Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Siapa yang Bilang Jadi Anak Bungsu Enak? Maju Sini

Tazkia Royyan Hikmatiar oleh Tazkia Royyan Hikmatiar
22 April 2020
A A
anak bungsu tidak enak rentan stres dimaki kakak orang tua wfh disuruh-suruh mojok

anak bungsu tidak enak rentan stres dimaki kakak orang tua wfh disuruh-suruh mojok

Share on FacebookShare on Twitter

WFH membuat satu keluarga mulai dari anak hingga bapak seharian berdiam diri di rumah. Jika sebelum WFH kita bisa makan di luar, main ke luar, sekarang semua itu mesti dilakukan di dalam rumah. Itu berarti semakin banyak juga pekerjaan rumah yang perlu dilakukan. Memasak harus tiga kali sehari, membuat camilan, membersihkan rumah dua kali lipat lebih banyak daripada biasanya karena rumah jadi lebih cepat kotor. Ibu yang di Indonesia biasanya menjadi pengurus rumah tangga dikatakan rentan sekali mengalami stres di masa WFH. Ya bapak dan anak juga bisa stres sih. Hingga pada akhirnya, akumulasi stres itu tertumpuk pada anak bungsu.

Kok begitu?

Meski sebelumnya sudah biasa mengerjakan banyak hal, ibu tetap bisa stres menghadapi anak dan suami yang di luar ekspektasinya ketika berkegiatan di dalam rumah. Ekspektasi ibu saat keluarga di dalam rumah akan menyenangkan, tapi faktanya bosan juga ketika akhirnya melihat anak dan suaminya lebih banyak rebahan dan bermain gawai dibanding membantunya atau bercakap-cakap di ruang keluarga.

Akibatnya, banyak ibu yang akhirnya stres dengan ekspektasinya sendiri, dan korban dari stresnya ibu tentu saja seluruh anggota keluarga. Selain suami yang akan banyak diomeli, tentu saja korban paling rentan berikutnya adalah anak bungsu. Begini hasil pengamatan saya selama hampir dua minggu di rumah.

#1 Anak bungsu adalah pihak yang paling lemah dalam keluarga

Anak bungsu, kalau dia masih sekolah, orang tua berharap selama di rumah dia lebih banyak belajar. Atau seperti pada lagu anak-anak, bangun tidur, terus mandi, enggak lupa menggosok gigi, habis itu si bungsu menolong ibu, membereskan tempat tidurnya. Tapi fakta berkata lain, si bungsu bahkan dibangunkan dari tidur aja susahnya minta ampun.

Kalaupun sudah bangun, si bungsu enggak terus mandi. Mungkin iya ke kamar mandi, tapi cuma pakai jurus dua jari—celupin dua jari ke air, terus mengoleskannya pada ujung dua mata. Enggak ada tuh langsung mandi, apalagi gosok gigi, yang ada malah lanjutin tidur lagi. Sebab kecewa dengan ekspektasinya sendiri, orang tua akhirnya kecewa, terus mangkel, dan mulailah mulutnya meracau, ngomong ke mana-mana, secara enggak sadar malah caci-maki si bungsu.

Serius, kalau udah stres, ibu bisa sampai caci maki gitu. Banding-bandingin anaknya dengan anak orang lain. Kebiasaan yang sering dilakukan orang tua dan fatal sekali akibatnya. Si anak dengan dibanding-bandingkan bukan malah termotivasi, tapi jadi enggak percaya diri. Dan anak yang selalu jadi sasaran itu tentu saja si bungsu, kalau enggak kakak satu tingkat di atas si bungsu.

Kenapa enggak anaknya yang lain? Sebab, orang tua masih merasa si bungsu dan kakaknya setingkat dari si bungsu itu masih paling perlu diperhatikan, sudah sedewasa apa pun mereka. Alih-alih diperhatikan, ujungnya malah enggak baik juga karena terlalu berekspektasi tinggi dan kecewa.

Baca Juga:

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

Alasan Anak Muda Wonosobo Lebih Memilih Merantau daripada Menetap di Daerahnya 

#2 Anak bungsu korban utama disuruh-suruh

Deritanya bertambah berkali-kali lipat kalau dia punya banyak kakak. Mampuslah itu. Baru aja menunaikan suruhan ibu, eh langsung disuruh bapak. Udah disuruh bapak, eh langsung dipanggil lagi sama kakak pertama, disuruh beli anu. Saat akhirnya ibu atau bapak nyuruh kakaknya yang lain, eh si kakak malah ngelimpahin suruhannya ke si bungsu, “Ke si adek aja, ini lagi belajar.” Atau alasan-alasan lainnya. Sue.

Enggak ada waktu sama sekali buat main. Rasanya enggak boleh aja si anak bungsu ini diam duduk barang sejenak. Lebih menderita lagi kalau misal bungsunya itu seumuran saya misalnya, udah kuliah dan merantau. Yang biasanya kalau hidup di kosan enggak ada yang merhatiin, enggak ada yang nyuruh atau pun ngelarang ini-itu, eh pas pulang ke rumah langsung segala dilarang, segala disuruh.

Enggak boleh banget lihat saya misalnya ngorek gawai, meski itu lagi kuliah. Wei, enggak inget apa kalau anak bungsunya ini meski bungsu tapi udah kuliah, harus belajar onlen pula. Sumpah deh, Bu-ibu, Pak-bapak, Kak-kakak, menderita sekali kalau anak bungsu ini tetiba dijadikan pengganti babu.

Tempo hari adik saya yang bungsu bahkan sampai nangis, stres. Pasalnya, waktu dia main gawai, kakak saya terus-terusan nyuruh dia untuk ngerjain itu-ini. Baru aja duduk untuk mainin gawai, eh langsung diteriakin lagi, dipanggil lagi, dan disuruh lagi.

Ya, jangankan dia sih. Saya aja yang pangais bungsu atau kakak satu tingkat dari si bungsu stres parah kalau orang tua dan kakak-kakak saya udah nyuruh-nyuruh. Apalagi kalau untuk ukuran orang seumuran saya yang udah punya privasi sendiri, punya kegiatan yang perlu dilakukan sendiri, seperti baca, nulis, atau ngechat gebetan. Enggak bisa terus dituntut untuk ngerjain ini-itu. Saya juga kadang butuh waktu buat diam aja sendiri gitu.

Saya sungguh paham, Bapak-Ibu, meski sudah sedewasa apa pun anak, saat kembali ke rumah dia masih saja anak kecil di hadapan Bapak-Ibu. Tapi, jangan juga diperlakukan kayak bocah dulu banget yang bisa disuruh ini-itu, harus selalu bersama keluarga. Mau bagaimanapun anak sudah mulai punya kehidupannya sendiri di luar keluarga, dan itu mesti dihargai.

Ajaklah lebih banyak diskusi dengan tanpa judgement, ajak ngobrol tentang banyak hal jika mau anak tidak asik dengan dunianya sendiri, tapi jangan dibatasi juga. Kalau mau nyuruh mbok yo yang wajar, jangan yang bisa dilakuin sendiri, eh masih aja mau nyuruh. Beri ruang-ruang khusus untuk anak bereksplorasi. Beberapa psikiater malah menyarankan untuk menurunkan tingkat ekspektasi pada anak, biar enggak kecewa, biar enggak stres dan akhirnya malah menyakiti anak.

BACA JUGA Adik Saya Masih SD dan Ia Mengaku Sedang Jatuh Cinta. Ini Respons Saya dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 April 2020 oleh

Tags: anak bungsuOrang Tuawfh
Tazkia Royyan Hikmatiar

Tazkia Royyan Hikmatiar

Lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara, alhamdulilah lahirnya di bidan bukan sama orang pintar daerah Bandung. Setelah tahu bahwa kata ternyata bisa membuat dia bahagia, akhirnya saya memutuskan untuk mendalami sastra di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sempat mengikuti banyak komunitas kepenulisan, namun sekarang lebih fokus bekerja untuk keabadian di Pers Mahasiswa Poros UAD. Saya bisa dihubungi lewat WA di 088216427712

ArtikelTerkait

Menahan Sakit Melahirkan dan Rasa Rindu Setelahnya mojok.co/terminal

Menahan Sakit Melahirkan dan Rasa Rindu Setelahnya

11 Maret 2021
Biarkan Rafi Azzamy Bicara, dan Kalian Orang Tua Sok Sinis Sebaiknya Diam

Biarkan Rafi Azzamy Bicara, dan Kalian Orang Tua Sok Sinis Sebaiknya Diam

12 Juli 2022
one piece

Belajar dari One Piece: Tak Semua Orangtua Mengerti Passion Anaknya

15 Agustus 2019
Stop Glorifikasi Kemampuan Anak Naik Motor. Nggak Ada Keren-kerennya Tau! terminal mojok

Stop Glorifikasi Kemampuan Anak Naik Motor. Nggak Ada Keren-kerennya Tau!

19 September 2021
Nestapa Takdir Anak Bungsu yang Sering Dianggap Paling Bahagia

Nestapa Anak Bungsu yang Sering Dianggap Paling Bahagia

28 Februari 2023
ibu-ibu pekerja wfh diganggu anak komputer perempuan wabah corona bekerja di rumah perempuan karier mojok

4 Tips WFH yang Sulit Diterapkan Ibu-ibu

7 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.