Salah satu tulisan Mojok menyebut Telagamurni adalah desa terbaik di Bekasi. Saya paham klaim itu banyak disetujui banyak orang. Desa ini memang punya hampir semua yang dibutuhkan masyarakat modern.
Coba saja sebut fasilitas yang kalian butuhkan, semuanya ada di Desa Telagamurni Bekasi. Mulai dari stasiun KRL, sekolah berbagai jenjang, rumah sakit, pasar, minimarket hingga pom bensin. Bahkan, pom bensin Shell yang identik dengan kota-kota besar pun ada di sana.
Apabila ukuran desa terbaik hanya soal kelengakan fasilitas, saya tidak bisa mendebatnya. Dibandingkan banyak desa lain di Kabupaten Bekasi, Telagamurni memang menawarkan kemudahan yang sulit ditandingi.
Akan tetapi, semakin lama saya renungkan, semakin saya merasa predikar “desa terbaik” terlalu menyederhanakan kenyataan yang ada. Sebab, kualitas sebuah wilayah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya fasilitas yang berdiri di dalamnya.
Telagamurni Bekasi memang Lengkap, tetapi tidak selalu nyaman
Selama ini fasilitas sering dianggap sebagai ukuran utama kualitas hidup. Semakin banyak sekolah, rumah sakit, pusat perdagangan, dan akses transportasi, semakin baik pula sebuah wilayah dinilai. Padahal, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Di Telagamurni Bekasi, saya pernah berangkat pagi dengan keyakinan bisa sampai sekolah dalam hitungan menit. Nyatanya, saya malah ikut mengular bersama ratusan motor yang keluar dari gang-gang perumahan. Jalanan yang seharusnya menjadi akses justru berubah menjadi antrean panjang orang yang sedang berpacu dengan jam masuk kerja.
Pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang langka di Telagamurni Bekasi. Pada jam-jam sibuk, kepadatan kendaraan sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Ironisnya, sisi ini jarang muncul ketika orang membicarakan keunggulan Telagamurni. Yang sering disebut adalah stasiunnya, rumah sakitnya, pasarnya, atau sekolahnya. Padahal fasilitas-fasilitas tersebut juga mendatangkan konsekuensi berupa kepadatan yang semakin sulit dihindari.Karena itu, saya selalu merasa ada yang kurang pas ketika kenyamanan sebuah wilayah diukur hanya dari banyaknya fasilitas yang tersedia. Praktis memang, tetapi praktis belum tentu nyaman.
Sudah nggak ada kesan desanya
Alasan lain yang membuat saya ragu, Telagamurni Bekasi perlahan kehilangan karakter yang biasanya melekat pada sebuah desa. Kemajuan memang membawa banyak manfaat. Namun, ada hal lain yang perlahan ikut berubah.
Ketika mendengar kata desa, saya membayangkan tempat di mana para tetangga masih tahu nama hingga kondisi satu dengan lainnya. Bukan sekadar tahu warna pagar rumah di sebelah.
Sayangnya hal itu mulai sulit dijumpai di Telagamurni Bekasi. Setiap pagi, jalanan dipenuhi orang-orang yang bergegas menuju kawasan industri di Cikarang, bahkan Jakarta. Ketika sore tiba, arus yang sama bergerak pulang ke rumah. Aktivitas ekonomi memang hidup, tapi saya sering merasa desa ini lebih berfungsi sebagai tempat transit daripada ruang kehidupan yang benar-benar dihidupi.
Saya tidak sedang meromantisasi kehidupan di kampung atau desa. Namun, sulit rasanya menolak kesan bahwa Telagamurni hari ini lebih mirip kota yang kebetulan masih berstatus desa. Dan, bagi saya, itu bukan otomatis sebuah keunggulan.
Predikat “desa terbaik” yang relatif
Pada akhirnya, bagian yang paling mengganggu saya bukan Telagamurni itu sendiri, melainkan cara kita mendefinisikan kata “terbaik”.
Kalau terbaik berarti paling strategis, mungkin Telagamurni memang layak berada di urutan atas. Kalau terbaik berarti paling mudah mengakses fasilitas publik dan transportasi, saya juga tidak punya banyak bantahan.
Masalahnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh jumlah bangunan yang berdiri di suatu wilayah. Ada faktor kenyamanan, kepadatan penduduk, hubungan sosial, hingga kemampuan sebuah daerah mempertahankan identitasnya di tengah arus urbanisasi.
Lagi pula, Kabupaten Bekasi tidak hanya terdiri dari Telagamurni. Masih banyak desa lain yang mungkin tidak memiliki stasiun KRL atau akses semudah Telagamurni, tetapi menawarkan keunggulan lain yang tidak kalah penting. Ada desa yang kehidupan sosial masyarakatnya masih sangat kuat, ada yang mampu mempertahankan budaya lokal, dan ada pula yang berkembang tanpa kehilangan karakter khasnya.
Karena itulah saya tidak serta-merta setuju ketika Telagamurni disebut sebagai desa terbaik di Kabupaten Bekasi. Saya mengakui Telagamurni berkembang pesat dan menawarkan banyak kemudahan. Namun, perkembangan dan predikat “terbaik” bukanlah dua hal yang selalu sama.
Penulis: Ridhwan Nabawi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












