Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Nggak Tahu Ada Razia Nggak Akan Menyelamatkanmu dari Tilang

Muhammad Raihan Nurhakim oleh Muhammad Raihan Nurhakim
26 Juli 2022
A A
Nggak Tahu Ada Razia Nggak Akan Menyelamatkanmu dari Tilang makassar

Nggak Tahu Ada Razia Nggak Akan Menyelamatkanmu dari Tilang (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Alasan nggak tahu bakal ada razia nggak akan menyelamatkanmu dari tilang, jadi, nggak usah dipakai lagi

Beberapa hari yang lalu, sekitar jam setengah sepuluh pagi, saya pergi ke Cimahi dengan motor karena ada satu urusan. Ternyata, saat hendak melewati masjid Agung Cimahi, terdapat banyak polisi yang bersiaga di seberangnya. Jumlahnya cukup banyak, lebih dari sepuluh orang, bahkan ada mobil patrolinya juga. Setelah saya perhatikan lagi, mereka sedang melakukan razia kepada pengguna kendaraan bermotor yang melintas di jalan itu.

Beruntungnya, saya tidak diberhentikan oleh polisi karena razia itu dilakukan di jalan arah Cimahi-Padalarang sedangkan saya sedang berada di jalan arah sebaliknya. Meskipun begitu, saat pulang, saya tetap mengambil jalan memutar, khawatir razia masih dilakukan di jalan yang biasanya saya lewati itu.

Sebenarnya, saya tidak punya alasan khusus untuk menghindari razia. Helm selalu menempel di kepala saya, meskipun tidak pernah tahu apakah sudah SNI atau belum. SIM dan STNK selalu saya bawa setiap bepergian. Begitu pun pelat nomor yang masih aktif terpampang jelas di depan dan belakang motor saya. Hanya lampu depan saja yang jarang saya nyalakan saat berkendara. Maklum, kelistrikan motor saya ini sering bikin emosi. Untuk menyalakan motor saja sudah tidak bisa menggunakan starter elektrik. Makanya daripada buang-buang setrum aki, lebih baik lampunya saya nyalakan saat benar-benar butuh saja.

Selama ini, saya hampir tidak pernah kena razia, apalagi mendapat surat tilang. Satu-satunya pengalaman saya dirazia mungkin saat masih SD. Yaaa anggap aja nggak pernah lah ya.

Tapi, ngomong-ngomong soal razia, saya tahu ada berbagai macam alasan yang dapat digunakan pengendara motor agar tidak ditilang saat dirazia oleh polisi. Pengendara yang tidak pakai helm biasanya akan mengatakan bahwa tujuannya dekat dengan rumahnya. Sementara itu, pengendara yang tidak membawa SIM atau STNK akan mengatakan mereka lupa membawa dompet atau sedang meminjam motor punya temannya.

Namun, dari sekian banyak alasan, ada satu alasan paling “nyeleneh” menurut saya yang mungkin juga cukup sering dilontarkan oleh banyak pengendara demi tidak mendapat tilang dari Pak Pol. Betul, alasan tersebut adalah mereka tidak tahu jika polisi mengadakan razia.

Biasanya alasan ini akan menjadi gerakan pertama dari rangkaian strategi ngeles di depan polisi saat dirazia. Jika gerakan pertama itu berhasil digunakan, mereka akan lanjut ke gerakan selanjutnya, yaitu mengatakan bahwa “kalau saya tahu ada razia, saya akan pakai helm/bawa SIM dan STNK kok, Pak!”

Baca Juga:

Pertigaan Lampu Merah Kletek Sidoarjo, Pertigaan Angker bagi Pengendara yang Tak Taat Peraturan Lalu Lintas

Saya Yakin Nggak Akan Ada Razia Mi Ayam Wonogiri, sebab Kami Cinta Damai dan Memilih Fokus Mengejar Rezeki

Menurut saya, itu adalah alasan paling absurd yang pernah ada untuk menghindari tilang saat dirazia. Saking absurdnya, saya yakin alasan ini tidak akan pernah berhasil untuk menghindari tilang.

Dan meski ini alasan konyol bin wagu, saya tetap mau menganalisis kenapa alasan ini nggak akan berhasil. Biar kalian nggak ngeyel lagi pake alasan ini, soalnya udah ada argumen yang valid.

Begini. Setiap alasan harus memiliki bukti yang kuat dan nyata. Polisi biasanya punya alasan yang dapat dibuktikan untuk menilang pengendara karena telah melakukan pelanggaran lalu lintas. Bagaimana proses pembuktian yang dilakukan oleh polisi? Ya tinggal dilihat kelengkapannya saja. Jika kelengkapan itu tidak dapat dibuktikan keberadaannya oleh pengendara maupun polisi, hampir bisa dipastikan surat tilang akan dilayangkan kepada pengendara. Sebaliknya, jika semua hal-hal tersebut dipatuhi dan dapat dibuktikan, polisi tidak punya alasan sama sekali untuk memberikan surat tilang.

Namun, berbeda halnya dengan pengendara yang ingin membuktikan bahwa ia tidak tahu ada razia yang dilakukan oleh polisi. Persoalan ketidaktahuan adanya razia itu adanya dalam pikiran si pengendara. Nah, isi pikiran mengenai ketidaktahuan adanya razia itu kan bentuknya abstrak, tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia.

Lalu, bagaimana cara membuktikannya? Apakah si pengendara harus mengeluarkan isi otaknya terlebih dahulu? Ataukah setiap ada razia, polisi ke mana-mana harus membawa lie detector yang keakuratannya pun masih dipertanyakan? Tentu tidak, kan. Baik si pengendara yang melanggar maupun polisi yang ingin menilang sama-sama tidak dapat membuktikan ketidaktahuan pengendara soal adanya razia. Jangankan menghadirkan bukti yang kuat, bukti yang dapat dilihat dan nyata saja tidak dapat ditunjukkan. Oleh karena itu, pembuktian ketidaktahuan pengendara soal adanya razia adalah hal yang sia-sia. Itulah keabsurdan yang pertama.

Satu-satunya hal yang dapat dibuktikan secara nyata dari persoalan ini hanyalah pengendara yang memang secara lahiriah tampak jelas melanggar aturan. Cara-cara tersebut dapat memberikan bukti yang tidak terbantahkan mengenai pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara.

Lagipula, kalaupun ketidaktahuan si pengendara itu benar-benar dapat dibuktikan, hal itu tetap tidak dapat dijadikan alasan yang membebaskannya dari hukuman tilang. Lho, kenapa? Bukannya jika kita tidak tahu adanya razia, pengendara akan dimaafkan oleh polisi?

Nah, di situlah letak keabsurdan yang kedua. Banyak pelanggar lalu lintas berpikir bahwa seandainya mereka bisa membuktikan atau setidaknya meyakinkan kepada polisi bahwa mereka tidak tahu ada razia, mereka bisa lolos dari tilang.

Padahal, kenyataannya tidak. Setahu saya di negeri Indonesia yang tercinta ini, seluruh aparat penegak hukum memberlakukan sebuah asas hukum yang disebut asas fiktif hukum. Asas ini memberikan arti bahwa setiap peraturan dan perintah dapat langsung ditegakkan tanpa harus mempertimbangkan tahu atau tidak tahunya orang-orang tentang peraturan atau perintah tersebut.

Hal yang perlu diingat dari asas ini adalah tidak berarti bahwa penegak hukum dapat seenaknya untuk melakukan penindakan tertentu. Mereka juga berkewajiban untuk mempublikasikan peraturan dan perintah secara wajar kepada khalayak umum. Hanya saja, ketidaktahuan publik tentang hal tersebut bukanlah menjadi pertimbangan utama yang melepaskan dari upaya penegakan hukum. Jadi, baik tahu atau tidak tahu ada razia, jika melanggar aturan berlalu lintas, ya tetap saja kena tilang!

Dengan begini, sudah jelas bahwa alasan tidak tahu adanya razia bukanlah alasan yang baik untuk menghindari tilang. Makanya, daripada membual dan mengatakan hal yang sebenarnya sia-sia demi tidak mendapat surat dari Pak Pol, lebih baik tingkatkan kesadaran untuk selalu mematuhi peraturan berlalu lintas agar dapat memberikan keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain. Luwih mashok.

Terakhir, saya minta beneran, jangan pake alesan nggak tahu ada razia lagi. Beneran, jangan.

Penulis: Muhammad Raihan Nurhakim
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tilang Elektronik: Bukannya Berusaha Mematuhi, Malah Berlomba Mencurangi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2022 oleh

Tags: Alasanraziatilang
Muhammad Raihan Nurhakim

Muhammad Raihan Nurhakim

Mahasiswa hukum yang tidak ingin jadi pengacara, apalagi hakim.

ArtikelTerkait

5 Lokasi yang Diyakini sebagai Sarang Tilang Polisi di Mojokerto

5 Lokasi yang Diyakini sebagai Sarang Tilang Polisi di Mojokerto, Pastikan Kendaraanmu Lengkap Saat Lewat Sini

9 Oktober 2024
takhayul

Takhayul yang Masih Banyak Dipercaya: Sukanya Kok Membatasi Ruang Gerak

16 Oktober 2019
4 Hal yang Bikin Saya Betah Tinggal di Jogja mantan

4 Hal yang Bikin Saya Betah Tinggal di Jogja

9 Juli 2022
Kendal, Surga bagi Tukang Parkir Liar, Nggak Ditindak, Nggak Kena Razia, Aman! jukir liar

Kendal, Surga bagi Tukang Parkir Liar, Nggak Ditindak, Nggak Kena Razia, Aman!

25 Januari 2024
Kepribadian Orang bisa Ditebak Melalui Cara Mereka Melewati Polisi Tidur mojok.co/terminal

Kenapa Sih Harus Ada Polisi Tidur?

6 Agustus 2019
Oh, Ternyata Begini Rasanya Kena Razia Masker Terminal Mojok

Oh, Ternyata Begini Rasanya Terjaring Razia Masker

17 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.