Rewang sering dianggap sebagai bentuk gotong royong paling sederhana. Ada tetangga punya hajatan, tetangga lain datang membantu. Tidak dibayar, tidak mendapat honor, bahkan kadang pulang dalam kondisi capek. Karena tidak ada bayaran tapi tetap banyak yang ikut, rewang kemudian dianggap sebagai kegiatan sukarela.
Padahal, dan ini nyata, tidak semua orang datang karena murni ingin membantu. Ada yang datang karena balas budi, karena sungkan, karena kenal saja. Tapi, tidak sedikit juga ada yang takut kena tekanan sosial kalau sampai tidak ikut rewang.
Lho, ini serius. Sudah jadi rahasia umum, kegiatan gotong royong kampung macam rewang itu kadang menghasilkan tekanan tak kasat mata. Partisipasi adalah keharusan, jika tidak, konsekuensinya betul-betul tak menyenangkan.
Takut jadi bahan omongan
Inilah bagian yang sering tidak dibicarakan dari tradisi rewang. Ada orang yang sebenarnya sedang capek, punya pekerjaan, atau memang tidak dalam kondisi yang prima untuk. Namun tetap datang karena tidak mau menjadi bahan pembicaraan.
Sebab di lingkungan tertentu, orang bisa benar-benar ngecek siapa yang nggak ikut rewang. Kalau ikut ya, bodo amat. Apalagi kalau rumah masih satu kampung. Besok ketemu tetangga, bisa saja muncul tatapan yang terasa seperti sidang pengadilan.
Memang lucu kalau dipikir. Ini cuma rewang, bukan tindakan kriminal. Tapi penghakimannya bisa benar-benar berat
Tidak rewang=tidak peduli
Salah satu alasan paling masuk akal seseorang tetap ikut rewang adalah takut dianggap tidak peduli terhadap tetangga. Di lingkungan yang hubungan antarwarganya masih dekat, kehadiran dalam kegiatan bersama sering dianggap sebagai tanda kepedulian. Kalau datang, aman. Kalau tidak datang, mulai muncul pertanyaan. “Lho, kok nggak ikut?”
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Namun kalau terus berulang, bisa membuat seseorang merasa sedang dinilai. Akhirnya, daripada dianggap tidak peduli, lebih baik datang. Toh, cuma membantu sebentar.
Dicap tidak guyub kalau tidak ikut rewang
Ada juga tekanan untuk tetap terlihat sebagai bagian dari lingkungan. Orang yang rajin mengikuti kegiatan kampung biasanya dianggap guyub. Sebaliknya, orang yang jarang muncul bisa mendapat label sebagai orang yang kurang bergaul. Masalahnya, label sosial seperti ini terkadang sulit dilepaskan.
Sekali dianggap tidak guyub, perilaku berikutnya bisa ikut dibaca melalui label tersebut. Karena itu, datang rewang menjadi semacam cara sederhana untuk mengatakan, “Saya masih bagian dari lingkungan ini.” Bukan karena tidak mau membantu, tapi takut kena cap yang belum tentu benar.
Hari ini rewang, besok dibantu
Rewang juga tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari prinsip timbal balik. Hari ini membantu tetangga menyiapkan hajatan. Besok ketika keluarga sendiri punya acara, berharap tetangga datang membantu.
Ini bukan sesuatu yang buruk. Justru mekanisme seperti ini membuat kehidupan kampung bisa berjalan lebih ringan. Yang menarik adalah bagaimana bantuan tersebut akhirnya bisa terasa seperti kewajiban yang kadang menghasilkan penghakiman.
Bukan lagi sekadar, “Saya mau membantu.” Tetapi berubah menjadi, “Kalau sekarang saya tidak datang, nanti ketika punya hajatan siapa yang mau membantu?” Nah, di sinilah rewang mulai punya dimensi sosial yang lebih rumit.
Hal ini membuat rewang terasa seperti investasi sosial. Bukan investasi berupa uang. Investasinya berupa tenaga, waktu, dan kehadiran.
Baca halaman selanjutnya