Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Stigma untuk Sarjana Matematika yang Bikin Malu kalau Pamer Gelar

Istiqomah oleh Istiqomah
6 November 2020
A A
Stigma Sarjana Matematika yang Bikin Malu Kalau Pamer Gelar terminal mojok.co

Stigma Sarjana Matematika yang Bikin Malu Kalau Pamer Gelar terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Mempunyai gelar sarjana matematika adalah kebanggaan bagi saya dan keluarga. Walaupun sebenarnya dari lulus SMA cita-cita saya sangat jauh berbeda dari apa yang saya kerjakan sekarang. Dulu saya bercita-cita jadi direktur bank. Tapi, sebab saya sempat bergaul dengan teman-teman yang rutin mengikuti kajian-kajian Islam, akhirnya saya diceramahi tentang bahaya Riba. Saya merinding. Akhirnya saya mengubur dalam-dalam cita-cita saya tersebut.

Ternyata Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Cita-cita yang dulu sempat menggebu berubah 180 derajat. Saya menjadi seorang sarjana matematika. Dan akhirnya saya menjadi seorang guru. Iya, guru matematika. Mempunyai gelar sarjana matematika ternyata tidak mudah. Ada banyak stigma masyarakat bahwa sarjana matematika itu pasti jenius. Sarjana matematika itu pasti bisa menghitung perkalian 4 digit hanya dengan memejamkan mata. Memang ada sarjana matematika yang seperti itu. Tapi hanya beberapa orang saja. Sisanya? Rata-rata. Sama seperti sarjana-sarjana lainnya. Tergantung nasib.

Menurut pengalaman saya, menjadi sarjana matematika itu tidak mudah. Ada beban yang akan dipikul seumur hidup. Anggapan masyarakat yang “mewajibkan” kami harus sempurna dalam urusan angka sangatlah tidak menyenangkan. Berikut ini saya akan jabarkan alasan sarjana matematika sebaiknya menyembunyikan gelarnya dalam kehidupan masyarakat.

#1 Sudah pasti dianggap pintar

Ini adalah alasan utama yang pasti ada di benak orang-orang pada umumnya. Saat kita terlibat dalam suatu perbincangan dengan orang baru, kemudian tibalah saatnya topik pembahasan tentang pendidikan. Pasti nantinya akan timbul pertanyaan, “Eh, kamu lulusan mana tho? Ambil jurusan apa?” Mau jawab bohong juga nambah-nambah dosa kan? Setelah menjawab jujur, pasti orang tersebut langsung kagum seketika berucap, “Wah, keren nih. Otaknya encer pasti pintar.”

Anggapan sarjana matematika pasti orangnya itu pintar sebenarnya segera dihapuskan saja dari benak masyarakat. Toh, kalau ditanya lebih jauh dan mendalam tentang perjalanannya sampai mendapat gelar, pasti orang-orang akan beranggapan bahwa orang itu bejo. Ya iyalah. Bejo kenal dosennya. Bejo teman-temannya tidak pelit. Bejo urusan administrasinya lancar.

#2 Mendapat pekerjaan yang tidak jauh dari angka

Sejak TK sampai kuliah selalu berdampingan dengan angka. Di dalam dunia kerja juga akhirnya mendapat bagian atau tugas dengan pengolahan angka. Ingin menolak tapi malu dengan gelar. Kadang kesal juga sih. Mungkin sebagian orang beranggapan kalau sarjana matematika ya pantasnya bekerja tidak jauh dari dunia angka. Tapi, dalam hati yang paling dalam pasti banyak di luar sana orang yang bergelar sarjana matematika ingin sekali keluar dari zona nyaman.

Lebih parahnya lagi, kalau atasan sudah percaya sepenuhnya dengan hasil pekerjaan kita yang katanya pintar dalam mengolah angka. Pasrah dan sabar adalah tindakan kita selanjutnya. Sembari belajar bersyukur bahwa kita sudah diberi amanah yang mulia dan juga berdoa semoga ada tantangan-tantangan baru selain angka yang bisa membuat kita lebih maju. Amin.

#3 Memperoleh predikat sebagai kalkulator berjalan

Nah, ini. Predikat aneh yang diemban oleh saya dan teman-teman sejawat. Tidak lain adalah menjadi kalkulator berjalan. Baik di dunia pekerjaan, di rumah, atau tempat nongkrong. Kalau mereka sudah tahu kita lulusan apa, hitung-hitungan langsung diserahkan kepada kita yang dianggap master of mathematics. Bangga juga sih kalau jawaban kita tepat. Itu artinya otak kita masih sejalan dengan jurusan. Beda lagi kalau jawaban kita salah. Alhasil cemooh dari orang-oranglah yang akan kita terima. Masa sarjana matematika tidak bisa hitung-hitungan? Masa ngitung begitu saja salah? Hadeh. Dikira IQ semua sarjana matematika setara Albert Einstein kali ya. Heran.

Baca Juga:

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

#4 Dianggap kuper alias kurang pergaulan

Ternyata perbedaan stigma mengambil jurusan IPA dengan yang jurusan IPS berlaku juga untuk mahasiswa dan lulusan S-1. Jurusan IPA yang dikenal anak baik-baik, pendiam, dan hobi belajar sangat identik dengan sarjana matematika. Tapi, sedihnya lagi kalau dianggap kuper alias kurang pergaulan mentang-mentang status “pintar” sudah dari awal disalahpahami. Padahal kenyataannya, kita ya main juga. Nge-game juga. Masa belajar trigonometri terus? Masa tiap hari mencari nilai x dan y? Sebagai seorang manusia yang sama dengan manusia lain, sebaiknya memperlakukan orang lain jangan hanya melihat dari gelar semata. Ingat ya, semua orang itu sama di mata Tuhan. Tergantung amal ibadahnya selama hidup. Nanti saat menimbang amal baik dan buruk juga nggak harus pakai satuan berat. Emangnya beli bawang di pasar?!

BACA JUGA Kalau Lagi Dibonceng Vespa, Sebaiknya Cewek Jangan Ngelakuin 5 Hal Ini dan tulisan Istiqomah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 November 2020 oleh

Tags: Matematikasarjana
Istiqomah

Istiqomah

Ibu-ibu yang suka ngemil tapi takut gendut.

ArtikelTerkait

Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia gelar sarjana

Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia

12 April 2025
Menghindari Matematika, Alasan Terkonyol yang Pernah Aku Ucapkan Saat Memilih Jurusan KPI

Menghindari Matematika, Alasan Terkonyol yang Pernah Aku Ucapkan Saat Memilih Jurusan KPI

6 November 2025
Susah-susah Kuliah Demi Ijazah Sarjana, Pas Cari Kerja Malah Lebih Laku Ijazah SMA Mojok.co

Susah-susah Kuliah Demi Ijazah Sarjana, Pas Cari Kerja Malah Lebih Laku Ijazah SMA

11 Juli 2024
Memahami Matematika Dasar Itu Wajib, Sekalipun Kalian Menganggap Matematika Nggak Berguna dalam Kehidupan Nyata

Memahami Matematika Dasar Itu Wajib, Sekalipun Kalian Menganggap Matematika Nggak Berguna dalam Kehidupan Nyata

3 November 2024
Pemburu Togel: Orang yang Nggak Tahu kalau Dirinya Tahu Ilmu Matematika, Semiotika, dan Hermeneutika terminal mojok.co

Pemburu Togel: Orang yang Nggak Tahu kalau Dirinya Tahu Ilmu Matematika, Semiotika, dan Hermeneutika

26 November 2020
Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

7 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Fakta Menarik tentang Kebumen yang Tidak Diketahui (Unsplash)

Liburan di Kebumen Itu Aneh, tapi Justru Bisa Jadi Pilihan yang Tepat buat Kita yang Muak dengan Kota Besar

10 Maret 2026
Jalan Raya Prembun-Wadaslintang, Jalur Penghubung Kebumen-Wonosobo yang Keadaannya Menyedihkan dan Gelap Gulita! wonosobo

Wonosobo, Kota Asri yang Jalanannya Ngeri, kalau Nggak Berlubang, ya Remuk!

13 Maret 2026
Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

8 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

9 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh” Mojok.co ka kahuripan

KA Sri Tanjung dan KA Kahuripan, Kereta Api Paling Nanggung dan Melelahkan bagi Penumpang

10 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol
  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.