Cerita Orang yang Memilih Ular sebagai Hewan Peliharaan – Terminal Mojok

Cerita Orang yang Memilih Ular sebagai Hewan Peliharaan

Artikel

Avatar

Saya sendiri nggak nangkep apa sih enaknya memelihara ular. Menurut saya lebih seru memelihara ikan di kolam. Sewaktu kecil di rumah saya ada ikan, aktivitas membersihkan kolam ikan adalah hal menyenangkan untuk anak-anak yang suka air seperti saya, selain kehadiran kolam ikan dan ikan-ikannya bisa mempercantik rumah.

Saya mulai sadar ternyata ada sebagian kecil orang yang lebih memilih memelihara ular dibandingkan ikan. Orang tersebut adalah pacar saya sendiri.

Awal masa pendekatan kami tentu saja sama seperti kalian, saya juga menyelami postingan Instagram dia supaya saya tahu apa yang dia suka dan saya bisa membuat percakapan menarik tentangnya. Tidak ada yang aneh saat melihat postingan Instagramnya. Isinya foto bareng teman, traveling, pemandangan… Instagramnya biasa saja sama seperti kebanyakan perempuan usia 20-an.

Waktu berlalu saya dan dia menjadi kekasih. Setelah beberapa minggu kami pacaran saya masih belum tahu bahwa pacar saya memelihara ular. Percakapan kami selama ini memang tidak pernah membahas hewan peliharaan, apalagi membahas ular. Sampai pada suatu hari ketika kami habis jalan-jalan, saya mengantarnya kembali ke rumah. Saya diajak masuk rumah dan setelah itu, saya diajak masuk suatu ruangan di rumah tersebut.

“Ada yang mau aku kasih liat ke kamu,” kata pacar saya.

“Oh, oke,” kata saya

Saya mengikutinya dari belakang, perasaan saya campur aduk, bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tidak saya inginkan, bagaimana kalau cerita film Hostel terjadi kepada saya.

Di ruangan tersebut ada banyak akuarium berisi ular.

Saya tidak memiliki fobia ular, tapi berada dalam ruangan penuh ular bukanlah situasi ideal. Terakhir kali saya berinteraksi dengan ular adalah di game Nokia jadul, bukan di dunia nyata seperti ini.

Baca Juga:  Dear Fans Manchester United, Berikut Kiat Puasa Gelar Liga Inggris Agar Amal Diterima dan Hati Dilapangkan

Saya melihat-lihat isi dari akuarium tersebut, kagum terhadap ular-ular di dalamnya. Semua ular-ular di ruangan ini terlihat sangat cantik bagi saya. Setelah saya terpana, pacar saya memberi sajian lain, atraksi memberi makan ular. Ini benar-benar pengalaman pertama saya melihat langsung ular makan.

Setelah ular tersebut menelan makanannya, saya memberondong banyak pertanyaan kepada pacar saya yang empunya ular. Apa alasannya memelihara ular? Kenapa nggak melihara kucing, anjing, atau ikan?

Selain karena warna dan coraknya sangat cantik, kata pacar saya ular ini dianggap lebih mudah pemeliharaannya. Ular mempunyai pola makan yang unik, paling makan seminggu sekali, tidak seperti anjing dan kucing yang makan dua kali sehari. Membersihkan kotoran ular juga tergolong lebih mudah, ular biasanya menghabiskan banyak waktu di dalam akuarium tersebut. Beda seperti anjing dan kucing yang biasa bermain-main di dalam rumah. Sering terjadi juga anjing dan kucing buang air sembarangan. Ular juga tidak perlu diajak berjalan-jalan keliling kompleks.

Kalau tidak enaknya memelihara ular? tanya saya.

Banyak, dia menjawab. Memberi makan ular ada tekniknya. Tidak disarankan memberikan makan ular dengan tangan, usahakan pake pinset. Digigit ular itu bukanlah hal yang lucu. Selain itu, sejinak-jinaknya ular, mereka tetaplah hewan karnivora berbahaya. Jadi saat membersihkan akuarium ular, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi.

Ular juga punya lifestyle yang berbeda-beda, ada yang semiakuatik, ada yang suka di pohon, macem-macem. Jadi kalau saya mau ikut-ikutan memelihara ular, lebih baik belajar dulu.

Ada juga duka dari memelihara ular. Orang biasanya bermain-main, melatih, atau pelukan dengan binatang peliharaannya. Bahkan banyak juga orang yang tidur dengan peliharaan. Sementara ular bukan hewan yang bisa dibegitukan. Ada istilah handling dalam menangani ular, tapi handling hanya sebatas memegang ular, bukan untuk memeluk apalagi menjadikannya teman tidur. Jadi untuk orang yang membutuhkan afeksi dari peliharaan, ular bukanlah peliharan yang tepat.

Baca Juga:  Percayalah, Putus Cinta Nggak Ada Apa-apanya Dibanding Pindah Rumah

Saya langsung mikir, nggak ada bedanya dengan melihara ikan hias.

Dia lanjut cerita. Mencari pakan ular tuh tidak mudah. Pakan ular yang berupa tikus sudah pasti tidak tersedia di minimarket, maka butuh waktu tersendiri untuk pergi ke pasar hewan peliharaan untuk membeli pakan ular. Ketika sedang pandemi seperti ini, mencari pakan untuk ular adalah tantangan berat.

Sebenarnya, kata pacar saya, mau memelihara hewan apa pun: anjing, kucing, ular, kelinci, intinya ya tanggung jawab. Nggak boleh bosen, harus dirawat dengan baik sama keluarga serumah, dan kalau sakit bawa ke dokter hewan.

Kalau nggak mau repot, pacar saya menutup sesi wawancara hari itu, pelihara tamagotchi aja sana.

Oke deh. Okeee.

BACA JUGA Kena Hair Shaming karena Masih Muda Udah Ubanan dan tulisan Muhammad Ikhsan Firdaus lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.