Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
15 Juli 2026
A A
Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pola pikir orang desa yang ini perlu banyak orang contoh.

Dunia digital kita hari ini dipenuhi oleh konten-konten si paling paham finansial yang hobi membagikan tips ajaib. Salah satu yang paling sering lewat di beranda saya adalah sekte pemuja “Motuba” alias Mobil Tua Bangka.

ADVERTISEMENT

Narasinya selalu sama, kurang lebih begini, “ngapain beli motor NMax atau PCX baru seharga Rp35-40 juta kalau dengan uang yang sama kamu bisa dapet mobil yang bisa bikin kamu nggak kehujanan?”

Sebagai orang yang akhirnya mencicipi punya mobil setelah sekian lama mengandalkan roda dua, saya cuma bisa tersenyum kecut tiap kali membaca narasi tersebut.

Pertama, harus diakui harga segitu memang bisa dapat mobil. Ada banyak pilihannya. Bahkan di bawah itu masih bisa dapat Suzuki Carry bagong atau Toyota Starlet. Namun, tentu saja perbandingan tersebut tidak pernah setara. Iya, saran membeli mobil seharga motor itu adalah saran paling tidak relevan bagi orang desa.

Ilusi “nggak kehujanan” dan dompet yang kebobolan

Mari kita bedah kalimat ndakik “yang penting nggak kehujanan”. Betul, naik mobil tua berharga Rp30 jutaan memang bikin kalian terhindar dari air hujan. Tapi, para pemuja motuba ini sering kali lupa (atau sengaja lupa) menceritakan apa yang terjadi setelah hujan reda. Mobil tua dengan harga setara motor matik bongsor itu bukan sekadar kendaraan; mereka adalah barang ringkih yang butuh perhatian medis berkala.

Beli NMax baru dari dealer berarti Anda membeli kedamaian pikiran minimal untuk tiga sampai lima tahun ke depan. Tugas Anda cuma isi bensin dan ganti oli rutin. Selesai.

Sementara beli motuba seharga 30 juta akan membuat perjalanan kedepan menjadi lebih menantang, apalagi tidak menyimpan cadangan uang untuk persiapan “medis”. Bulan ini AC-nya mati, bulan depan radiatornya bocor, dua bulan lagi kaki-kakinya bunyi. 

Baca Juga:

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

Dan yang paling menyebalkan adalah biaya perawatan mobil (sekalipun itu mobil tua) tetaplah menggunakan tarif mobil, bukan tarif motor. Sekali masuk bengkel, uang yang keluar bisa setara dengan biaya servis tahunan motor NMax.

Bagi masyarakat desa yang perputaran uangnya cenderung dihitung berdasarkan musim panen atau pendapatan harian yang terukur, ketidakpastian biaya “kesehatan” mobil ini adalah kabar menyeramkan. Itu belum dihitung BBM yang sangat jauh perbandingannya.

ADVERTISEMENT

Logika mobilitas orang desa

Alasan kedua kenapa mobil murah tidak pernah laku sebagai pengganti motor di desa adalah perkara fungsionalitas wilayah.

Orang desa itu harus kita akui, jarang sekali melakukan perjalanan keluar daerah secara personal. Aktivitas harian mereka berputar di radius yang itu-itu saja: ke sawah, ke pasar kecamatan, mengantar anak ke sekolah, atau nongkrong ke rumah tetangga sebelah RT.

Untuk mobilitas model begini, motor matik adalah raja yang tak terbantahkan. Ia bisa selap-selip di jalan setapak pinggir sungai, lincah melewati pematang sawah, dan gampang diparkir di mana saja tanpa perlu membabat halaman rumah orang.

Lalu bagaimana kalau sekali-kali ada keperluan keluar daerah yang agak jauh? Misalnya menjenguk saudara yang sakit di kabupaten sebelah, atau takziah?

Di sinilah indahnya sistem sosial pedesaan. Orang desa tidak perlu punya mobil pribadi hanya untuk dipakai tiga bulan sekali. Kalau ada acara keluar kota, cukup sewa mobil Elf atau patungan menyewa mobil pickup milik tetangga sebelah yang memang membuka jasa rental.

Dengan sistem patungan, biayanya jauh lebih murah, ada sopirnya yang sudah ahli. Dan, yang paling penting mereka tidak perlu pusing memikirkan biaya pajak tahunan, ganti ban yang botak, atau bingung mau menaruh garasi mobilnya di mana.

Pilihan yang membumi

Pada akhirnya, keengganan orang desa membeli mobil murah bukan karena mereka tidak mampu atau kurang melek finansial. Justru sebaliknya, mereka adalah ekonom paling ulung yang tahu persis bagaimana cara mengalokasikan uang secara efisien.

Bagi mereka, membelanjakan uang Rp35 juta untuk sebuah NMax yang mesinnya halus, tarikannya enteng, dan menaikkan harga diri saat dipakai bersosial, jauh lebih masuk akal. Membeli mobil tua yang jangankan dipakai ke luar kota, baru dipanasi di halaman rumah saja kadang mendadak punya berbunyi “nging” keras-keras.

ADVERTISEMENT

Jadi, untuk kalian yang masih sering membagikan tips “beli mobil seharga motor”, cobalah sesekali main ke desa. Duduklah di warung kopi, lalu tawarkan mobil tua kalian kepada bapak-bapak di sana. Paling-paling, kalian cuma akan diketawain sambil disodori pisang goreng, lalu mereka akan berkata: “Mending buat beli NMax, Mas, sisanya bisa buat beli pupuk.” Dan jujur saja, logika mereka sama sekali tidak salah.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kredit Motor Memang Jauh Lebih Menyiksa daripada Kredit yang Lainnya, bahkan Bikin Kredit Rumah Kelihatan Masuk Akal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh

Tags: Desamobilmobil bekasmobil tuaMotororang desa
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

5 Motor Terbaik untuk Ngarit dan Angkut Pakan Ternak selain Yamaha NMAX

5 Motor Terbaik untuk Ngarit dan Angkut Pakan Ternak selain Yamaha NMAX

13 Juni 2022
5 Hal yang Bikin Yamaha Freego 125 Kurang Diminati Terminal Mojok.co

4 Hal yang Bikin Yamaha Freego 125 Kurang Diminati, padahal Kece

30 April 2022
Tukang Bubur Motor, Satu-satunya Hal Baik yang Bisa Dibanggakan dari Tambun Selatan Mojok.co

Tukang Bubur Motor, Satu-satunya Hal Baik yang Bisa Dibanggakan dari Tambun Selatan

4 Juli 2025
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
5 Tips Merawat Motor yang Jarang Dipakai

5 Tips Merawat Motor yang Jarang Dipakai

27 Juni 2023
Rekomendasi 6 Mobil Bekas Murah dengan Vibes Mewah

Rekomendasi 6 Mobil Bekas Murah dengan Vibes Mewah

15 November 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.