Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

Karunia Kalifah Wijaya oleh Karunia Kalifah Wijaya
26 Agustus 2025
A A
Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita

Jogja, Kota Pelajar yang Mengajarkan Saya Ikhlas Menderita (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada lomba daerah dengan UMR paling sabar se-Indonesia, Jogja pasti juara bertahan. Tahun 2025, UMP Jogja Rp2,26 juta, UMK Kota Rp2,65 juta. Angka ini kalau dilihat di kertas memang tampak resmi dan rapi. Tapi begitu diturunkan ke dapur rumah tangga, angka itu terasa kayak uang kembalian parkir. Ada tapi kecil banget.

UMK Jogja itu ibarat sinetron Indosiar: panjang, penuh janji kebahagiaan, tapi ujung-ujungnya bikin nangis juga.

Rp2,6 Juta bisa buat apa?

Katakanlah Mas Bejo, buruh harian di Jogja, gajinya sesuai UMK Rp2,65 juta. Tiap bulan, gajinya 1 juta habis buat kontrakan di pinggiran Sleman. Lalu 500 ribu buat bensin dan parkir dan 500 ribu buat makan. Itu pun harus sering-sering masak tempe sama sayur bayam. Sisa 650 ribu? Buat listrik, pulsa, dan kalau ada sisa ya… ditabung. Ditabung? Hehehe, bercanda.

UMK Jogja itu ibarat bensin motor yang cuma cukup buat jalan dari rumah ke SPBU doang. Bisa sampai, tapi langsung habis.

Tanah di Jogja, mimpi yang kini jadi mitos

Sekarang mari kita beralih ke masalah tanah. Ngomongin tanah di Jogja itu kayak ngomongin mantan. Dulu dekat, sekarang jauh.

Ambil contoh keluarga Bu Siti. Suaminya kerja jadi satpam di kampus swasta, gajinya UMR. Bu Siti jualan jajanan pasar di kampung. Mereka pengin banget beli tanah di Sleman biar bisa bikin rumah sederhana. Harga tanah di sana? Rp4 juta per meter! Ukuran minimal 60 meter udah habis Rp280 juta.

Dengan penghasilan mereka, butuh 13 tahun nabung full tanpa makan, tanpa sakit, tanpa nikahan anak, tanpa beli gas LPG. Itu cuma buat tanahnya, lho, belum bangunannya. Jadi ya sudahlah, akhirnya mereka memilih kontrak rumah di pinggiran Kulon Progo. Dekat dengan bandara baru, tapi jauh dengan mimpi lama.

Kuliah mahal kayak harga ego

Jogja katanya Kota Pelajar. Tapi biaya kuliah di sini sekarang lebih mirip harga tiket konsep Coldplay kelas VIP.

Baca Juga:

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Contohnya Rani, anaknya Bu Siti. Pinter, nilainya bagus, keterima di salah satu kampus negeri top di Jogja. Tapi pas lihat UKT Rp9 juta, keluarganya langsung kaget. Itu setara tiga bulan gaji bapaknya, dan enam bulan dagangan ibunya.

Akhirnya, Rani terpaksa ambil kuliah di kampus swasta kecil, karena ada potongan biaya. Bukan karena nggak mampu belajar, tapi nggak mampu bayar. Di Jogja, ternyata kualitas otak kadang kalah sama ketebalan dompet.

Beasiswa? Ada. Tapi rebutannya kayak rebutan kursi kosong bus Trans Jogja jam pulang kerja. Banyak yang pinter, tapi kursinya terbatas.

Jogja murah? Murah buat siapa?

Banyak wisatawan bilang, “Wah, Jogja murah, ya.” Ya jelas murah, Mas. Kamu ke sini cuma tiga hari, makan gudeg Rp15 ribu, sewa motor Rp70 ribu, terus pulang.

Akan tetapi buat anak kos kayak Bima, mahasiswa rantau asal Kebumen, Jogja nggak murah. Kontrakan Rp900 ribu, listrik token, WiFi Rp150 ribu, bensin Rp300 ribu, makan sehari-hari Rp30 ribu. Total? Satu bulan hampir Rp2 juta. Itu belum bayar kuliah.

Belum lagi kalau ada tamu mendadak teman SMA main ke kos. Ujung-ujungnya traktir di kafe hipster, sekali nongkrong bisa habis Rp70 ribu. Itu sama aja tiga kali makan nasi kucing di angkringan.

Jogja memang murah… kalau kamu turis. Tapi buat yang hidup di sini tiap hari? Kota ini terasa mahal, meskipun orangnya tetap maksa nyengir.

Jogja, mantan yang selalu bikin rindu tapi juga bikin sakit kepala

Jogja itu kayak mantan cantik yang dulu sederhana, dulu suka makan pecel lele di pinggir jalan, dulu seneng diajak nongkrong di angkringan. Tapi sekarang, setelah “naik level”, dia lebih suka makan steak wagyu di resto mahal, nongkrong di kafe rooftop, dan temenan sama investor luar kota.

Kita, yang dulu pernah jadi orang penting di hidupnya, sekarang cuma bisa ngeliatin dari jauh sambil nyesek. Mau balik? Bisa, tapi kita cuma jadi penonton. Jogja tetap cantik, tapi bukan lagi untuk kita.

UMR kecil, tanah mahal, biaya kuliah selangit, semua ini bikin Jogja mirip acara reality show: penuh drama, penuh ketidakadilan, tapi kita tetap nonton karena telanjur sayang.

Kota yang mengajarkan satu hal: ikhlas

Pada akhirnya, Jogja itu sekolah kehidupan. Dari Jogja, kita belajar bahwa nggak semua yang manis di awal, manis juga di akhir. Kita juga belajar kalau murah itu relatif: murah buat turis, mahal buat warga. Awalnya Kota Pelajar, bisa pelan-pelan berubah jadi kota investor. Investor yang datang ke sini semakin bertambah.

Ikhlas juga menjadi hal penting yang dipelajari di Jogja. Ikhlas lihat rumah kontrakan tiap tahun naik, ikhlas bayar kuliah sambil ngutang, dan ikhlas kerja sebulan penuh cuma cukup buat bayar hidup tanpa bisa mikir masa depan.

Jogja memang istimewa. Tapi istimewanya kadang kayak hadiah undian. Keren buat dipajang di iklan, tapi jarang bisa kita nikmati sendiri.

Jadi, apa Jogja masih istimewa?

Kalau pertanyaannya seperti itu, jawabannya tergantung. Kalau kamu turis yang mampir tiga hari, Jogja tetap surga murah meriah. Kalau kamu mahasiswa anak pejabat, Jogja tetap kota pelajar.

Akan tetapi kalau kamu buruh, pegawai rendahan, anak kos kere, atau warga lokal yang tiap bulan harus jungkir balik ngatur gaji UMR? Jogja bukan lagi kota pelajar, ia sudah berubah menjadi kota penuh penderitaan.

Meski begitu, kita tetap saja nggak bisa membenci Jogja. Sama kayak mantan. Bikin sakit hati, bikin nangis, tapi entah kenapa tiap kali ada yang menyebut namanya, hati kita tetap hangat.

Jogja mungkin bukan lagi kota yang kita kenal. Tapi ia selalu menjadi kota yang kita cintai, meski cinta itu makin terasa mahal.

Penulis: Karunia Kalifah Wijaya
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2025 oleh

Tags: gaji Jogjagaji umr jogjaJogjaKota pelajartagarumr jogja
Karunia Kalifah Wijaya

Karunia Kalifah Wijaya

Alumni mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.Saat ini bekerja sebagai Guru SMP Muhammadiyah 1 Berbah. Memiliki ketertarikan terhadap isu pemerintah

ArtikelTerkait

Bangunjiwo Bantul Problematik: Daerahnya Makin Modern, tapi Infrastruktur Nggak Memadai bantul jogja

Bantul, Sentra Industri UMKM sekaligus Penghasil Utama Gondes di Jogja

20 Januari 2024
Meskipun Upah di Jogja Murah, Saya (Terpaksa) Kuat untuk Bertahan

Meskipun Upah di Jogja Murah, Saya (Terpaksa) Kuat untuk Bertahan

30 November 2022
Transum Jogja Terlalu Busuk, Malu Sama Orang Jakarta (Unsplash)

Pemerintah Jogja Sebaiknya Segera Memperbaiki Transportasi Umum dengan Mencontoh Jakarta karena Jogja Semakin Meresahkan

19 Juli 2025
Jalan Godean Jogja Rusaknya Abadi, Warga Dibiarkan Mati (Unsplash)

Jalan Godean Puluhan Tahun Tidak Diperbaiki, Pemerintah Provinsi Jogja Lupa atau Tidak Lagi Peduli ada Warganya pada Mati?

17 Maret 2024
Jogja Library Center, Hidden Gem-nya Jalan Malioboro terminal mojok

Jogja Library Center: Hidden Gem-nya Jalan Malioboro

19 Desember 2021
Jogja Kombinasi Bunuh Diri Upah Rendah dan Kesepian

Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian

11 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.