganmu

 … Apapun cara kau tempuh
Untuk dapatkan yang kau mau
Meski harus jual murah
Ayat suci Tuhan

Meski terlihat jernih dan tenang, tapi kekuatan pesannya begitu terasa: Jangan bawa nama Tuhan dan Jangan jual murah ayat suci Tuhan!

Terlepas dari polemiknya hari ini, saya yakin, di luar sana masih ada banyak orang yang juga kangen padanya. Mungkin, mereka berharap cinta bisa membawa Dhani kembali. Tapi sudahlah. Ahmad Dhani sudah buat keputusan.

Sekarang, kita hanya bisa benar-benar tahu arti dari kalimat: “Oh, begini susahnya jadi John Lennon!”

No more articles