Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Semprotulation, Budaya Bodoh yang Menyusahkan Mahasiswa dengan Ekonomi Pas-pasan

Titah Gusti Prasasti oleh Titah Gusti Prasasti
25 Februari 2024
A A
Semprotulation, Budaya Bodoh yang Menyusahkan Mahasiswa dengan Ekonomi Pas-pasan ujian skripsi sempro

Semprotulation, Budaya Bodoh yang Menyusahkan Mahasiswa dengan Ekonomi Pas-pasan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Semprotulation memang saya bisa bilang (lumayan) penting, tapi, lupakah kalian kalau kita masih harus menghadapi bos terakhir, yaitu ujian skripsi?

Akhir 2022 lalu, saya termasuk dalam daftar mahasiswa yang melakukan seminar proposal (sempro) di gelombang pertama. Tentu saja, saat itu antusiasme teman-teman satu angkatan saya cukup tinggi. Itulah mengapa banyak di antara mereka yang saling tanya jadwal, lalu berjanji akan datang saat selesai ujian. Tujuannya simpel, mengucapkan selamat, kasih hadiah, dan foto-foto.

ADVERTISEMENT

Entah dari mana dan kapan mulanya, sekarang ini, selebrasi semprotulation semacam jadi kegiatan yang wajib dilakukan mahasiswa. Menurut saya, sebenarnya, alasan utamanya tidak lain dan tidak bukan hanyalah demi gengsi semata. Berfoto sambil menenteng beberapa hadiah dari teman sudah wajib hukumnya. Tidak lupa, saling mention di Instagram juga tidak boleh ketinggalan.

Dulu, saya sempat punya prinsip kuat untuk tidak melakukan selebrasi apa pun selepas sempro. Keputusan ini tentu bukan tanpa sebab. Apalagi, kampus saya, IAIN Ponorogo, punya mekanisme sempro yang cukup unik. Pelaksanaannya dilakukan dengan tanya jawab, bahkan ujiannya bisa diselenggarakan secara terpisah oleh dua penguji. Kemudian, ada kemungkinan judul maupun isi dirombak total atas rekomendasi dosen penguji. Lepas itu, masih harus pula mengerjakan skripsi yang tentu lebih sulit lagi. Atas dasar itulah, saya merasa belum layak menyambut sempro dengan perayaan riuh.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akan semprotulation juga

Namun, nyatanya idealisme itu luntur juga. Beberapa teman dekat saya sepakat untuk datang, dan saya tak kuasa menolaknya. Mau tak mau, saya hanyut juga dalam aliran tren semprotulation. Alhasil, hari itu saya mendapat cukup banyak ucapan dan mention-an di Instagram, pun beberapa hadiah yang menurut saya tidak sedikit. Kalau dilihat-lihat, cukup untuk memenuhi stok jajan saya sebulan ke depan.

Ah, memang, selebrasi semprotulation juga tidak buruk-buruk amat. Bahkan, itu sedikit jadi tanda bahwa beberapa orang masih peduli dengan saya. Namun, setelah dipikir-pikir, ternyata hal yang cukup merepotkan justru datang setelah perayaan itu usai. Ya, satu per satu teman yang mengucapkan atau memberi hadiah akan sempro juga. Dan, saya harus membalas kebaikan mereka.

Meski sejak awal tidak ada yang menuntut untuk mengembalikan hadiah-hadiah itu, saya cukup yakin sebagian besar dari mereka mengharapkan balasan yang sama. Hal ini diperkuat dengan budaya kita yang seringkali mengembalikan sesuatu senilai dengan apa yang kita terima. Apalagi, sebagai orang yang tumbuh dan besar di tengah masyarakat Jawa, perasaan pakewuh (baca: sungkan) mengalir kental di darah saya. Nah, di sini perasaan dilema muncul.

Sebagai mahasiswa rantau, saya menaksir bahwa uang bulanan saya tidak banyak-banyak amat. Ya, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan ini-itu dan sesekali pergi ngopi di warung murah sekitar kampus. Tapi, sedikit berat jika harus dikeluarkan untuk beli hal-hal yang tidak saya gunakan dalam nominal yang cukup besar, beli bucket snack, misalnya.

Baca Juga:

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

Mari berhitung

Mungkin sebelum menghakimi bahwa saya pelit, kita bisa hitung-hitung dulu. Anggap saja, saat saya sempro, ada 10 orang yang memberikan hadiah pada saya. Jika satu bucket snack bisa didapatkan dengan harga Rp35 ribu, praktis saya harus menghabiskan Rp350 ribu untuk mengembalikan hadiah pada 10 teman tersebut. Nominal yang sama bisa saya gunakan untuk makan selama 2 minggu lebih. Atau, membayar separuh lebih uang bulanan kos saya. Agak sayang, bukan?

Memang betul, berteman tidak seharusnya hitung-hitungan. Tapi, jujur, untuk ini, saya sedikit keberatan. Meski telanjur kecemplung, saya akhirnya sadar selebrasi semprotulation memang berlebihan. Mengingat lagi bahwa sempro bukanlah pencapaian akhir kita sebagai mahasiswa. Ibarat bermain game, selesai sempro sama halnya menang di level satu. Artinya, masih ada bos monster (baca: ujian skripsi) yang harus dihadapi nanti sebelum benar-benar menang.

Perayaan yang harus dibayar dengan cukup mahal itu pun nantinya hanya akan jadi euforia sesaat. Sedetik setelah kalian kembali ke kamar kos yang sepi, pasti sirna pula selebrasi sempro tadi. Yang ada hanyalah kamu dan setumpuk revisi yang menuntut untuk dikerjakan sesegera mungkin. Ya, itu juga kalau kalian ingin cepat lulus, sih.

Saya secara pribadi berharap, para mahasiswa benar-benar berpikir dulu sebelum ikut dan “melibatkan” teman-temannya pada perayaan seperti ini. Sebab, tampaknya tak sedikit pula mahasiswa yang “terpaksa” mengikuti arus demi tetap eksis dan dianggap di circle mereka. Masa iya, selebrasi sempro yang tidak wajib itu harus ditebus dengan puasa berhari-hari?

Dan tentunya kalian juga tahu kan kalau ujian skripsi itu mahal? Apakah kalian rela puasa demi hal-hal nggak esensial? Aku sih, prei.

Penulis: Titah Gusti Prasasti
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Emang Ngasih Ucapan Happy Semprotulation itu Penting?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2024 oleh

Tags: BudayaMahasiswapemborosansemprotulationujian skripsi
Titah Gusti Prasasti

Titah Gusti Prasasti

Manusia yang tengah sibuk mencari kesibukan.

ArtikelTerkait

Surat Terbuka untuk Ormek: Cari Kader Memang Perlu, tapi Tolong Kemampuan Diri juga Diperhatikan

Surat Terbuka untuk Ormek: Cari Kader Memang Perlu, tapi Tolong Kemampuan Diri Juga Diperhatikan

2 November 2023
Skripsi Molor Bukan Sepenuhnya Salah Mahasiswa, Dosen Juga Terlibat kesalahan dosen terminal mojok.co

Derasnya Polemik Jual Beli Skripsi yang Awet Terus, Payung Hukum ke Mana?

28 Oktober 2019
introvert ingin berteman

Percayalah, Kami Para Introvert Juga Ingin Berteman

20 Mei 2019
4 Bahan Makanan yang Cocok dengan Lidah Orang Jawa

Semua Makanan di Unnes Murah, Jadi Nggak Perlu Ada Rekomendasi

28 September 2020
Jam Kuliah Kosong Adalah Bencana bagi Mahasiswa, Jangan Senang Dulu

Jam Kuliah Kosong Adalah Bencana bagi Mahasiswa, Jangan Senang Dulu

26 September 2025
Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental 'Ah Gampang, Bisa Diatur'

Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental ‘Ah Gampang, Bisa Diatur’

5 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads Mojok.co

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads

3 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.