Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Lalu Lintas Australia Bikin Orang Indonesia Iri, Pengendara Tetap Tertib walau Nggak Ada Polisi 

Mochamad Iqbal Nurmansyah oleh Mochamad Iqbal Nurmansyah
6 Oktober 2024
A A
Lalu Lintas Australia Bikin Orang Indonesia Iri, Pengendara Tetap Tertib walau Nggak Ada Polisi  Mojok.co

Lalu Lintas Australia Bikin Orang Indonesia Iri, Pengendara Tetap Tertib walau Nggak Ada Polisi  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di Australia saya merasa lebih nyaman menggunakan mobil pribadi ketika bepergian. Bukan karena transportasi publik di negara kangguru itu kurang memadai. Wilayah-wilayah di Australia sangatlah luas. Jarak satu daerah dengan daerah lain begitu jauh. Bepergian jadi lebih praktis menggunakan mobil pribadi. Apalagi kalau pergi bersama banyak teman/keluarga dan barang bawaan yang tidak sedikit.

Berdasar pengalaman saya, jumlah pengguna mobil pribadi di Australia sebenarnya cukup banyak, tapi jalanan di sana terhitung masih lenggang. Selain itu, jalanan di Australia super mulus. Dengan kondisi seperti itu, pengendara bisa langsung tancap gas hingga 60 km per jam. Jarak sejauh 30 km per jam bisa ditempuh dengan waktu 30 menit saja. 

ADVERTISEMENT

Sebenarnya, pengendara bisa memicu adrenalin untuk ngebut melebihi batas kecepatan agar cepat sampai di tujuan. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh para pengendara di negeri kanguru ini, sebab kena tilang di Australia sungguh menyakitkan.

Kena tilang adalah momok 

Di negara mana pun, kena tilang adalah momok. Di Indonesia misalnya, melihat pak polisi siap sedia di pinggir jalan sudah membuat hati deg-degan. Apalagi di Australia, perasaan was-was kena tilang semakin terasa karena besaran denda pelanggaran lalu lintas yang tidak main-main. Terlebih untuk pelajar Indonesia di Australia, denda benar-benar bisa menguras dompet. 

Saya spill sedikit ya, berkendara di atas batas maksimum kecepatan bisa kena denda $287 hingga $1,078 (Rp3 juta hingga Rp11 juta) tergantung batas kecepatan yang dilanggar. Begitu juga dengan tidak menggunakan sabuk pengaman atau menggunakan ponsel saat berkendara, bisa kena denda sekitar $1,078. Dengan kata lain, sekali melakukan pelanggaran lalu lintas setara membeli satu iPhone 14!

Mengandalkan CCTV

Uniknya, saya jarang melihat polisi di jalanan Australia. Walau tidak ada polisi yang mengawasi, pengguna jalan tetap tertib lalu lintas, tidak melakukan pelanggaran sekecil apapun. Selidik punya selidik, lalu lintas Australia sudah diawasi dengan banyak sekali CCTV. Jadi, walau tidak ada polisi, pelanggaran-pelanggaran tetap tercatat dan hukum sangat ditegakkan. Jelas tidak ada jalan “damai”.  

Itu mengapa, ketika berkendara di Australia dan merasa melanggar peraturan, tinggal tunggu saja surat tilang datang ke kotak pos rumah kalian. Biasanya surat akan dilayangkan dalam waktu 2 minggu hingga 1 bulan setelah berkendara. Pelanggar bisa melunasinya langsung atau mengangsur pembayaran sesuai kemampuan. Iya, denda pelanggaran lalu lintas sebesar itu hingga ada opsi menangsur. Apabila kalian merasa tidak bersalah dan mendapat surat tilang, kalian bisa mengajukan gugatan dalam persidangan. 

Salah satu pelajar Indonesia di Australia pernah bercerita, dia pernah tilang karena terpotret meletakan ponsel di paha oleh sebuah CCTV lampu merah. Ada juga yang berkendara melebihi batas kecepatan saat buru-buru ingin hadir dalam suatu kegiatan. Dan, sudah barang tentu semua kejadian tersebut tercatat rapi oleh kamera CCTV. Pada surat yang diterima, sangat jelas pelanggaran yang dibuat dan bukti-bukti yang tercatat secara rapi.

Baca Juga:

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

Pengalaman Melepas Penat dengan Camping ala Warlok Queensland Australia

Terbiasa taat lalu lintas di Australia

Di balik semua yang terjadi, tentunya ada pelajaran yang dapat diambil. Di sini kami jauh lebih taat terhadap peraturan. Salah satu yang paling terasa, anak-anak harus duduk di bangku belakang menggunakan car seat dan sabuk pengaman. Selain itu, kami tidak akan ngebut melebihi batas aturan sekalipun jalanan kosong melompong. Kami tahu aturan dan denda pelanggaran lalu lintas di sini benar-benar bekerja sebagaimana mestinya dan bikin kapok.  

Kondisi ini seharusnya bisa jadi tamparan keras bagi kepolisian di negara seberangnya, Indonesia. Mungkin CCTV di jalanan Indonesia belum secanggih yang ada di Australia, tapi kan masih ada polisi yang siap menilang kapan saja. Persoalannya, apakah hukum benar-benar ditegakkan? Sering yang kita temui justru banyak “uang damai” yang masuk ke rekening pribadi polisi. Kalau sudah begitu, mana mungkin pelanggar lalu lintas jadi kapok. Mereka kemungkinan besar akan melakukan pelanggaran yang sama di lain waktu. Di sisi lain, pengguna jalan seharusnya sadar bahwa aturan dibuat dan sudah sepatutnya ditegakkan untuk kepentingan bersama dan menghindari kecelakaan. 

Penulis : Mochamad Iqbal Nurmansyah
Editor : Kenia Intan 

BACA JUGA Buku Sistem Pendidikan Finlandia; Belajar Cara Belajar, Menyadarkan Saya Betapa Bobrok dan Tertinggal Sistem Pendidikan Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2024 oleh

Tags: australiaindoensialalu lintaslalu lintas australiapolisitilang
Mochamad Iqbal Nurmansyah

Mochamad Iqbal Nurmansyah

ArtikelTerkait

bermain handphone

Dear, Orang yang Bermain Handphone Saat Berkendara: Kalian Menyebalkan dan Mengabaikan Keselamatan

9 September 2019
#PolisiSesuaiProsedur smackdown

Ironi #PolisiSesuaiProsedur: Kemarin (Berusaha) Romantis, Sekarang? Nilai Sendiri

14 Oktober 2021
Polisi Tidur, Solusi Persoalan Lalu Lintas yang Malah Merepotkan Pengendara Mojok.co

Polisi Tidur, Solusi Persoalan Lalu Lintas yang Malah Merepotkan Pengendara

24 Oktober 2024
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja malang

Wonogiri, Kota dengan Durasi Lampu Merah yang Singkat, Lalu Lintas Dijamin Lancar!

10 Juli 2024
Polresta Banyuwangi Launching Hotline Wadul, Bagaimana Nasib para Pelapor? Bisa Dijamin Aman?

Polresta Banyuwangi Launching Hotline Wadul, Bagaimana Nasib para Pelapor? Bisa Dijamin Aman?

29 September 2023
pengangguran

Selamat Datang Iptu Triadi di Dunia Pengangguran yang Keras!

13 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega buta warna parsial

Gara-gara buta warna parsial, saya tidak bisa jadi apa-apa karena syarat administrasi yang mendiskriminasi

9 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.