Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
26 April 2026
A A
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saat sedang asik scroll Instagram, mata saya tertahan pada rilis terbaru Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dikeluarkan oleh Setara Institute. Ada sepuluh kota yang dinobatkan sebagai jawara toleransi oleh lembaga ini. Salatiga di posisi puncak, disusul Singkawang, Semarang, hingga Ambon di peringkat ke-10. Yang bikin saya hampir tersedak adalah saat melihat peringkat ke-9: Kota Tegal.

Harikling! Temenan kie? Kotane nyong, Jon!

Melihat kota kelahiran saya nangkring di urutan ke-9 sebagai kota paling toleran se-Indonesia, jelas ada rasa perasaan bangga. Capaian ini semakin memperpanjang daftar istimewa tentang Tegal. Kota Bahari iya, gudangnya warteg iya, bahasa ngapak yang khas iya, sampai kota yang punya sate kambing dengan cita rasa yang juara. Komplit!

Tapi, sejurus kemudian muncul pertanyaan jahil di kepala. “Jogja mana? Bukannya Jogja ini Kota Pelajar dan salah satu pusat budaya? Kok malah absen dari daftar sepuluh besar kota paling toleran di Indonesia?”

Indikator kota paling toleran

Ini saya bukan lagi ngeledek Jogja, ya. Saestu mboten. Saya hanya sedang tidak habis pikir. Maksud saya begini. Umumnya kalau kita bicara tentang Tegal, satu hal yang orang ingat adalah logat ngapaknya. Kata pendatang, orang Tegal itu kalau ngomong kayak orang berantem. Ngomongnya cepet, merepet, dengan nada yang high voltage pula. Ditambah, bahasa kasar juga acap kali keluar.

Lain dengan Jogja. Bak bumi dan langit, tutur kata orang Jogja itu alus, pelan, berirama, dan sangat menjaga perasaan lawan bicara. Sudah seperti perwujudan dari tata krama yang luruh pokoknya. Ibaratnya, kalau orang Tegal itu ‘gas pol’, orang Jogja itu ‘nderek langkung’.

Tapi nyatanya? Yang masuk sebagai 10 besar kota paling toleran bukan Jogja, melainkan Tegal.

Sebelum menyalahkan hasil survey. Mari kita lihat dulu, apa sebenarnya indikator yang digunakan Setara Institute untuk penilaian.

Baca Juga:

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Berdasarkan rilis berita, Setara Institute memiliki empat variabel utama yang dihitung. Yaitu, regulasi pemerintah kota (apakah ada Perda yang diskriminatif?), tindakan pemerintah (bagaimana respon wali kotanya kalau ada konflik?), regulasi sosial (tingkat gesekan di masyarakat), dan demografi agama.

Lalu, kenapa Jogja tidak masuk?

Nah, ini bagian yang agak pahit tapi perlu dibahas. Pernah dengar istilah The Paradox of Expectations?

Jadi, menurut riset psikologi sosial, semakin tinggi tuntutan untuk tampil sempurna secara moral (citra luar), seringkali semakin besar pula tekanan internalnya. Akhirnya, sistem di dalamnya justru rapuh dan semrawut. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai Expectation-Reality Gap.

Jogja, karena sudah terlalu lama menyandang predikat sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya, akhirnya malah terjebak sendiri. Sibuk menjaga imej sehingga isu-isu sensitif di akar rumput, seperti intoleransi laten, malah sering terselip atau sengaja ditutupi. Demi apa? Ya, demi menjaga marwah yang selama ini sudah kadung melekat. Akhirnya, yang muncul justru perilaku defensif yang menghambat penyelesaian konflik.

Tegal layak masuk dalam peringkat 10 besar

Sementara Tegal? Luarnya terlihat kasar. Ngomongnya saja pakai ‘asu’ dan ‘raimu’. Tapi soal toleransi? Jangan tanya lagi.

Tegal punya Kelenteng Tek Hay Kiong yang berdiri megah, gereja-gereja tua, dan masjid yang tersebar. Di tiap festival budaya pun, warga guyup rukun. Mau itu warga lokal, Tionghoa, pendatang, semua kumpul bareng. Tidak pernah ada gesekan.

Saya jadi ingat Natal tahun lalu, Pemerintah menyulap jalanan dengan lampu hias model pohon natal. Bahkan, di depan gedung lama Universitas Pancasakti, ada pohon natal raksasanya.

Dan itu belum ada apa-apa, ya. Yang paling memorable tentu ketika Pemkot Tegal membuat acara pengajian dan dangdutan di waktu yang bersamaan, di tempat yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Gokil banget pancen. Tapi, itulah cara Pemerintah Kota Tegal mencintai warganya. Yaitu, dengan merawat harmoni antara kegembiraan duniawi dan kebutuhan rohani sebagai bentuk toleransi.

Fix. Tegal memang layak banget untuk duduk di posisi 9, bukan Jogja.

Tegal dari posisi 39 ke posisi 9

Dan kalian tahu tidak, sebelum nangkring di posisi 9, Tegal ada di posisi 39.

Aslinya, nih. Kalau mau, Tegal itu bisa banget mendapat peringkat  yang lebih tinggi. Peringkat 7, bahkan mungkin masuk 3 besar. Tapi ya itu, ada satu ganjalan besar yang akhirnya bikin skor toleransi Tegal jadi merosot. Yaitu: perilaku berkendaranya. Buset deh, nggak ada toleransinya sama sekali. 

Dalam benak saya, kayaknya tim penilai langsung ngelus dada ketika melihat gaya berkendara orang Tegal yang ajaib. Ada motor tiba-tiba nyelip dari kiri, ada yang srugal-srugul main trabas, ada yang maksa potong jalur padahal lagi padat-padatnya, ada pula yang lampu lalu lintas masih kuning sudah main klakson saja. Belum lagi banyak pula pengendara motor yang motornya terlalu nengah. Begitu diklakson supaya minggir, malah santuy nengok ke belakang sambil pasang muka ngajak gelut. Wkwkwk.

Yah, begitulah. Memang tak ada gading yang tak retak. Setidaknya, lumayan ya, bisa naik 30 peringkat jadi nomor 9. 

Penulis: Dyan Arfyana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 April 2026 oleh

Tags: Jogjakota tolerantegaltoleranToleransi
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Ketika Jogja Menampar Orang Makassar yang Sedang Merantau (Unsplash)

Culture Shock Orang Makassar ketika Merantau ke Jogja: Ketika Sopan Santun Orang Jogja Lebih Misterius ketimbang Rumus Fisika Kuantum

27 Mei 2026
air putih

Jangan Pesan Air Putih Gratisan saat Makan di Warung

6 Mei 2019
Mari Bersepakat Kota dan Kabupaten Tegal Adalah Jepangnya Indonesia terminal mojok.co

Sauto, Makanan Khas Tegal Perpaduan Dua Budaya

29 Mei 2021
5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

1 Mei 2025
Purwokerto, Purwakarta, Purworejo- Dilema karena Sebuah Nama (Unsplash.com)

Purwokerto, Purwakarta, Purworejo: Dilema karena Sebuah Nama

8 Agustus 2022
Underpass Kentungan Jogja, Pengurai Kemacetan yang Kini Terbukti Tidak Ada Gunanya

Underpass Kentungan Memang Bermasalah, tapi kalau Dibilang Nggak Berguna, Itu Kelewatan

19 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan Mojok.co

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan

1 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026
Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu Mojok.co

Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu

2 Agustus 2026
Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh Mojok.co

Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.