Derasnya Polemik Jual Beli Skripsi yang Awet Terus, Payung Hukum ke Mana? – Terminal Mojok

Derasnya Polemik Jual Beli Skripsi yang Awet Terus, Payung Hukum ke Mana?

Skripsi yang digarap rata-rata menggunakan metode kuantitatif. Karena tidak perlu ribet cari data pustaka, menciptakan argumen, dan interview yang banyak.

Artikel

Avatar

Esensi skripsi sebagai maha karya otentik intelektualitas seorang sarjana sudah tidak se-wow itu lagi. Skripsi seperti sudah dianggap sesuatu yang dapat diukur dengan jari kelingking saja oleh sebagian orang.

Sejak bertahun-tahun lalu, jual beli tugas akhir ini telah menjadi rahasia publik. Rahasia yang telah gagal menjadi sebuah rahasia, tapi tetap saja ini dikatakan rahasia. “Ssst, jangan bilang siapa-siapa ya, kalau saya beli atau jual skripsi. Ini rahasia,” begitu kiranya.

Lah gimana mau jadi rahasia? Wong pamflet-pamflet info jual skripsi beserta nomor teleponnya aja terpampang jelas di tiang traffic light–yang lampu merahnya bermenit-menit itu.

Saya tidak akan membahas apa itu skripsi dan bagaimana keluh-kesah-resah-gelisah-gundah-gulananya mahasiswa pengabdi tugas akhir. Segala bentuk macam drama (yang itu-itu aja) seakan sudah menjadi hal wajib yang dialami oleh pejuang tugas akhir.

Orang tua yang menuntut anak segera lulus dan tidak mau tahu drama apa yang terjadi selama proses skripsi, ini yang akan menjadikan mereka menghalalkan segala cara. Seperti: asal comat-comot kalimat tanpa referensi yang jelas, plagiarisme, hingga pakai jasa penjual skripsi.

Kesulitan dan drama yang–normal–dihadapi oleh mahasiswa akhir ini, akhirnya dilirik oleh oknum yang akhirnya mencari penghasilan dari permasalahan tersebut. Alih-alih motif ingin membantu orang lain, menjual jasa skripsi juga digunakan sebagai peluang usaha ekonomi bagi mereka yang (mungkin) mahir dalam penulisan ilmiah. Eh, atau jangan-jangan juga yang jual jasa itu asal salin tempel aja? Hayoloh~

Salah satu rekan tim investigasi kami saat itu menemui pelaku penkontribusian jual beli skripsi ini di salah satu warung kopi daerah Sorowajan, Jogja. Sering kali warung kopi dipilih sebagai tempat bertemu keduanya. Dari pertemuan itu, kami mengulik sedikit informasi dari si penjual skripsi.

Baca Juga:  Balada Anak Magang di Perkantoran

Skripsi yang digarapnya rata-rata menggunakan metode penelitian kuantitatif. Tidak menyebutkan alasan-alasannnya. Tapi saya pikir mengapa penelitian kuantitatif yang dipilih? Karena tidak perlu susah payah mencari data pustaka, menciptakan argumen, dan interview yang banyak. Kuantitatif hanya membutuhkan kuisioner untuk disebarkan kepada narasumber yang bersangkutan dengan data, kemudian diolah. Iya kalau diisi sesuai kebenaran, kalau cuma asal centang-centang?

Pada pertemuan ini juga si X buka-bukaan masalah tarif yang dipasang. Katanya, Rp500 ribu untuk penulisan makalah dan tugas-tugas kuliah. Kemudian Rp1,5 juta untuk tipe penulisan tata bahasa dan pemilihan teori. Bahkan tembus sampai Rp2,5 juta untuk pengerjaan tugas akhir secara penuh. Bisa juga lebih dari itu jika si pembeli jasa meminta lebih detail untuk pengerjaannya.

Btw, kok mereka yang beli skripsi itu pada yakin sih, kalau tugas akhirnya bakal diterima? Pastinya karena para pembeli yakin kalau penjual skripsi sudah mahir dalam penulisan ilmiah. Padahal juga nggak tahu itu mereka bikinnya pada bener-bener atau cuma ngasal.

Kalau orang yang bener-bener pinter, pastinya ya nggak mau ngelakuin yang ilegal lah. Tapi gimana ya Buk, orang sekarang mah kalau BU alias Butuh Uang apa pun juga bakal dilakuin. Tapi mbok ya, kalau jadi orang pinter itu jangan membodohi orang lain. Kalau ada yang mengelak (lagi), kan biar ilmunya manfaat makanya digunain buat bantu orang lain. Iya nggak gitu juga kali caranya, Qaqa~

Sudah menjadi rahasia publik, tapi kok belum ada payung hukum? Lalu kapan pendidikan Indonesia maju? Padahal polemik ini sudah terpampang di mana-mana. Pamfletnya juga blak-blakan terpampang nyata di jalanan. Masa iya dosen-dosen, civitas akademika kampus, aparat pemerintah nggak ada yang tahu? Jelas pasti tahu lah. Cuma nggak peduli aja. Atau mungkin ini masih dianggap masalah sepele?

Baca Juga:  Sejak Kapan Rokok Punya Gender?

Mbok ya diberantas sekalian gitu. Misalnya, pasang intel lebih banyak buat nyamar jadi mahasiswa tingkat akhir, terus disidak bareng-bareng gitu. Kan asyik. Buat pihak perguruan tinggi juga seharusnya lebih memperketat lagi dalam pengecekan hasil tugas akhir mahasiswa. Ayolah Pak, Buk, lebih galak lagi kebijakannya. Mau apa kalau mereka terus-terusan terlena dalam kemalasan dan kebodohan?

Banyak dosen yang mengatakan, “Kalau ada yang ketahuan pakai jasa beli skripsi, nanti laporkan ke kami.” Mana ada yang ngaku? Teman yang jelas sudah tahu pun belum tentu berani memberitahukan ke pihak kampus. Jaga privasi teman, misalnya. Atau ada juga yang nggak tega ngelaporin.

Untuk mencapai pendidikan Indonesia lebih baik, hal yang masih dianggap ringan nan sepele semacam ini seharusnya ditindaklanjuti. Katanya misi Indonesia adalah mencerdaskan anak bangsa? Tapi, kok?

BACA JUGA Kenapa Sih Laptop Hilang Sering Dialami Mahasiswa yang Lagi Skripsi atau artikel Lulu Erzed lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
488 kali dilihat

10

Komentar

Comments are closed.