Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Hewani

Shiro, Shinchan, dan Aturan Memelihara Hewan di Jepang

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
1 Agustus 2021
A A
shiro aturan pelihara anjing di jepang shibuya hachiko mojok

shiro aturan pelihara anjing di jepang shibuya hachiko mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Ada yang kenal anjingnya Shinchan? Yep, namanya Shiro. Nama ini diberikan Shinchan karena memang anjing ini berwarna putih dan menggemaskan. Putih dalam bahasa Jepang disebut shiro. Dia dipungut Shinosuke (Shinchan) dari jalan. Pemilik aslinya bernama Run. Run terpaksa “membuang” Shiro karena ayahnya alergi anjing.

Kisah Shiro ini tentunya bukan kisah kebanyakan anjing di Jepang. Meski biasa juga memberikan anjing kepada orang lain karena nggak bisa merawatnya sendiri, kebanyakan anjing di Jepang diadopsi dari pet shop.

Orang Jepang dan anjing

Dulu sewaktu di Jepang, hampir setiap sore saya melihat pemilik anjing menemani anjingnya jalan-jalan. Mulai dari anjing jenis shiba inu, anjing pudel, anjing kecil tak berbulu, sampai anjing setinggi anak umur lima tahun seperti anjing tetangga depan kontrakan yang suara gonggongannya menggelegar. Shinchan juga selalu disuruh Ibunya untuk mengajak Shiro jalan-jalan. Anjing sendiri termasuk binatang yang rentan stres, karenanya si pemilik wajib mengajak anjingnya keluar rumah. Nggak seperti kucing yang maunya goleran terus di rumah.

Saat liburan pun, saya hampir sering bertemu juga dengan anjing. Ada keluarga yang berteduh di bawah pohon sambil membentangkan tikar dan tiduran bersama anjingnya. Ada yang menggendong anjingnya di depan atau belakang menggunakan tas pet mirip helm antariksawan itu. Ada juga yang mendorong stroler berisi anjingnya meski dari belakang kelihatannya sama dengan stroler bayi.

Pemilik anjing wajib di Jepang wajib untuk membawa tas untuk wadah pup ajing. Kalau anjingnya pup di taman, pemilik wajib mengambilnya dan itu menjadi salah satu manner memelihara anjing di Jepang. Anjing juga dilarang masuk mall dan restoran. Jadi, nggak bakal ada kasus anjing masuk mall dan pup sembarangan lalu si cleaning service harus membersihkannya seperti di dalam video yang sempat viral di Indonesia beberapa saat lalu. Eh.

Biaya adopsi dan perawatan anjing di Jepang itu mahal

Tahu nggak sih berapa “harga” anjing di Jepang?

Maaf, mungkin binatang memang nggak boleh diperjualbelikan. Tapi, anggap aja harga yang dimaksud di sini adalah harga/ biaya adopsi ya.

Saya pernah melihat harga ini di pet shop dalam toko serba ada terkenal yang hampir ada di seluruh Jepang. Ada kucing dan anjing yang bisa diadopsi. Mereka ditaruh di kandang, diberi tempat tidur, mainan, makan dan minum. Lucu-lucu dan menggemaskan memang. Di samping mereka, dijual juga kandang anjing dan kucing yang lucu dan bagus. Aksesoris dan mainannya juga tak kalah seru. Di dalam pet shopnya itu juga ada petugas khusus yang merawat mereka.

Baca Juga:

Tetangga yang Nggak Niat Mengurus Hewan Peliharaan Wujud Kehidupan Tanpa Adab: Kalau Nggak Niat Pelihara, Mending Nggak Usah

Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh

Salah satu contoh harga adopsi kucing tadi adalah 390.000 yen (sekitar 50 juta rupiah). Gila kan? Untuk anjing, harganya bisa mencapai 450.000 yen (58,5 juta rupiah-an). Meski harganya bervariasi tergantung jenis, umur, dan lain-lain, tetap saja harganya sekitar itu.

Dalam kesempatan lain, saya sempat melihat ada calon pemilik yang sedang diwawancara terkait niatnya mengadopsi hewan tersebut. Orang yang mau memelihara anjing atau kucing harusnya punya komitmen kuat kenapa mereka memutuskan untuk memeliharanya karena biaya adopsi dan perawatan yang “nggak murah” ini.

Di Jepang nggak semua apartemen mengizinkan untuk boleh memelihara binatang. Kalau boleh, biasanya harga sewa apartemennya pun mahal. Di asrama kampus jelas nggak boleh. Biasanya mereka juga pakai mobil untuk membawa anjingnya. Biaya makan, salon, dan biaya perawatan kalau sakit pastilah memakan anggaran bulanan mereka.

Intinya, pelihara kucing dan anjing di Jepang itu urusan yang sama sekali nggak sepele.

Anjing dianggap seperti anak sendiri

Ya, anjing memang sudah sering dianggap sebagai keluarga dan anak sendiri bagi orang Jepang. Meski ada beberapa orang atau pasangan yang lebih memilih memelihara anjing dibanding memiliki anak sendiri. Jangan salah kaprah dulu ya. Memang ada pasangan Jepang yang berprinsip untuk nggak mau punya anak, entah apapun alasannya. Mungkin karena rumah terlalu sepi, mereka memutuskan untuk memelihara anjing atau kucing.

Bukan berarti anjing atau kucing masuk ke kartu keluarga juga lho ya. Tetapi, memang ada surat khusus yang menerangkan anjing ini milik siapa. Ciri-ciri saat lahir, beratnya berapa, dan lain-lain juga tertulis dalam surat keterangan itu. Itu kalau diadopsi secara resmi dari petshop sih. Kalau Shiro, sepertinya nggak punya ya.

Memperlakukan anjing dengan baik itu juga tertulis dalam undang-undang, bahkan ada Asosiasi Perlindungan Hewan Jepang. Kita bahkan bisa melaporkan pemilik seandainya dia menganiaya atau menelantarkan hewan peliharaannya sendiri. Ngomong-ngomong ada sepuluh syarat yang harus dipenuhi sebelum memelihara hewan di Jepang.

Sepuluh syarat yang harus dipenuhi sebelum memelihara ini adalah harus memiliki tempat yang layak untuk memelihara, mendapat persetujuan semua anggota keluarga, nggak ada kekhawatiran alergi binatang, mempersiapkan diri untuk memelihara hewan tersebut selama sisa hidupnya, mampu secara fisik untuk memberikan waktu dan perhatian. Nah, kita masuk di bagian yang paling penting, yaitu mampu secara finansial, mampu merawat kebersihannya, mau dan mampu merawat hewan peliharaan yang semakin menua, memikirkan kalau sekiranya pindah rumah/pindah kerja, dan harus memikirkan bagaimana jika suatu saat nanti nggak bisa merawatnya lagi. Kalau nggak bisa memenuhi sepuluh syarat itu, mending nggak usah pelihara anjing atau kucing daripada hanya menyakitinya saja.

Saya pernah melihat sendiri juga anjing yang tiba-tiba nggak mau jalan dan diam lama banget, dan si pemilik mau-maunya nungguin lho. Sabar banget ya. Mungkin anjingnya sedang ngambek ya.

Jangan lupa, ada kisah Islami tentang anjing yang menemani para pemuda bersembunyi di gua saat dikejar-kejar kaum kafir. Belum pula, kisah anjing bernama Hachiko yang menunggu tuannya di stasiun. Saking setianya, sampai dibuatkan patung Hachiko di stasiun Shibuya, Jepang. Udah pada tau kisah ini lah ya.

Kalau memang sudah memutuskan untuk memelihara anjing atau kucing, seharusnya segenap hati kita curahkan untuk merawat dan menyayanginya. Makanya, Shinchan sudah diwanti-wanti sama Ibunya agar memperhatikan Shiro dengan baik. Meski kadang Shiro dizalimi Shinchan, Shiro termasuk anjing yang pengertian dan nggak tegaan.

Meski begitu, Shinchan pun sayang banget sama Shiro, dan kewajiban Shinchan terhadap si Putih pun ditunaikan dengan tuntas. Setidaknya, adegan Shiro dan Shinchan bisa jadi sedikit representasi perkara memelihara anjing di Jepang.

BACA JUGA Kalau Kamu Pengin Tinggal di Jepang, Jangan Kaget dengan 6 Hal Ini dan tulisan Primasari N Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: adopsianjinghachikoHiburan TerminaljepangKucingpelihara hewanshibuyashinchanshiro
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

4 Drama Korea dengan Episode Kurang dari 16 yang Wajib Kalian Nonton

9 Juni 2021
gunting kuku sering hilang mojok

Mengapa Gunting Kuku Sering Menghilang Ketika Dibutuhkan?

1 Juni 2021
mnet produce 101 kingdom mojok

5 Alasan Mnet Nggak Kapok Bikin Acara Survival

2 Juli 2021
Hewan Peliharaan, Korban Pandemi yang Terlewatkan terminal mojok

Hewan Peliharaan, Korban Pandemi yang Terlewatkan

20 Agustus 2021
Kandungan Vitamin Nicholas Saputra, Langka dan Nggak Dijual di Apotek terminal mojok

Kandungan Vitamin Nicholas Saputra, Langka dan Nggak Dijual di Apotek

8 Juli 2021
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh

18 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.