Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
11 Mei 2026
A A
6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ramai soal pelibatan TNI dalam sesi pembekalan untuk awardee LPDP yang bersiap kuliah. Biasanya, segala hal yang menyangkut pembekalan dimasukan ke dalam agenda yang disebut dengan Persiapan Keberangkatan (PK).

“Lagi-lagi TNI” mungkin itu yang terlintas di benak masyarakat. Dalih pemerintah, pembekalan perlu agar awardee tidak mengalami culture shock saat kuliah. Terlebih, mereka studi di luar negeri. Mereka bisa punya nilai kebangsaan dalam diri yang dipegang teguh hingga selesai kuliah. Punya mental resilience, dan tidak terjebak dengan sindrom inferiority complex (minderan).

Akan tetapi, menurut saya pribadi yang juga seorang awardee LPDP, alasan supaya disiplin dan nggak culture shock itu terlalu generik. Sebab, sebagian besar dari kami lebih banyak menghadapi guncangan akademik, tekanan sosial, finansial, mental, dan profesionalitas. Jadi kalau pembekalannya bertumpu pada fisik dan karakter saja, maka akar masalahnya tidak terselesaikan.

Ibaratnya, yang dibutuhkan itu suplemen protein dan vitamin, ini malah yang dikasih paracetamol. Kurang tepat sasaran. Maka dari itu, alih-alih pembekalan ala-ala militer dari TNI, pelatihan berikut ini menurut saya lebih penting.

Baca juga 5 Alasan Mengapa Kamu Nggak Perlu Kuliah S2 Meskipun Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahun 2024 Telah Dibuka.

#1 Awardee LPDP masih perlu academic writing dan research integrity

Para awardee setelah PK, akan masuk dan menghadapi lingkungan akademik yang menuntut kemampuan menulis. Mungkin banyak dari awardee sudah mahir dan khatam soal tulis-menulis, tapi tulisan dalam dunia akademik gak hanya sekadar penulisan deskriptif, tapi juga argumentatif, kritis, dan tervalidasi dari sisi sumber.

Maka dari itu, awardee LPDP perlu dibekali keterampilan membuat literature review, membangun research gap, menyusun narasi kritik, membuat policy paper, dan memahami struktur penulis artikel jurnal ilmiah.

Selain itu, mereka juga perlu memahami etika akademik, sebut saja soal cara mengutip, paraphrase, penggunaan Zotero atau Mendeley, hingga kaidah penggunaan AI yang diperbolehkan secara etis. Mereka juga penting untuk memahami cara mengoperasikan perangkat riset seperti R, Python, Stata, NVivo, EViews, LaTeX, atau software systematic review, dan perangkat lainnya yang sering digunakan di kampus.

Baca Juga:

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

Mungkin terdengar teknis, tapi ini lebih berdampak langsung terhadap keberhasilan studi dibandingkan sekadar pelatihan fisik dan mental.

#2 Pembekalan komunikasi akademik juga penting

Saya rasa, keterampilan dalam komunikasi akademik sangat penting untuk menunjang seorang awardee. Kita terbiasa dengan budaya kelas yang terkesan hierarkis, jarang ada saling debat dan menyanggah. Itu berefek pada kemampuan komunikasi akademik yang tidak terasah.

Masalahnya, banyak kampus di luar negeri, menuntut mahasiswanya untuk aktif berbicara, bertanya, menyanggah dan mengkritik sebuah teori, konsep, bahkan fakta empiris di kelas. Maka dari itu, penting sekali latihan soal komunikasi akademik ini. Mulai dari hal yang paling sederhana, seperti cara mengirimkan pesan atau email ke dosen, meminta masukan, menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan, hingga proses berdiskusi dalam kelas atau seminar. Semua itu membuat awardee jadi lebih mudah adaptif di lingkungan akademik.

#3 Cross-cultural Classroom Survival

Memahami soal budaya negara tujuan itu sangat penting. Nggak hanya soal kehidupan sosialnya saja, tapi budaya akademik di kampus tempat awardee belajar. Awardee perlu paham soal norma akademik dan sosial secara praktis, mulai dari bagaimana sistem kerja kelompok dilakukan, sejauh mana batas privasi perlu dihargai, bagaimana menghadapi diskriminasi halus, dan seperti apa komunikasi yang efektif dan sopan di lingkungan akademik dan sosial.

Baca juga 6 Beasiswa yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa karena Berpotensi Menjebak.

#4 Awardee LPDP perlu juga melek soal mental health, loneliness, dan impostor syndrome

Ada satu fakta menarik soal awardee LPDP, baik di luar negeri maupun dalam negeri. Banyak awardee tumbang, stress, sakit, dan lain-lain bukan karena mereka nggak pintar. Namun, mereka mengalami kesepian, tekanan akademik, kangen orang tua, bersitegang dengan supervisor, hingga cuaca yang berat. Salah satu yang paling ngena adalah inferiority complex sehingga mereka merasa nggak pantas berada di lingkungan tersebut.

Mereka akhirnya perlu diberi pembekalan setidaknya soal bagaimana cara sederhana untuk mencari bantuan dan mengakses layanan konseling. Kesadaran untuk membangun support system dan kemampuan mengakali stress ketika dihadapkan pada kegagalan akademik juga diperlukan. Mereka butuh semua itu agar tetap bertahan.

#5 Persiapan setelah kampus

Setidaknya para awardee LPDP diberikan pembekalan soal persiapan setelah kampus dengan membaginya ke dalam beberapa cluster, misalnya cluster sebagai pendidik (dosen atau guru), cluster sebagai peneliti (entah itu di kampus atau industri), cluster sebagai profesional atau praktisi di industri, atau bahkan cluster sebagai pebisnis.

Semua itu perlu dipetakan dijadikan sebagai pembekalan sehingga awardee yang sudah punya goals makin punya gambaran soal apa saja yang perlu disiapkan dan dihadapi berdasarkan cluster-cluster karir pasca di kampus.

#6 Literasi finansial: tampak sepele, tapi penting bagi LPDP

Literasi keuangan adalah keterampilan sepele tapi sangat penting untuk diketahui. Sebab, mahasiswa yang cerdas secara akademik tidak lantas bebas dari ribetnya mengelola keuangan dengan biaya hidup tinggi. Awardee perlu banget dapat pembekalan soal menyusun anggaran, memahami soal bagaimana mekanisme bayar fasilitas di luar negeri, biaya transportasi, biaya tak terduga dan lain-lain.

Jangan salah, banyak awardee stress sendiri karena memang dana biaya hidup yang diterima tetap kurang karena kebutuhan riset dan publikasi yang menelan banyak biaya.

Selain 6 keterampilan di atas, ada keterampilan hariang seperti memasak, membaca label makanan, mencari makanan halal, memahami rute transportasi public, dan hal kecil lain yang bisa menjadi sumber stress.

Pada intinya gini, kalau negara ingin awardee LPDP lebih siap dan tahan banting, maka pembekalannya jangan berkutat soal disiplin ala-ala militer lah. Itu penting kok, tapi kebutuhan paling utama adalah kompetensi untuk adaptif.

Apa saja kompetensi itu, ya setidaknya 6 yang saya sebutkan di atas. Setidaknya pelatihan seperti itu lebih relate dengan problem nyata awardee daripada hanya membuat awardee jadi kayak robot yang kuat secara fisik atau patuh secara seremoni.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 5 Syarat “Terselubung” Beasiswa LPDP yang Jarang Orang-orang Bahas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: awardeeawardee LPDPbeasiswaLPDPluar negeripenerima beasiswa
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

LPDP Fokus Saintek, yang Soshum Nggak Usah Protes (Unsplash)

Kalau LPDP Cuma Fokus Ke Rumpun Saintek, Orang Soshum Sebaiknya Nggak Usah Protes

10 November 2024
Gagal Masuk Unair dan Berujung Kuliah di UINSA: Tidak Menyesal, toh Hidup Masih Baik-baik Aja Mojok.co

Gagal Masuk Unair dan Berujung Kuliah di UINSA: Tidak Menyesal, toh Hidup Masih Baik-baik Aja

11 Mei 2024
Tips Ikut Tes Bahasa Inggris Online dengan Duolingo English Test Langsung dari CS-nya. Dijamin Nggak Zonk! Mojok.co

Tips Ikut Tes Bahasa Inggris Online dengan Duolingo English Test Langsung dari CS-nya. Dijamin Nggak Zonk!

25 Oktober 2023
4 Alasan PNS Enggan Mengambil Tugas Belajar Terminal Mojok

4 Alasan PNS Enggan Mengambil Tugas Belajar

22 November 2022
Sisi Gelap Kerja di Pemerintahan: Enak, sih, kecuali Jadi Ajudan Pimpinan Instansi Daerah

PNS Sebaiknya Ambil Kesempatan Tugas Belajar, Banyak Manfaatnya!

23 November 2022
5 Keuntungan yang Saya Rasakan dari Beasiswa Bank Indonesia

5 Keuntungan yang Saya Rasakan dari Beasiswa Bank Indonesia

13 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Deodoran Kahf, Deodoran Murah yang Tidak Jualan Klaim yang Mewah, tapi Kualitasnya Begitu Hebat dan Nggak Bau, Nggak kayak Merek yang Itu tuh

Deodoran Kahf, Deodoran Murah yang Tidak Jualan Klaim yang Mewah, tapi Kualitasnya Begitu Hebat dan Tidak Bau, Nggak kayak Merek yang Itu tuh

17 Juni 2026
Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat Mojok.co

Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat

17 Juni 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

17 Juni 2026
Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus (Unsplash)

Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah: Ketika Rumah Tua Berubah Menjadi Sarang Tikus

21 Juni 2026
Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

19 Juni 2026
3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan Mojok

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan

18 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.