Sebelum Endorse, Sebaiknya Pengusaha Kuliner Beresin Dulu Rasa Makanannya

Artikel

Atanasius Rony Fernandez

Pernahkah kamu tertarik dengan satu menu makanan karena beberapa pesohor atau selebgram mengomentari bahwa makanan itu sangat enak? Namun, setelah mencobanya, ternyata rasa makanan itu kacau balau, menerbitkan rasa ingin muntah dan bikin dirimu terus mengumpat setelah makan?

Iya, saya pernah, di antara kita juga pasti pernah merasakan itu. Biasanya usaha kuliner yang baru buka akan memakai jasa endorse banyak selebgram atau influencer. Jasa yang mereka sewa beragam, baik selebgram yang fokus di bidang kuliner atau selebgram serba bisa—maksudnya siap menerima endorse apa saja.

Seperti kita tahu, para selebgram itu tentu saja akan mendeskripsikan makanan endorse dengan cara paling baik dan paling mungkin memancing pemirsanya agar tertarik. Bagi sebagian selebgram akan menggunakan template mengulas makanan seperti yang viral belakangan ini: “Seenak itu,” atau “nggak ngerti lagi,” atau “mo meninggal,” dan frasa-frasa sejenis lainnya.

Sebagai netizen yang kadang latah pada sesuatu yang sedang jadi tren, termasuk dalam kuliner, saya mudah terpancing dengan ulasan selebgram itu. Terutama yang datang dari selebgram kuliner. Saya memercayai ulasan mereka, semata-mata karena menganggap pengalaman mereka bisa menjadi referensi yang tepat. Namun nyatanya, tidak bisa dipercaya begitu saja. Ulasan selebgram kalau sedang endorse ya sama saja, sudah barang tentu memuaskan klien mereka.

Tentu saja tidak semua usaha kuliner yang memakai jasa endorse banyak selebgram sudah otomatis rasanya tidak sesuai dengan apa yang dideskripsikan. Banyak juga yang rasanya memang enak, bahkan melebihi ekspektasi saya.

Rasa makanan memang menjadi kunci dari usaha kuliner. Usaha makanan yang baru tumbuh dan memiliki rasa yang enak, tetap saja jadi buruan banyak orang. Sedangkan, usaha kuliner yang rasanya biasa saja atau tidak menawarkan hal spesial, terpaksa gulung tikar karena sepi pembeli. Ini banyak terjadi di kota saya.

Baca Juga:  Bukan Kambing Guling, Makanan Khas Pesta Pernikahan di Lombok Justru Berbahan Batang Pisang

Nah, selama masa pandemi Covid-19 ini, dengan dampaknya ke segala bidang termasuk pemutusan hubungan kerja di banyak perusahan, bikin banyak orang mulai beralih usaha dengan berjualan makanan. Di lingkaran pertemanan saya saja cukup banyak yang mulai beralih berjualan makanan, mulai dari yang dibikin sendiri atau menjadi re seller kuliner. Selain itu mulai berjamur juga usaha kuliner skala cukup besar yang mulai dibuka. Maklum, karena usaha kuliner lagi hits belakangan ini.

Sebagai penggila makanan dan suka berwisata kuliner, saya hanya ingin menyarankan ke siapa saja yang baru merintis usaha kulinernya. Sebaiknya beresin dulu rasa makanan, bikin yang seenak mungkin. Jika itu makanan yang sedang hits, buatlah rasa makanan itu melebihi rasa makanan sejenis. Jika ingin membuat menu baru, bikinlah yang membekas di lidah dan benak orang.

Jika sudah benar-benar mantap untuk dijual, barulah mulai menggunakan berbagai cara untuk promosi. Pandai melihat peluang pasar adalah kuncinya. Namun yang paling utama adalah rasa makanan.

Hal itu penting, karena dampak endorse-an  kadang ibarat pisau bermata dua. Biasanya usaha kuliner itu akan sangat ramai beberapa saat ketika selebgram baru saja mempublikasikan makanan dari tempat usaha itu. Kalau makanannya enak, bisa memancing banyak konsumen baru. Jika makananya tidak enak atau tidak sesuai harapan banyak orang, perlahan akan ditinggalkan. Orang datang hanya menuntaskan rasa penasarannya saja. Kemudian tidak akan pernah datang lagi karena merasakan kekecewaan yang berlebih. Hal ini sangat berbahaya dalam jenis usaha apapun.

Ungkapan lidah tidak pernah bohong memang layak dipegang dalam usaha kuliner. Banyak contoh usaha kuliner yang tidak perlu susah payah beriklan, mengendorse, atau memasang baliho, tapi pembelinya selalu ramai. Bahkan banyak juga yang lokasinya terpelosok, tapi malah ramai jadi buruan orang banyak dari berbagai daerah.

Baca Juga:  Mengapa Burger Tidak Sehat Padahal Bahan-bahannya Sehat Semua?

Contoh nyatanya salah satu kuliner legendaris di Lombok, yaitu Nasi Balap Puyung Inaq Esun. Lokasinya di dalam gang sempit di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Plang namanya bahkan sering kali tidak terlihat dari jalan besar. Namun karena rasanya yang enak dan khas lidah orang Lombok yang menyukai pedas, Nasi Balap Puyung Inaq Esun tetap ramai pengunjung dan menjadi buah bibir wisatawan. Meskipun banyak usaha yang ikut bikin jenis kuliner sejenis, tapi orang akan selalu mengingat Nasi Balap Puyung Inaq Esun adalah yang terenak.

Begitulah, iklan paling mujarab memang promosi jujur dari mulut ke mulut para konsumen yang terpuaskan karena nikmatnya makanan. Mengendorse tentu saja bukan hal tabu, dan sangat boleh dilakukan untuk mengenalkan usaha kuliner, asal dipersiapkan dengan matang dan siap dengan segala risiko.

BACA JUGA Derita Jadi Cowok Kurus: Pakai Fashion Apa pun Tetep Aja Nggak Keren! dan tulisan Atanasius Rony Fernandez lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
2


Komentar

Comments are closed.