Toilet Mal Sebagai Tempat Favorit Untuk Bercermin: Soalnya Selalu Terlihat Good Looking, sih

Artikel

Seto Wicaksono

Ungkapan bahwa perempuan gemar sekali berdandan untuk saat ini rasanya tidak relate, mengingat bahwa banyak diantara para lelaki yang juga senang berlama-lama berdiam diri di depan cermin. Merapikan kemeja, rambut, mencukur kumis dan jenggot. Belum lagi bergaya sambil menaikan alis kiri dan menurunkan alis kanan—jika membaca tulisan ini, tidak perlu sampai diperagakan.

Sebagai lelaki, coba jujur saja pada diri sendiri bahwa kita pun perlu berdandan, terlihat rapi, dan memantaskan diri. Ya, sewajarnya saja dan tergantung nyamannya seperti apa. Selama nyaman dan percaya diri, apa pun yang dikenakan biasanya akan terlihat pantas dan cocok. Memang, tidak semua orang suka berdandan, ada pula sebagian orang yang cuek, untuk perempuan biasanya minimalis tanpa make up, dan bagi para lelaki biasanya tanpa harus mengenakan pakaian rapi dan tanpa disisir—yang penting nyaman dan sesuai dengan selera berbusana juga bergaya.

Meskipun begitu, saya rasa semua orang paling tidak suka bercermin untuk sekadar merapikan rambut atau pakaian. Yang menyebalkan dan tak jarang merasa malu adalah sewaktu bercermin di mobil yang sedang parkir, eh nggak tahunya di dalam mobil ada orang dan sampai membuka jendela. Berkaca dari persoalan tersebut, seharusnya ada himbauan bahwa orang yang di dalam mobil tidak perlu menurunkan jendela apalagi di luar sedang ada yang bercermin. Tunggu paling tidak seseorang tersebut beres bercermin dan merapikan beberapa hal—biar nggak malu-malu amat.

Kemudian kebiasaan bercermin ini seperti hobi atau kesenangan bagi banyak orang saat dalam aktivitas apa pun. Selama ada cermin pasti secara otomatis pandangan akan beralih—ke cermin tersebut—untuk paling tidak bagaimana melihat diri sendiri atau memastikan tetap terlihat rapi dan kece. Saat bekerja, jalan kaki, apalagi ngegym—entah kenapa para pria dan sebagian orang harus sambil bercermin—agar terlihat macho, gitu?

Baca Juga:  Merawat Kenangan Melalui Helm Ala Generasi 90-an

Tapi, bercermin memang penting sih, apalagi untuk merapikan beberapa hal terutama dalam merias wajah seperti yang biasanya para wanita lakukan. Merapikan alis, bedak, lipstik, dan lain sebagainya. Jangan sampai riasan wajah berantakan atau tidak rapi seperti anak-anak yang baru selesai mandi dan wajahnya ditaburi bedak secara sembarang oleh sang Ibu.

Ngomong-ngomong, kenapa sih beberapa Ibu jika memakaikan bedak ke anak kadangkala sembarang? Memang nggak mau yang rapi dan sewajarnya saja? Kalau pun buru-buru, rasanya tidak harus seperti itu. Hadeeeh.

Kembali lagi soal bercermin, toilet mal menjadi salah satu tempat favorit untuk kegiatan bercermin sampai dengan berswafoto. Siapa yang belum pernah berfoto di toilet mal? Saya pikir, mungkin anak kelahiran 90-an kebanyakan sudah mencoba hal ini, bisa jadi hanya untuk koleksi pribadi, diposting di media sosial, atau menjadi profile picture.

Maklum, kegiatan berfoto di dalam toilet seperti menjadi salah satu kesenangan tersendiri. Jujur saja, saya pun pernah melakukan hal yang terbilang alay ini. Bagaimana tidak, saat berfoto harus sambil menahan malu karena dilihat oleh orang yang memang butuh bercermin di toilet. Mungkin pikir mereka, “kayak nggak ada tempat lain buat foto-foto aja, sih—norak”.

Saya pun belum mengetahui pasti apa yang menyebabkan bercermin di toilet mal bisa terlihat lebih tampan—atau cantik untuk perempuan. Namun perlahan saya menyadari, sepertinya ada kaitannya dengan warna lampu. Biasanya, lampu toilet mal atau di hotel berwarna kuning—oranye cerah, dan itu menjadikan banyak dari kita ketika bercermin terlihat lebih menarik. Itu hanya teori sembarang dari saya, sih. Intinya, sadar atau tidak bercermin di toilet itu biasanya membuat seseorang merasa lebih tampan dan cantik.

Baca Juga:  Bermesraan di Ruang Publik: Wajar atau Nggak Tahu Malu?

Lalu saya menyadari, agar mood stabil dan positif, sebetulnya kita tidak perlu repot mengikuti apa yang selalu dikatakan motivator terkait berpikir positif dimulai dari pagi hari dengan berkata sambil meyakinkan diri sendiri “saya bisa, saya percaya diri, hari ini saya berhasil”, dan seterusnya. Dari yang saya rasakan, dipaksa untuk berpikir positif itu capek, Mz.

Begini, baiknya beli lampu seperti di toilet mal saja, pasang di rumah sendiri—bisa di kamar atau toilet—lalu kalau bete, bercerminlah. Dengan kita selalu terlihat dan merasa good looking, mood positif dan percaya diri pun otomatis akan dirasakan setiap harinya, toh?

---
4


Komentar

Comments are closed.