Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
9 April 2026
A A
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

TKW Taiwan lebih menjanjikan daripada jadi guru honorer yang nggak jelas gaji dan nasibnya. 

Saya punya kakak sepupu yang jarak usianya terpaut tidak begitu jauh. Setelah 3,5 tahun kuliah Jurusan Keguruan, dia akhirnya lulus. Namun, realitas dunia kerja nyatanya tidak seindah brosur kampus. Terlebih kalau kalian bekerja sebagai guru honorer. 

Tidak lama setelah lulus, sepupu saya ini langsung diterima sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta. Kabar itu membuat keluarganya bangga. Tetangga yang mendengar kabar itu mengucapkan selamat. Sepupu saya dan orang tuanya bangga,  akhirnya ada yang menjadi guru beneran di keluarga. 

Asal tahu saja, profesi guru dianggap terhormat di tempat tinggal sepupu saya. Sayangnya, penghormatan tidak selalu datang bersama kesejahteraan.

Kesejahteraan yang miris

Gaji pertama yang diterima sepupu saya hanya Rp500.000 per bulan. Gaji segitu cuma cukup untuk ongkos transportasi, pulsa internet untuk administrasi sekolah, dan kebutuhan sederhana selama mengajar. Walau tahu angka itu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, dia berusaha bertahan. “Namanya juga awal karier,” begitu batinnya. 

Walau gajinya “imut”, kinerja sepupu saya tetap maksimal. Dia datang paling pagi dan sering pulang paling akhir. Dia membuat perangkat ajar, mengoreksi tugas, hingga membantu kegiatan sekolah semaksimal mungkin. 

Dua tahun berlalu. Gaji sepupu saya yang awalnya Rp500.000 akhirnya naik, tapi angkanya tidak seberapa. Dia digaji Rp1 juta per bulan. Kenaikan itu seharusnya membahagiakan, tetapi justru membuat sepupu saya terdiam cukup lama. Bukan karena tidak bersyukur, dia sadar bahwa hidupnya tidak bisa terus menerus seperti ini. 

Kondisi orang tuanya mulai berubah. Ayahnya sering sakit-sakitan. Ibunya tidak lagi sekuat dulu untuk bekerja. Biaya obat dan kebutuhan rumah tangga semakin berat. Setiap kali pulang mengajar, sepupu saya selalu dihantui rasa bersalah. Orang tuanya sudah susah payah menguliahkannya di Jurusan Keguruan. Bahkan, sebagian biaya itu berasal dari pinjaman. Namun, setelah lulus dan bekerja, dia belum mampu membantu ekonomi keluarga. 

Baca Juga:

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Gelar sarjana yang dulu terasa membanggakan perlahan berubah menjadi beban di hatinya. Yang lebih berat bukan hanya soal uang. Melainkan omongan orang. “Lulus S1 kok gajinya segitu?” “Guru kan katanya pekerjaan mulia?” “Yang penting sabar, nanti juga diangkat.” Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar ringan bagi yang mengucapkan, tapi terasa berat bagi yang menjalaninya.

Banting setir dari guru honorer jadi TKW di Taiwan

Suatu malam, seorang teman lama menghubungi sepupu saya. Temannya sudah bekerja di Taiwan sebagai pekerja migran Indonesia. Gajinya setara Rp10 juta per bulan.

Awalnya Maya hanya mendengarkan. Lalu, dia mulai menghitung. Gaji satu bulan di Taiwan hampir setara dengan pendapatannya selama setahun menjadi guru honorer. Dia terdiam lama hingga akhirnya memutuskan beralih pekerjaan sebagai TKW saja.

Menjadi TKW Taiwan bukan pilihan yang dianggap “prestisius” di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, sebelum berangkat, bisik-bisik tetangga sudah terdengar. “Sayang kuliahnya” “S1 kok jadi TKW” “Gagal jadi guru ya?”

Semua komentar itu sempat membuatnya ragu. Namun, Maya akhirnya menyadari satu hal penting, hidupnya bukan milik tetangga. Dia tidak meninggalkan dunia pendidikan karena menyerah. Dia hanya memilih jalan yang menurutnya lebih realistis untuk kondisi saat ini. Baginya, membantu orang tua yang sakit jauh lebih penting daripada mempertahankan citra sosial.

Hari keberangkatan pun tiba. Di bandara, sepupu saya menangis, dia merasa akhirnya bisa berbuat sesuatu untuk keluarganya. Beberapa bulan bekerja di Taiwan, hidupnya berubah. Dia bisa mengirim uang rutin ke rumah. Biaya pengobatan orang tuanya lebih terjamin. Rumah yang dulu sering bocor saat hujan mulai diperbaiki sedikit demi sedikit.

Rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit kembali. Sepupu saya tidak lagi merasa jadi orang yang gagal. Justru ia merasa akhirnya mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Perlahan, omongan tetangga pun berubah. Yang dulu meremehkan mulai bertanya bagaimana cara bekerja ke luar negeri. Yang dulu menyayangkan kuliahnya kini memuji keberaniannya.

Ironis

Pengalaman sepupu saya ini ternyata banyak terjadi di luar sana. Tidak sedikit sarjana, termasuk lulusan S1 Keguruan, yang menghadapi dilema antara idealisme profesi dan realitas ekonomi.

Profesi guru memang mulia, tetapi kemuliaan tidak seharusnya identik dengan kesulitan hidup. Tidak semua orang punya privilese untuk menunggu bertahun-tahun demi status ASN atau kenaikan kesejahteraan yang belum pasti. Ada yang harus segera bekerja, segera membantu keluarga, dan segera keluar dari tekanan ekonomi.

Memilih menjadi TKW Taiwan bukan berarti gagal sebagai sarjana. Kadang justru itu bentuk keberanian terbesar: berani meninggalkan gengsi demi tanggung jawab.

Sepupu saya cerita, suatu hari nanti, setelah kondisi keluarganya stabil dan tabungannya cukup, dia tetap ingin kembali ke Indonesia. Dia ingin membuka lembaga belajar kecil di kampungnya, membantu anak-anak yang kesulitan pendidikan.

Dia tidak pernah berhenti menjadi seorang pendidik, hanya memilih jalan memutar. Dan, bagi sepupu saya ini, keputusan menjadi TKW bukanlah akhir dari mimpi melainkan cara paling realistis untuk menjaga mimpi itu tetap hidup.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh

Tags: guruGuru Honorersarjanasarjana keguruantaiwanTKWTKW Taiwan
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau (Unsplash.com)

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau

3 Oktober 2022
Curahan Hati Emak-Emak Jadi Guru di Rumah dan Dituntut Serba Bisa

Curahan Hati Emak-emak yang Jadi Guru di Rumah dan Dituntut Serbabisa

9 April 2020
Beban Menjadi Salah Satu dari Segelintir Sarjana di Kampung Terminal mojok

Beban Berat Menjadi Sarjana di Kampung

26 Januari 2021
guru cewek ngeluh ngajar siswa cowok murid cowok puber kasar porno jorok mojok

Derita Guru Cewek di SMK, Susah Bener Ngajar Murid Laki yang Sedang Puber

9 April 2020
PTM sekolah tatap muka mojok

Mengapa sih Kita Tergila-gila Sekali dengan Sekolah Tatap Muka?

21 September 2021
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta
  • Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.