Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
18 April 2026
A A
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak semua orang punya kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Itu mengapa, jadi kebanggaan tersendiri ketika seseorang berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana. Gelar tersebut diraih dengan banyak pengorbanan seperti biaya, waktu, hingga tenaga. Itu mengapa, gelar sarjana masih dipandang mewah karena tidak semua orang punya privilese itu. 

Tidak heran kalau ada persepsi atau ekspektasi tertentu disematkan pada para sarjana. Terlebih kalau seseorang adalah satu-satunya atau mungkin satu dari beberapa sarjana yang ada di kampung atau desanya. Setidaknya itulah yang dialami beberapa teman atau kenalan yang berasal dari daerah pelosok atau daerah terpencil. 

Di daerahnya, sarjana punya semacam lisensi sosial prestius. Pemegang status sarjana ini dianggap manusia serba guna yang serba bisa. Dianggap intelek, dianggap bijak, dianggap paham segala hal. Orang yang punya ijazah sarjana memikul beban ekspektasi satu kampung.

Dianggap selalu bisa memimpin 

Ekspektasi pertama yang muncul adalah perkara sosial. Sarjana dianggap punya bakat kepemimpinan dan komunikasi yang baik. Warga tidak peduli orangnya pemalu, introvert, atau mudah grogi. Pokoknya, mereka menganggap orang yang sudah lulus kuliah pasti bisa memimpin. Itu mengapa mereka lulusan sarjana kerap ditempatkan di posisi-posisi penting di organisasi atau kepanitiaan kampung, entah ketua panitia atau sekretaris acara. Orang dengan gelar sarjana juga kerap diminta memimpin urusan kampung lainnya. 

Pokoknya, selama ada kegiatan yang butuh individu yang harus tampil dan memimpin, seseorang yang punya gelar sarjana akan didorong ke depan sebagai pihak yang dianggap mampu menerima tanggungjawab yang seringnya dadakan itu.

Pada kondisi itu, jelas kalau sarjana nggak hanya jadi capaian akademik, tapi jadi tanda bahwa seseorang harus mampu tampil di mana pun dan kapan pun. Dituntut harus bisa ngomong, harus mampu menyusun kata. Dan, harus terlihat pantas. Nggak peduli dia lulusan fisika atau kimia yang lebih banyak menghabiskan waktu di laboratorium ketimbang di forum.

Sarjana dikira punya solusi atas semua persoalan kampung

Tidak hanya dikira bisa memimpin, sarjana juga dianggap tahu segala sesuatu. Itu mengapa banyak warga bertanya pada mereka, bahkan tentang hal-hal yang ilmunya tidak dikuasai atau tidak dipelajari saat kuliah. Itu mengapa, ekspektasi ini sangat membebani dan melelahkan. 

Bayangkan, lulusan ekonomi ditanya soal urusan sengketa tanah. Lulusan sastra ditanya tentang warisan. Lulusan teknik dianggap selalu paham soal elektronik. Pokoknya gelar sarjana diposisikan menjadi Google versi berjalan.

Baca Juga:

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

Padahal sejatinya, perkuliahan memang bisa membuat seseorang berpengetahuan, tapi tidak lantas membuatnya tahu banyak hal. Sebab, ilmu yang dipelajari seseorang di bangku kuliah itu sangat spesifik, bukan jadi palu gada (apa yang lu butuh, gue ada).

Dikira religius, terlebih kalau lulusan UIN atau IAIN

Sarjana yang paling apes adalah lulusan kampus Islam seperti UIN atau IAIN. Mereka yang lulusan kampus tersebut dianggap tidak hanya paham teori tapi juga diposisikan sebagai sosok religius dan spiritualis. Kadang diminta ceramah atau khatib pada khutbah Jumat, disuruh mimpin tahlil, dan didorong selalu untuk jadi pembaca doa. Pokoknya di benak mereka, lulusan kampus keagamaan itu ya harus jadi pemuka agama.

Padahal pilihan jurusan yang ditawarkan UIN atau IAIN itu luas. Ada yang sedang belajar sosial, psikologi, ekonomi, politik, komunikasi, atau sosiologi. Bahkan, ada yang belajar ilmu eksak seperti fisika, matematika, dan kimia. Artinya tidak semua lulusannya sedang menyiapkan diri menjadi pendakwah atau kiai kampung. Tapi, mau bagaimana lagi, masyarakat sudah kadung mensimplifikasi bahwa lulusan UIN harus bisa semua hal yang berhubungan dengan agama.

Sarjana di kampung adalah pusat administrasi

Ekspektasi lain yang melekat pada sarjana adalah pusat bantuan administrasi. Bagi kebanyakan orang desa atau kampung yang belum begitu melek teknologi, hal-hal administratif adalah mimpi buruk. Terlebih hal-hal administratif yang melibatkan aplikasi maupun internet. Biasanya, hal-hal seperti dipasrahkan kepada anak muda atau orang-orang yang lama hidup di kota. Dan, sarjana memenuhi dua hal itu, masih muda dan pernah hidup di kota. 

Itu mengapa, lulusan perguruan tinggi akan banyak dimintai tolong untuk membuat surat, proposal, hingga formulir online. Pokoknya, lulusan sarjana dianggap paham di luar kepala soal pengoperasian Microsoft Office. Padahal selama kuliah, orang-orang yang memegang gelar sarjana ini tidak melulu berurusan dengan administrasi. Tak jarang, demi memenuhi ekspektasi warga kampung, para pemegang gelar sarjana ini harus belajar lagi. 

Serba salah kalau tidak sesuai dengan ekspektasi warga

Tidak hanya hal-hal teknis seperti di atas, ekspektasi warga terhadap sarjana adalah menjadi teladan. Walau hal itu lebih banyak ditunjukkan secara tersirat. Sarjan punya tanggung jawab moral yang mengikat. Harus sopan. Bahasa harus tertata. Harus bisa menjadi contoh bagi saudara dan orang sekampung. Harus menjadi manifestasi hidup bahwa pendidikan tinggi berhasil melahirkan manusia yang bijak dan bermoral.

Gelar sarjana yang dimiliki mesti tercermin dari cara berbicara, berbusana, bergaul, atau bahkan mengambil keputusan hidup. Kalau pengangguran akan jadi bahan pertanyaan. Kalau kerjaannya tidak sesuai jurusannya, dianggap eman-eman dengan jurusannya. “Loh sarjana kok jualan bakso,” wah kalau sudah muncul kata-kata begitu sudah susah. Kalau terlalu menutup diri, nanti dianggap sombong. Tapi, kalau terlalu aktif membantu, bisa jadi malah dianggap pelayanan desa dan dimanfaatkan.

Semua beban ekspektasi di atas di satu sisi bagus. Tentu ada rasa bangga. Nama keluarga terangkat. Anak dan remaja di kampung punya figure yang dicontoh dan dibayangkan. Tapi, kan ya nggak dalam segala hal juga. Lulusan sarjana tetaplah manusia yang punya limit kemampuan. Bukan manusia yang otaknya diganti dengan AI semacam gemini yang tahu semua hal.

Jadi kalau ada yang bilang jadi sarjana itu menaikan kasta sosial dan dihormati. Ya bisa jadi, tapi yang jarang jadi sorotan adalah ekspektasi warga yang ndakik-ndakik yang dibebankan kepada mereka. 

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 April 2026 oleh

Tags: DesakampungMahasiswaperguruan tinggi negeriptnS1sarjana
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Sebelum Paylater Mempermudah Belanja dan Meneror Kehidupan, Mindring Jadi Jawaban para Pencinta Belanja di Pelosok Jawa (Pixabay.com)

Sebelum Paylater Mempermudah Belanja dan Meneror Kehidupan, Mindring Jadi Jawaban para Pencinta Belanja di Pelosok Jawa

6 September 2023
Seandainya Skripsi Lenyap dari Perguruan Tinggi, Ini yang Akan Terjadi Mojok.co

Seandainya Skripsi Lenyap di Perguruan Tinggi, Ini yang Akan Terjadi

13 Maret 2025
3 Keunggulan Sekolah di Desa yang Jarang Disadari Orang

3 Keunggulan Sekolah di Desa yang Jarang Disadari Orang

25 Mei 2025
karang taruna

Manfaat Bergabung dengan Karang Taruna yang Jarang Disadari Kebanyakan Orang

10 September 2019
15 Istilah yang Harus Diketahui Mahasiswa Baru Jurusan Sosiologi

15 Istilah yang Harus Diketahui Mahasiswa Baru Jurusan Sosiologi

2 April 2023
Empat Pilihan Jawaban Saat Kamu Ditanya tentang Gelar S.Hum

4 Pilihan Jawaban Saat Ditanya tentang Gelar S.Hum.

15 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal Mojok.co

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

26 Juli 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

Membayangkan Indonesia masa kini tanpa QRIS, transaksi akan benar-benar ribet

29 Juli 2026
Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian Mojok.co

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

25 Juli 2026
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.