Helm Motor Terbaik Adalah Helm Bonus Hasil dari Beli Kendaraan – Terminal Mojok

Helm Motor Terbaik Adalah Helm Bonus Hasil dari Beli Kendaraan

Artikel

Firdaus Al Faqi

Setelah tulisan desainer sandal gunung layak masuk surga lantaran sandalnya bisa multifungsi, saya coba untuk mencari lagi barang-barang lain yang kira-kira setara dengan sandal tersebut. Sebenarnya ada beberapa barang, mulai dari tikar, tas, dll. Namun saya belum punya alasan cukup untuk menuliskannya. Lantas, yang saya pilih untuk ditulis kali ini adalah helm motor. Sebuah barang yang berfungsi untuk nutupin muka di jalan biar nggak ketahuan saat bawa gebetan dan juga berfungsi untuk melindungi kepala kalaupun terjadi benturan: bisa saat konser dangdut ataupun saat di jalanan.

Helm motor seperti yang diketahui, juga punya beragam jenis. Ada helm yang biasa aja, ada helm yang nggak pakai kaca, ada helm yang sampai dilukis-lukis ria, dan ada juga helm khusus untuk digunakan ketika balapan. Yang ingin dibahas di tulisan ini adalah helm motor biasa aja yang merupakan bonus saat beli motor.

Tiap pembelian motor, biasanya kita mendapatkan helm dengan model yang telah ditentukan oleh perusahaannya. Model setiap helm juga berbeda, tiap-tiap perusahaan punya desainnya sendiri. Saya nggak menulis helm untuk balapan karena ya, yang menggeluti profesi balapan nggak sebanyak pengendara biasa di jalanan. Helm yang begini juga kan sering dipakai oleh yang bukan profesi pembalap tapi sering ngide buat kebut-kebutan di jalan.

Balik lagi ke helm bonus ini. Dari ragam desain, mungkin untuk beberapa perusahaan tertentu memberikan desain helm motor yang kurang menarik. Honda misalnya. Dulu, setelah diberi motor Revo 110 cc yang bagi saya motor terbaik itu, saya dapat helm warna hitam dengan kaca yang juga hitam. Minusnya adalah pada size-nya yang kebesaran dan juga dari kacanya.

Berhubung nggak bisa request ukuran helm, ya sudah tidak apa-apa. Akan tetapi, untuk kaca sebenarnya bisa diakali. Kaca itu bisa diganti dan beli kaca yang harganya nggak mahal-mahal banget. Selain itu, kalaupun memang nggak mau pakai kaca, boleh saja. Tinggal pakai saja kacamata, dan udah, selesai urusan.

Terkait modelnya yang biasa aja, biasanya sih nggak ada yang terlalu peduli. Namun, ketika saya lihat teman-teman yang sering memakainya, kaca depan dari helm itu biasanya dibuka. Dan hasilnya jadi ala-ala helm bogo gitu. Masih bagus dan masih cocok buat dipakai ke mana-mana. Kalaupun malu, tinggal pakai buff plus kacamata. Dan saya lihat, masih  bagus-bagus aja tuh ketika dipakai.

Kalau memang belum puas, ya sudah. Helm bonus ini kan gratis. Jadi, jika mau diapa-apain juga terserah. Kalau memang nggak cocok sama warnanya, tinggal bawa saja ke tempat pengecatan. Di mana pun itu. Setelahnya, tinggal pilih mau digambar apa, desainnya mau gimana, warnanya mau pakai apa, motifnya gimana, dll. Hasilnya, saat saya lihat punya teman, nggak buruk-buruk amat dan katanya juga nggak butuh keluar uang terlalu banyak.

Atau jika mengecatnya ulang masih terlalu mahal, bisa juga pakai stiker yang harganya seribuan. Terserah, pokoknya stiker. Bisa beli di abang-abang pinggir jalan atau sekalian pesan ke tempat stiker langganan. Setelahnya, tinggal ditata saja dan helm penuh stiker pun siap dipakai dan diperlihatkan di jalanan.

Bebas untuk meng-custom helm ini pun merupakan kelebihannya. Coba saja lihat orang yang pakai helm motor agak mahal, pasti jarang banget helmnya di apa-apain. Nggak ada gambar, nggak ada stiker, dan jarang di-custom. Mungkin ya, gara-gara harganya yang udah mahal. Jadi, sayang aja kalau diubah.

Selain alasan di atas, kita juga nggak perlu khawatir tentang daya tahan helm ini. Secara, yang bikin, kan, pabrikan. Pasti ada quality control atas produk-produknya walaupun cuma helm bonus. Ada juga standar-standar yang mesti dipenuhi. Kayaknya, sih, untuk helm bonus ini, sudah ada logo SNI di belakangnya. Jadi aman.

Selain itu, masalah keamanan. Maksudnya keamanan dari para pencuri helm yang kadang beroperasi secara tidak terduga. Kalau pakai helm bonus  ini, kita nggak perlu khawatir bakal dicuri. Mau diambil ya monggo-monggo saja. Tapi kayaknya, sih, maling juga bakal pilih-pilih. Apa iya maling bakal memilih helm motor yang biasa aja? Kalau dijual, kan, nggak bakal mahal.

Kalaupun untuk dipakai sendiri oleh si maling, kan nggak enak juga. Ada bekas bau dari kepala pemilik helm aslinya. Mau dicuci, ya buat apa wong helmnya biasa aja, kok. Mau bikin dosa dari mencuri, eh, yang dicuri cuma helm biasa. Nggak cocok dan nggak sesuai dengan risikonya. Pasti para maling akan memilih helm motor yang bagus dan mahal di pasaran, kan?

Lantaran alasan ini juga, kita nggak perlu repot bawa helm ke sana kemari. Pasalnya helm bagus dan mahal, kan, ia harus dititipin biar aman. Udah gitu, kadang ditarik biaya lagi. Kan, eman. Biaya untuk helmnya bisa buat hal-hal lain.

Maka dari itu, dengan ini saya memutuskan bahwa helm motor terbaik adalah helm bonus hasil beli kendaraan. Bagaimana, setuju?

BACA JUGA Siapa yang Berani Ngatain Helm Honda? Sini, Maju! dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
3


Komentar

Comments are closed.