Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Semrawutnya Lalu Lintas di Desa Mengalahkan Kota: Banyak Motor Nggak Sesuai Standar hingga Bocil Kebut-kebutan di Jalan

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
17 Juli 2024
A A
Semrawutnya Lalu Lintas di Desa Mengalahkan Kota: Banyak Motor Nggak Sesuai Standar hingga Bocil Kebut-kebutan di Jalan

Semrawutnya Lalu Lintas di Desa Mengalahkan Kota: Banyak Motor Nggak Sesuai Standar hingga Bocil Kebut-kebutan di JalanSemrawutnya Lalu Lintas di Desa Mengalahkan Kota: Banyak Motor Nggak Sesuai Standar hingga Bocil Kebut-kebutan di Jalan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Selama membaca tulisan-tulisan di Terminal Mojok, saya selalu mendapatkan dua hal: kalau nggak emosi, ya refleksi. Emosi ketika ada tulisan yang logikanya bikin kepala pening. Refleksi ketika ada tulisan yang membuat saya sadar akan masalah hidup. Salah satu contoh tulisan yang bikin rasa berefleksi adalah tentang hidup di desa yang ditulis oleh Mbak Erma, yang akhirnya mendorong saya untuk menulis ini.

Betul, aku cah ndeso, banget malah. Pengalaman dari mulai hidup di desa tempat saya lahir, desa tempat merantau, hingga desa tempat untuk sekadar bersinggah, semuanya saya punya. Bukannya sombong, ngopo yoan aku sombong dadi cah ndeso. Maksudnya, selama saya hidup di desa, ada satu masalah yang (kayaknya) belum dibahas di Terminal Mojok, yaitu kehidupan lalu lintasnya.

Oke, kalau memang lalu lintas di desa kalian aman-aman saja. Tapi tolong jangan anggap lalu lintas di semua desa selalu aman. Kecelakaan kecil tapi riskan itu cukup sering terjadi di desa-desa tertentu. Hanya saja memang, kecelakaan-kecelakaan kecil tapi menyakitkan itu bukan makanan pokok bagi media massa.

Tentu, kalau ngomongin intensitas kecelakaan, volume, dan jenis kendaraan, lalu lintas di kota jauh lebih menyeramkan daripada di desa. Tapi masalahnya, remuknya lalu lintas di pedesaan bukan soal itu. Bukan juga hanya soal tenda hajatan atau rusaknya jalan. Bukan. Lalu soal apa?

Budaya orang desa meremehkan standarisasi motor

Yang pertama adalah soal budaya meremehkan standarisasi motor. Kebanyakan orang di desa itu berpikir bahwa standarisasi motor hanya berlaku ketika mau berkendara di kota. Kenapa bisa begitu? Penyebabnya cuma satu: di desa nggak akan ditilang sama polisi.

Saya bukan bermaksud menginginkan polisi memanfaatkan kesempatan, lho, ya. Maksud saya, pemikiran merasa aman dari tilangan polisi itulah yang membuat kebanyakan motor warga desa dibiarkan tanpa dirawat. Misalnya nggak ada spion, nggak ada lampu depan, nggak ada sein, dll. Motor-motor kayak gitu biasanya dipakai untuk pergi ke sawah, kebun,a tau sekadar perjalanan antar desa.

Kalau saya boleh berharap pada warga desa, sebenarnya nggak muluk-muluk. Minimal spion, lampu depan, rem, dan sein itu harus ada. Sebabnya keempat komponen motor itu menurut saya penting banget. Bayangin kalau kalian berhadapan dengan orang yang motornya nggak ada keempat komponen itu. Bayangin!

Kalau ditanya apakah motor warga desa selalu mengenyampingkan semua komponen itu? Jawabannya nggak selalu. Kadang ada yang nggak pakai spion dan lampu depan, ada juga yang lampu rem dan seinnya itu mati. Macam-macam. Yang pasti, kacaunya lalu lintas di pedesaan sering kali disebabkan warga desa yang naik motor kayak gitu.

Baca Juga:

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

3 Mobil yang Diam-diam Lebih Masuk Akal untuk Dibeli daripada Beli Motor Baru

Oh, ya, satu lagi. Kalau bisa, tolong banget nggak usah pakai knalpot brong. Sumpah. Berisiknya itu lho, ndlogok banget.

Pentingnya jalan desa punya fasilitas keselamatan

Lalu yang kedua, soal minimnya fasilitas jalan. Selama saya hidup dan melintasi jalan-jalan desa, saya selalu heran, kenapa jalan desa itu minim sekali fasilitas keselamatan. Kok kesannya yang diperhatikan cuma aspal. Padahal fasilitas keselamatannya saya rasa juga nggak kalah penting. Nggak cuma untuk jalan kota.

Misal jalan desa yang banyak anak kecilnya, itu kan butuh rambu peringatan. Dan saya sering banget lewat jalan yang banyak anak kecil lalu-lalang. Entah karena di sana ada sekolah, lapangan, ataupun TPQ. Meskipun sekadar rambu, setidaknya itu bisa membantu pengendara yang tertib melihat rambu lalu lintas.

Kalaupun bukan rambu, karena pengendaranya banyak yang tolol, maka alat pembatas kecepatan bisa jadi solusi. Misal jalan yang banyak anak kecil itu rata-rata kecepatan pengendaranya kurang dari 20 km/jam, speed hump jelas bisa jadi solusi. Pengendara pasti mikir dua kali kalau mau melanjutkan ketololannya.

Jujur, saya kadang sedih melihat jalan desa yang nggak diperhatikan dengan fasilitas macam itu. Sedihnya, warga desa kadang sampai bikin markah kejut sendiri pakai ban yang dibelah dan disambung-sambung. Markah kejut itu pun kadang ada yang besar, ada juga yang kecil. Dan tentu, yang kecil nggak pengaruh bagi pengendara yang tololnya sudah akut. Itu dia sedihnya.

Para orang tua kelewat egois sama bocilnya

Kemudian yang terakhir, yakni soal pengendara motor belum cukup umur. Betul, mereka adalah bocil kematian yang umurnya masih di bawah 17 tahun. Saya pribadi sebenarnya nggak masalah kalau di desa ada bocil mengendarai motor. Cuman syaratnya satu: nggak brutal.

Sumpah, saya itu sering berhadapan sama bocil di desa yang sok-sokan macak Valentino Rossi. Katakanlah si bocil ini memang mampu kayak Rossi, tetap saja goblok. Lha dalan deso, lho. Bahkan saya yang terbilang pengendara paling sabar dan berhati lembut saja, kadang tak kuasa untuk nggak bilang “mbokne ancok” ke mereka.

Ya mohon maaf kalau misalnya bocil kalian pernah saya pisuhi. Itu juga karena ulah kalian sendiri yang kelewat egois. Egois karena membiarkan mereka hidup dalam kemungkinan ngerinya kecelakaan lalu lintas. Bahkan nggak cuma mereka, orang lain dan anak kecil yang lain juga bisa kena getahnya. Kalau itu terjadi, apa mau kalian menanggung biaya dan dosanya? Jelas nggak.

Entahlah, saya nggak tahu solusi makro yang bisa mengatasi masalah ini. Dan saya memang nggak wajib merasa perlu ngasih solusi itu. Yang wajib merasa perlu ya pemerintah terkait, entah itu pemkab, pemda, atau dinas perhubungan. Semoga saja mereka segera sadar akan masalah lalu lintas di desa ini. Semoga nggak nunggu warganya menderita dulu, baru kemudian ngasih solusi.

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2024 oleh

Tags: Desakendaraan bermotorlalu lintasMotor
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Parkir Sesuai Jenis dan Warna Motor Memang Kelihatan Estetis, tapi Sebenarnya Bikin Repot

Parkir Sesuai Jenis dan Warna Motor Memang Kelihatan Estetis, tapi Sebenarnya Bikin Repot

14 Februari 2024
4 Tradisi Kondangan di Desa yang Bikin Heran Orang Kota Terminal Mojok ngawi

4 Tradisi Kondangan di Desa yang Bikin Heran Orang Kota

4 Desember 2022
Juara 1 Orang Paling Menyebalkan Adalah yang Pinjam Helm Tanpa Izin terminal mojok.co

Di Kota, Saya Disebut Kampungan Hanya Karena Tidak Menggunakan Helm

24 Juni 2019
FBS Unesa: Surganya para Maling Motor

FBS Unesa: Surganya para Maling Motor

1 Oktober 2024
5 Dosa Pengendara Sepeda Motor ketika Musim Hujan Mojok.co

5 Dosa Pengendara Sepeda Motor ketika Musim Hujan

4 November 2024
supra X yamaha r15 cbr 150r Kepincut Beli Honda Scoopy Terbaru padahal Baru Saja Kredit Motor terminal mojok.co

3 Kekurangan Supra Fit Edisi Pertama yang Bikin Pusing Pemiliknya

17 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Banyu Urip, Kelurahan Paling Menderita di Surabaya (Unsplash)

Banyu Urip Surabaya Kelurahan Paling Menderita, Dibiarkan Kebanjiran Tanpa Menerima Solusi Sejak Dulu

10 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.