Selain kerja bakti, rewang adalah bentuk gotong royong yang khas di kalangan masyarakat Indonesia. Tujuan rewang adalah untuk meringankan beban pemilik hajat yang sedang menyelenggarakan acara, seperti pernikahan, kelahiran, maupun kematian.
Beberapa waktu lalu, tulisan berjudul Inisiatif ikut rewang di kampung biar nggak dikira antisosial malah berujung trauma naik di Terminal Mojok. Tulisan tersebut menceritakan kisah penulis yang ikut rewang di tempat tinggalnya. Penulis menyoroti hal-hal negatif yang membuatnya kecewa saat rewang sehingga sempat kapok.
Padahal, rewang juga punya sisi positif yang menurut saya nggak seharusnya membuat seseorang jadi trauma untuk ikut rewang lagi.
Rewang adalah momen pas untuk belajar masak
Saya nggak menampik fakta bahwa terkadang kita sangat kikuk waktu pertama kali ikut rewang. Kita masih bingung mengerjakan apa. Kadang kita cuma mengekor ibu, mengerjakan tugas-tugas kecil, atau mirisnya lagi nggak dikasih perintah apapun karena dianggap masih sangat pemula.
Momen seperti ini memang menyebalkan. Tapi, itu cuma satu fase awal. Wajar kalau ibu-ibu yang sudah lama ikut rewang nggak ngasih kita tugas. Mereka hanya masih sungkan karena belum tahu kita ahli atau suka mengerjakan bagian apa.
Kalau sudah sering ikut rewang, percayalah, rewang itu bakal jadi tempat yang lebih powerful dibandingkan ikut kelas memasak. Di sini, ibu-ibu yang sudah veteran dalam hal mengolah makanan nggak akan pelit membagikan hacks dan tips biar makanan jadi lebih enak.
Kalaupun kita salah dalam menyiapkan hidangan, mereka pasti akan menegur. Dan teguran ini bukan untuk mempermalukan kita. Justru mereka melakukan itu biar kemampuan kita jadi lebih baik.
Selain itu, kalau kita salah atau nggak efisien saat mengolah makanan, jelas mereka akan menegur. Kan di sini posisi mereka juga hanya meringankan beban pemilik hajat. Mereka pasti nggak mau dong durasi memasak membengkak karena kita kelamaan, misalnya.
Siapapun yang pertama kali ikut rewang pasti akan merasakan jadi anak bawang. Asalkan nggak kapok dan menyerah, skill memasak kita pasti ikut berkembang setelah di-drill sama ibu-ibu lain.
Rewang yang katanya selalu jadi forum gosip
Di mata sebagian orang, citra rewang itu buruk. Rewang disebut tak ubahnya forum gosip yang memfasilitasi ibu-ibu untuk membicarakan kejelekan tetangganya sendiri. Bahkan, di tulisan yang saya sebut tadi, disebut bahwa slogan warga dukung warga nggak berlaku saat rewang.
Saya akui, rewang memang menjadi momen untuk mendapatkan berita paling cepat, bahkan kita bisa tahu kabar “rahasia” saat ikut rewang. Tapi, kalau dimanfaatkan dengan benar, justru rewang itu berjasa di kehidupan sosial.
Pernah ada suatu waktu ketika tetangga di RT saya sudah nggak kelihatan beberapa hari. Ibu-ibu langsung bertanya-tanya sembari mengiris bawang. Tetangga sebelah rumahnya langsung bercerita bahwa beliau memang sedang sakit. Langsung deh ibu-ibu rombongan membesuk beliau keesokan harinya. Nah, yang seperti ini kan bukan gosip, tapi bentuk perhatian.
Dalam kasus di kampung saya pun obrolan yang dibahas ibu-ibu saat rewang nggak pernah habis. Ada saja topiknya. Tapi, kalau mulai ngomongin orang, ibu-ibu itu cuma akan membahas orang-orang yang membangkang dan menyalahi aturan. Nggak akan kok ibu-ibu itu menjelek-jelekkan orang yang baik dan nurut pada aturan.
Sebagai makhluk sosial, ya mau nggak mau kita harus mengikuti aturan di tempat kita hidup. Contoh nih, kalau kita tinggal di daerah pedesaan tapi perilaku kita liberal bahkan cenderung rebel, ya kita harus siap dengan konsekuensi diomongin tetangga. Kalau kita tinggal di lingkungan yang agamis tapi kita hidup dengan cara yang berkebalikan, ya jangan marah kalau tetangga menegur.
Teguran dan gosip itu bentuk kontrol sosial. Kontrol sosial sudah sepaket kita dapatkan ketika kita memutuskan tinggal di suatu tempat. Justru dari kontrol sosial semacam ini kita bisa mengambil nasihatnya. Kecuali kalau obrolan ibu-ibu menjurus ke fitnah, nah itu baru sisi negatif.
Kearifan lokal
Jujur saja, saya bangga dengan kearifan lokal yang kita miliki dalam bentuk rewang di kampung ini. Ketika tinggal di luar negeri, saya nggak pernah menjumpai gotong royong yang sama atau minimal serupa dengan rewang. Maka dari itu saya beberapa kali memperkenalkan tradisi rewang dan berbagai kegiatan gotong royong lain yang kita miliki kepada orang-orang di luar negeri.
Memang betul rewang juga punya sisi negatif, sebagaimana semua hal di dunia ini. Tapi jangan sampai sisi negatif rewang membuat otak kita ikut tercuci pendapat bahwa rewang itu nggak bermanfaat. Jangan sampai tradisi rewang pada akhirnya punah karena nggak ada anak muda yang mau melanjutkan. Kan sayang banget.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.