Suka Duka Saat Memelihara Ikan Cupang bagi Seorang Pemula – Terminal Mojok

Suka Duka Saat Memelihara Ikan Cupang bagi Seorang Pemula

Artikel

Memelihara dan merawat ikan sudah menjadi kebiasaan bapak saya sejak lama. Sewaktu saya masih kecil hingga di usia sekarang, bapak masih setia dengan hobinya tersebut. Bapak biasa memelihara ikan di akuarium petakan berukuran 120x50x50 atau 15x10x15. Bagi bapak, nggak masalah berapa besar ukuran akuariumnya.

Menurut beliau, esensi memelihara ikan itu menghasilkan ketenangan dan relaksasi. Selain itu, memelihara ikan itu terbilang nggak repot. Membersihkan akuariumnya juga nggak perlu effort berlebih. Yang penting rutin dan rajin aja. Sebelum air di akuarium berubah jadi butek, harus segera dikuras dan diganti dengan air yang baru.

Hobi yang bapak lakukan, secara perlahan akhirnya saya tiru, amati, dan adaptasi. Bukan ikut-ikutan merawat berbagai ikan hias di akuarium. Masih ikan sih, tapi ikannya lebih kecil, yakni ikan cupang.

Jika sebagian orang menganggap bahwa fungsi ikan cupang untuk diadu dengan jenis cupang lainnya. Saya menganggap eksistensi dan keindahan ikan ini akan jauh lebih laik untuk dipandang saja. Perpaduan warna, bentuk sirip, juga keseluruhan anggota badannya sangat disayangkan jika akhirnya rusak atau terluka karena saling adu dengan cupang lainnya.

Kalian boleh cari secara mandiri melalui Google atau YouToube, ragam warna yang dimiliki ikan cupang itu betul-betul bikin kagum. Antara keren, indah, dan memanjakan mata saat dipandang.

Saya punya alasan tersendiri kenapa lebih memilih merawat ikan ini dibanding ikan hias lainnya.

Pertama, untuk ikan hias, bentuk serta ukuran ikan cupang itu terbilang proporsional. Nggak terlalu besar, tapi, nggak terlalu kecil juga. Jadi, nggak perlu repot harus menyediakan atau membeli akuarium dengan jenis dan ukuran tertentu. Cukup temukan botol kaca bening, bersihkan terlebih dahulu, lalu isi air sampai penuh.

Bahkan saya juga biasa menempatkan cupang di mug bening berukuran sedang. Tinggal ditambahkan sedikit dedaunan agar terlihat sedikit lebih estetik dan nggak sepi-sepi amat gitu.

Kedua, perawatannya nggak sulit. Lantaran tempat yang dibutuhkan ikan cupang nggak besar-besar amat, jadi membersihkan tempatnya nggak rumit dan nggak akan capek. Cuci sekaligus ganti air di mug atau botol nggak akan seribet ganti air akuarium, kok. Kasih makannya pun bisa secukupnya. Pasalnya, ikan cupang makannya nggak banyak-banyak. Lagian, kalau kebanyakan, airnya malah jadi gampang keruh.

Ketiga, bisa diletakkan di mana aja. Di sebelah TV, kek. Di kamar, meja makan, ruang tamu, semuanya bisa, kok. Sebagai ikan hias, karena akuariumnya pun terbilang mini, juga menyesuaikan ukuran ikan cupang, kita jadi bisa meletakkan sesuka hati. Yang penting aman dari jangkauan anak-anak dan betul-betul bisa menjadi penghias setiap sudut rumah. Apalagi corak ikan ini terbilang artistik, elegan, sekaligus estetik.

Kalaupun ada kendala, lebih kepada harga. Semakin bagus corak, sirip, juga bentukan ekor cupang, harganya akan semakin mahal. Jadi, harus benar-benar sabar jika ingin mendapatkan ikan cupang yang sesuai dengan budget. Atau bisa juga dengan mencari referensi yang tepat dari kerabat terdekat.

Pokoknya, soal kocek yang harus dikeluarkan saat memelihara ikan cupang, harus diperhatikan juga. Jangan sampai khilaf. Karena semakin “cantik” ikan cupang, akan semakin mahal harganya dan banyak orang yang akan berlomba-lomba untuk memilikinya.

Namun, di sisi lain, sama seperti ikan hias lainnya, secara tidak disadari, saat melihat beberapa ikan cupang berenang ke sana ke mari, melihat bagaimana sirip dan ekornya mengembang, bisa memberi ketenangan tersendiri bagi saya. Betul-betul bisa menjadi terapi relaksasi yang mujarab di kala penat.

FYI, karena saat ini peminatnya cukup banyak, ikan cupang pun bisa dijadikan ladang bisnis. Lantaran sudah menjadi hobi, ketagihan merawatnya dan kadung memiliki banyak jenis ikan cupang, beberapa kerabat malah membudidayakan ikan ini lalu menjualnya ke para peminat dengan harga sesuai pasaran. Berawal dari hobi, tanpa diduga malah jadi salah satu sumber rezeki.

Pada akhirnya, saya pikir, merawat atau bahkan budidaya ikan cupang di tengah ketidakpastian situasi seperti sekarang ini bisa dijadikan opsi tambahan untuk terapi relaksasi sekaligus mendatangkan cuan. Ditambah, saat ini semua orang pastinya butuh hiburan. Lumayan, kan. Bisa menyelam sambil minum air.

BACA JUGA 3 Alasan Mengurus Ikan Hias Itu Menyenangkan dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Konsep 7 Dosa Besar pada Tokoh Emak Eti, Ibunya Oneng di Sitkom Bajaj Bajuri
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.