Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
12 Mei 2026
A A
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Awalnya saya termasuk orang yang sangat optimis ketika memutuskan tinggal di Gresik dan Sidoarjo. Alasannya sederhana: harga rumahnya masih masuk akal. Dibandingkan Surabaya yang harganya sudah terasa seperti mimpi yang sulit diraih, kawasan pinggiran ini terlihat seperti solusi realistis bagi generasi muda yang ingin punya rumah sendiri.

Coba, lihat iklan perumahan, terdengar sangat meyakinkan. Lingkungan tenang, udara lebih bersih, jauh dari kebisingan kota, dan tentu saja cicilan yang tidak membuat jantung berdebar setiap tanggal tua. Begitu menarik, begitu indah. Saat itu saya berpikir, “Yang penting punya rumah dulu. Soal jarak, nanti juga biasa.”

Ternyata, realitasnya tidak (pernah) sesederhana itu.

Hari-hari pertama tinggal di Gresik dan Sidoarjo terasa menyenangkan. Lingkungan masih baru, rumah rapi, tetangga ramah. Yah, malam memang terasa lebih sunyi dibandingkan kota. Tetapi setelah rutinitas berjalan, perlahan saya mulai merasakan sisi lain yang sebelumnya tidak pernah benar-benar dipikirkan.

Akses yang ternyata penting

Hidup di Gresik dan Sidoarjo itu enak, tapi perkara akses, nanti dulu. Di sini, setiap aktivitas hampir selalu membutuhkan perjalanan jauh. Mau kerja, harus berangkat lebih pagi. Mau beli kebutuhan tertentu, harus keluar kawasan. Nongkrong atau sekadar mencari suasana berbeda, lagi-lagi harus ke Surabaya.

Tiba-tiba, melawan kemacetan di pagi hari menjadi rutinitas baru. Jalan utama dipenuhi kendaraan pekerja yang punya tujuan sama: menuju kota. Waktu yang awalnya saya kira hanya perjalanan biasa berubah menjadi perjalanan yang menguras energi bahkan sebelum hari kerja dimulai.

Pulangnya pun sama. Tubuh sudah lelah bekerja, tetapi masih harus menghadapi perjalanan panjang lagi. Sampai rumah, rasanya bukan ingin menikmati rumah baru, melainkan hanya ingin langsung tidur. Di titik itu akhirnya saya sadar atas apa yang selama ini orang luput: bisa jadi rumah itu murah, tapi mahal di ongkos perjalanan.

Nongkrong jauh, beli sayur bisa jadi lebih jauh, mau kerja, jelas jadi lebih jauh. Kalau sudah kayak gini, apa ya harga murah jadi pilihan?

Baca Juga:

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

BACA JUGA: Sidoarjo Cocok untuk Perintis, Tak Harus Kerja Keras di Jakarta Sampai Mental Rusak

Ketenangan akhir pekan yang fana

Awalnya saat memilih untuk tinggal di Gresik dan Sidoarjo, di bayangan saya adalah ketenangan. Dan memang, ketenangan itu saya dapat. Tapi, ketenangan yang muncul dibarengi rasa bosan. Kawasan perumahan cenderung sepi karena banyak penghuni juga bekerja di luar kota. Fasilitas hiburan terbatas. Tidak banyak ruang publik untuk sekadar jalan santai atau menikmati suasana.

Akhirnya, ya lagi-lagi, pilihan hiburan tetap sama: pergi ke Surabaya. Lagi.

Ironisnya, hampir semua aktivitas hidup tetap berpusat di kota. Kerja di kota, nongkrong di kota, hiburan di kota. Rumah di Gresik atau Sidoarjo perlahan terasa hanya menjadi tempat pulang dan tidur.

Ada momen ketika saya mulai merasa stres tanpa alasan jelas. Bukan karena rumahnya buruk, bukan karena lingkungannya jelek, tetapi karena rutinitas terasa monoton. Rumah–jalan–kerja–jalan–rumah. Begitu terus setiap hari.

Gresik dan Sidoharjo menarik, tapi…

Saya mulai memahami satu hal yang dulu tidak pernah saya pikirkan: lokasi tempat tinggal sangat memengaruhi kesehatan mental. Tinggal jauh dari pusat aktivitas membuat hidup terasa lebih lambat, tetapi bukan selalu dalam arti positif. Ketika mobilitas sulit, interaksi sosial berkurang, dan akses hiburan terbatas, rasa jenuh datang tanpa disadari.

Banyak orang membeli rumah di kawasan pinggiran seperti Gresik dan Sidoarjo karena pertimbangan logis—dan memang itu keputusan yang masuk akal. Saya pun tidak menyesal memiliki rumah sendiri. Tetapi sekarang saya lebih memahami bahwa harga murah bukan satu-satunya faktor yang perlu dipikirkan. Nyatanya, rumah bukan hanya soal bangunan, melainkan tentang bagaimana kita menjalani hidup setiap hari di dalamnya.

Gresik dan Sidoarjo sebenarnya terus berkembang. Infrastruktur perlahan membaik, fasilitas mulai bertambah, dan kawasan industri membuka peluang ekonomi baru. Mungkin beberapa tahun ke depan situasinya akan jauh lebih nyaman.

Namun bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan membeli rumah di sini, ada satu saran dari pengalaman pribadi: jangan hanya melihat harga rumahnya.

Coba bayangkan rutinitas harianmu. Berapa lama perjalanan kerja? Seberapa sering harus keluar kota? Apakah kamu siap menghabiskan banyak waktu di jalan? Apakah kamu tipe orang yang butuh keramaian dan aktivitas?

Kalau jawabannya sering, tidak, dan iya, maka, rumah di pinggiran justru bikin kalian stres. Gresik dan Sidoarjo, jelas bukan untuk kalian.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Tentang Gresik yang Sering Disalahpahami Orang Awam

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2026 oleh

Tags: Gresikharga rumah di gresikharga rumah di sidoarjoSidoarjoSurabaya
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

5 Tempat yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi di Surabaya terminal mojok (1)

5 Tempat yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi di Surabaya

1 Desember 2021
Surabaya Selepas Hujan Tak Lagi Seindah Video Orang-orang, Hanya Tinggal Banjir dan Macet di Jalan

Surabaya Selepas Hujan Tak Lagi Seindah Video Orang-orang, Hanya Tinggal Banjir dan Macet di Jalan

6 Maret 2024
Cak, Cik, Cok: Cara Sederhana Arek Surabaya Membedakan Level Umpatan dari Bunyi Vokal

Cak, Cik, Cok: Cara Sederhana Arek Surabaya Membedakan Level Umpatan dari Bunyi Vokal

13 September 2024
Sidoarjo Perlakukan Anak Muda seperti Pengemis Kerja (Unsplash)

Ketika Disnaker Sidoarjo Memperlakukan Anak Muda seperti Pengemis Kerja Padahal Pemerintah Gagal Menyediakan Lapangan kerja bagi Anak Muda

7 Juni 2025
Surabaya Nyaman bagi Mahasiswa, tapi Bikin Pekerja Nelangsa

Surabaya Nyaman bagi Mahasiswa, tapi Bikin Pekerja Nelangsa

18 Maret 2024
Puas Naik MTrans, Bus Surabaya-Denpasar yang Melarang Penumpangnya Kelaparan Mojok.co

Puas Naik MTrans, Bus Surabaya-Denpasar yang Melarang Penumpangnya Kelaparan 

23 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

25 Juli 2026
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

29 Juli 2026
Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis Jogja adalah anomali, perempatan paling berpendidikan sekaligus meresahkan di Jogja

29 Juli 2026
Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi Mojok.co

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi

27 Juli 2026
7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya Mojok.co

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

30 Juli 2026
Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

26 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.