Sudah nggak ada kesan desanya
Alasan lain yang membuat saya ragu, Telagamurni Bekasi perlahan kehilangan karakter yang biasanya melekat pada sebuah desa. Kemajuan memang membawa banyak manfaat. Namun, ada hal lain yang perlahan ikut berubah.
Ketika mendengar kata desa, saya membayangkan tempat di mana para tetangga masih tahu nama hingga kondisi satu dengan lainnya. Bukan sekadar tahu warna pagar rumah di sebelah.
Sayangnya hal itu mulai sulit dijumpai di Telagamurni Bekasi. Setiap pagi, jalanan dipenuhi orang-orang yang bergegas menuju kawasan industri di Cikarang, bahkan Jakarta. Ketika sore tiba, arus yang sama bergerak pulang ke rumah. Aktivitas ekonomi memang hidup, tapi saya sering merasa desa ini lebih berfungsi sebagai tempat transit daripada ruang kehidupan yang benar-benar dihidupi.
Saya tidak sedang meromantisasi kehidupan di kampung atau desa. Namun, sulit rasanya menolak kesan bahwa Telagamurni hari ini lebih mirip kota yang kebetulan masih berstatus desa. Dan, bagi saya, itu bukan otomatis sebuah keunggulan.
Baca juga Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan.
Predikat “desa terbaik” yang relatif
Pada akhirnya, bagian yang paling mengganggu saya bukan Telagamurni itu sendiri, melainkan cara kita mendefinisikan kata “terbaik”.
Kalau terbaik berarti paling strategis, mungkin Telagamurni memang layak berada di urutan atas. Kalau terbaik berarti paling mudah mengakses fasilitas publik dan transportasi, saya juga tidak punya banyak bantahan.
Masalahnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh jumlah bangunan yang berdiri di suatu wilayah. Ada faktor kenyamanan, kepadatan penduduk, hubungan sosial, hingga kemampuan sebuah daerah mempertahankan identitasnya di tengah arus urbanisasi.
Lagi pula, Kabupaten Bekasi tidak hanya terdiri dari Telagamurni. Masih banyak desa lain yang mungkin tidak memiliki stasiun KRL atau akses semudah Telagamurni, tetapi menawarkan keunggulan lain yang tidak kalah penting. Ada desa yang kehidupan sosial masyarakatnya masih sangat kuat, ada yang mampu mempertahankan budaya lokal, dan ada pula yang berkembang tanpa kehilangan karakter khasnya.
Karena itulah saya tidak serta-merta setuju ketika Telagamurni disebut sebagai desa terbaik di Kabupaten Bekasi. Saya mengakui Telagamurni berkembang pesat dan menawarkan banyak kemudahan. Namun, perkembangan dan predikat “terbaik” bukanlah dua hal yang selalu sama.
Penulis: Ridhwan Nabawi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













