Belakangan di X sedang ramai tweet yang membahas unpopular opinion mengenai suatu hal. Terus terang, saking banyaknya yang bahas, saya sampai mau muntah baca tweetnya. Soalnya, bosan banget, isinya itu terus, apalagi saya kerap melihat unpopular opinion tentang PNS.
Mengingat saya sendiri adalah seorang abdi negara, saya jadi penasaran, juga memvalidasi opini yang ada. Nah, salah satu unpopular opinion yang saya baca di X mengatakan kalau banyak masyarakat yang nggak peduli PNS turun gaji (ada kemungkinan pemotongan tukin/TPP). Bahkan ada klaim yang mengatakan masyarakat juga nggak terlalu peduli bila buruh negara dipecat.
Jujur, saya sih nggak kaget bila masyarakat nggak peduli PNS dipecat atau diturunkan gajinya. Malahan saya cukup mewajari perkara ini, sebab pendapat tersebut jelas tak muncul dari ruang kosong.
Pelayanan publik kurang memuaskan
Harus diakui pelayanan publik di Indonesia belum memuaskan seluruh lapisan masyarakat. Jangankan layanan data kependudukan dan perizinan usaha, layanan setor pajak saja kadang masih kurang memuaskan. Padahal, jelas-jelas (ada) rakyat mau menyetor uang dengan suka rela ke negara.
Ada banyak faktor sih yang bikin hal ini terjadi. Tapi, menurut saya, faktor birokrasi yang ribet dan layanan yang kurang ramah adalah dua faktor utama kurang maksimalnya kepuasaan masyarakat terhadap pelayanan publik. Selama persoalan ini nggak benar-benar dibereskan oleh pemerintah maka masyarakat nggak akan benar-benar terpuaskan dengan pelayanan publik.
Minimal layanan publik pemerintah harus sama dengan atau minimal mendekati pelayanan bank BCA. Yang bahkan satpamnya bisa satset dan cekatan membantu nasabah. Bukan ngang ngong ngang ngong doang ketika ditanya.
Masyarakat sudah muak dengan oknum PNS yang korup
Setiap tahun ada saja oknum PNS korup yang diciduk Aparat Penegak Hukum (APH). Bahkan ada data yang mengatakan bahwa koruptor di Indonesia kebanyakan berlatar belakang abdi negara. Sebagai buruh negara, saya cukup prihatin mengenai hal ini.
Para oknum PNS yang korup bikin masyarakat muak. Walaupun sebenarnya nggak hanya korupsi ratusan juta, miliaran sampai triliunan rupiah yang bikin muak rakyat. Korupsi kecil-kecilan oknum PNS bikin jengkel bangsa kita juga.
Istilah ilmiah korupsi kecil ini adalah petty corruption. Gampangnya, petty corruption adalah penyalahgunaan wewenang dalam skala kecil untuk memuluskan pelayanan publik. Misalnya ada masyarakat yang ingin cepat mengurus KTP/KK dengan cara memberikan uang pelicin.
Jika korupsi kecil sampai besar masih dilakukan oknum PNS, bagaimana rakyat mau punya empati ketika abdi negara mengalami kondisi sulit seperti sekarang ini?
PNS dianggap beban negara
Dua faktor tadi membuat citra abdi negara hancur di mata masyarakat, hingga membuat rakyat menganggap PNS itu beban negara. Sudah digaji dengan pajak rakyat kerjanya masih kurang optimal pula. Ditambah belakangan ada yang menggoreng profesi ini. Contohnya ada yang mengatakan PNS itu menerapkan prinsip 804, alias datang jam 8, terus kosong atau nggak ngapa-ngapain selama di kantor, lalu jam 4 pulang ke rumah.
Bukan hanya itu saja. Terakhir saya lihat ada tweet yang mempertanyakan apa benar PNS itu gajinya serius tapi kerjanya hanya main-main. Semua hal tersebut makin menguatkan citra PNS sebagai beban negara. Walaupun hal tersebut belum tentu 100 persen benar.
Masalah ini, dari dulu nggak kelar. Meski ya ada perubahan ke arah yang lebih baik, tapi tetap saja masih mudah ditemukan hal tersebut terjadi. Besar harapan saya ada perubahan radikal di birokrasi kita. Terutama dalam hal pelayanan publik. Sehingga masyarakat bisa lebih puas dan nyaman dengan pelayanan pemerintah.
Syukur-syukur jika pelayanan PNS sudah baik, rakyat lebih mengerti kesulitan abdi negara. Khususnya yang terjadi belakangan ini. Apabila kualitas pelayanan publik kita masih jalan di tempat, jangan harap masyarakat menaruh simpati terhadap pekerjaan ini.
Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Kerja Jadi PNS dan Sektor Pemerintahan Lainnya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















